Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #34

Separuh Kekuatan

Malam menekan ibu kota Umbra Veil dengan udara dingin yang membawa bau logam dari barak-barak militer. Hujan baru saja berhenti. Air masih menetes dari atap bangunan batu, jatuh ke jalan sempit dan membentuk lingkaran-lingkaran kecil di genangan yang memantulkan cahaya lampu mana. Di kejauhan, menara istana berdiri hitam di bawah langit tanpa bintang.

Valrick berjalan sendirian.

Mantel gelap menutupi seragam letnannya, tetapi lambang pangkat di bahu tetap terasa seperti benda asing yang menempel pada tubuhnya. Beberapa tahun lalu, ia berjalan di jalan yang sama dengan tanda kapten kavaleri di dadanya dan orang-orang menyingkir ketika melihatnya.

Sekarang tidak ada yang menyingkir.

Sebagian bahkan tidak mengenalinya.

Ia tidak mempercepat langkah.

Bangunan yang ditujunya berada di belakang distrik militer, tersembunyi di antara gudang persediaan yang sebagian besar sudah tidak digunakan. Pintu kayunya tidak memiliki penjaga. Hanya sebuah tanda kecil berbentuk garis diagonal yang terukir di tiang sebelah kiri.

Valrick berhenti.

Mengetuk dua kali.

Kemudian sekali.

Pintu terbuka.

"Masuk."

Ia melangkah ke dalam.

Ada empat orang di ruangan itu.

Dua masih mengenakan pakaian dinas. Seorang lainnya adalah mantan perwira yang telah meninggalkan tugas aktif beberapa tahun lalu. Yang terakhir mengenakan pakaian sipil sederhana, tetapi cara ia duduk dan cincin logam di jarinya menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.

Mereka semua mengenal Valrick.

Tidak seorang pun berdiri menyambutnya.

Itu justru membuat Valrick lebih nyaman.

Ia melepas mantel.

"Mulai."

Perwira tertua mengangkat alis.

"Langsung?"

"Kita tidak punya alasan untuk membuang waktu."

Ia duduk.

Beberapa detik berlalu sebelum salah satu perwira membuka suara.

"Kau yang meminta pertemuan ini."

"Benar."

"Kenapa?"

Valrick menatapnya.

"Dornhart mati."

Ruangan langsung menjadi sunyi.

Nama itu masih memiliki berat.

Bukan hanya karena orang yang menyandangnya pernah menjadi salah satu jenderal senior Umbra Veil, tetapi karena kematiannya terjadi ketika kerajaan sedang berada dalam keadaan yang seharusnya tidak memungkinkan seorang komandan seperti Dornhart jatuh begitu saja.

Valrick menyandarkan kedua tangannya di meja.

"Berapa lama lagi kita akan menyebutnya sekadar kehilangan seorang jenderal?"

Tidak ada jawaban.

"Berapa lama kita akan mengatakan bahwa dia gagal membaca keadaan? Bahwa dia membuat keputusan yang salah? Bahwa musuhnya lebih kuat?"

Salah seorang perwira menunduk.

Valrick melanjutkan.

"Semua itu mungkin benar."

Ia berhenti.

"Tapi itu bukan seluruh masalah."

--o--

Pertemuan berlanjut dengan suara yang semakin rendah.

Valrick tidak membawa dokumen rahasia.

Tidak membawa daftar pasukan.

Tidak membawa rencana penyerangan.

Ia hanya membawa satu hal yang jauh lebih mudah dibicarakan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Kekecewaan.

Ia berbicara tentang bagaimana struktur komando Umbra Veil berubah.

Tentang keputusan yang semakin banyak dibuat dari meja administrasi dan diplomasi.

Tentang militer yang harus menunggu sementara kerajaan lain mulai mendapatkan ruang untuk menentukan syarat.

"Solmaria bahkan sekarang berani meminta akses."

Valrick menunjuk peta kecil yang terbentang di meja.

"Dan kerajaan kita menjawab dengan perjanjian."

"Itu diplomasi," kata seorang perwira.

"Ya."

Valrick mengangguk.

"Diplomasi."

Ia tidak menyanggah.

"Tapi kalau setiap masalah militer diselesaikan dengan membuat militer semakin tidak punya ruang bergerak, lalu untuk apa kita memiliki kekuatan sebesar ini?"

Seseorang menghela napas.

"Jangan bicara seolah kita kalah perang."

"Aku tidak bilang kalah perang."

Valrick menatapnya.

"Aku bilang kita mulai kalah dalam menentukan bagaimana kerajaan lain melihat kita."

Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang.

Valrick tahu ia telah menyentuh bagian yang tepat.

Para perwira tidak selalu peduli pada politik.

Tetapi mereka peduli pada wibawa.

Mereka telah dilatih untuk percaya bahwa Umbra Veil tidak boleh terlihat ragu ketika berhadapan dengan kerajaan lain.

Sekarang, terlalu banyak keputusan yang membuat mereka merasa sebaliknya.

"Dornhart bukan sekadar korban," kata Valrick.

"Dia bukti."

Perwira di sebelahnya mengangkat kepala.

"Bukti apa?"

"Bahwa sistem komando kita tidak lagi mampu menjamin bahwa kekuatan yang kita miliki dapat digunakan pada saat yang diperlukan."

Tidak ada yang langsung membantah.

Valrick tidak tersenyum.

Ia justru menurunkan suaranya.

"Dan kalau sistemnya bermasalah, mengganti orang di bawahnya tidak akan cukup."

--o--

Pertemuan kedua berlangsung beberapa malam kemudian.

Tempatnya berbeda.

Sebuah ruangan kecil di belakang kedai tua yang sudah tutup sejak petang. Bau kayu basah dan rempah masih melekat di udara. Hanya tiga orang yang datang.

Valrick sengaja mengurangi jumlah.

Ia tidak ingin membangun kelompok terlalu cepat.

Ia ingin tahu siapa yang benar-benar bersedia berdiri ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Seorang perwira yang pernah bertugas bersamanya ketika masih menjadi kapten duduk dengan kedua tangan terlipat.

"Apa yang sebenarnya kau cari?"

Valrick tidak langsung menjawab.

"Pendapat."

"Kau sudah tahu pendapatku."

"Aku ingin mendengarnya lagi."

Pria itu menatapnya tajam.

"Aku tidak suka bagaimana istana menangani militer."

"Kenapa?"

"Karena terlalu banyak keputusan dibuat oleh orang yang tidak pernah berada di medan."

Valrick mengangguk.

"Yang lain?"

Perwira kedua berbicara.

"Pasukan kita bertambah setelah Hari Persembahan Matahari. Barak penuh lagi. Tetapi tidak berarti masalah kita selesai."

Valrick memandangnya.

"Jelaskan."

"Jumlah orang bukan struktur."

Kalimat itu sederhana.

Namun tepat.

Valrick menyandarkan punggung.

"Benar."

Lihat selengkapnya