Pagi tidak pernah benar-benar mencapai tempat itu.
Jauh di bawah tanah Solmaria, cahaya matahari hanya tinggal kenangan yang dibawa turun melalui lentera kristal dan lampu mana yang dipasang di sepanjang jalur aman. Udara terasa dingin, basah, dan terlalu tua untuk disentuh manusia. Tetesan air jatuh dari langit-langit batu dengan irama teratur, memukul genangan kecil di antara ubin yang retak. Setiap suara terdengar lebih jauh daripada seharusnya, seolah-olah lorong-lorong itu menelan bunyi sebelum mengembalikannya dalam gema yang asing.
Kepala ekspedisi berhenti di depan persimpangan tiga arah.
Di tangannya terdapat dua lembar peta yang dibuat pada waktu berbeda.
Salah satunya berasal dari ekspedisi dua minggu sebelumnya. Garis-garis hitam memenuhi hampir seluruh permukaan kertas, beberapa dicoret, beberapa diberi tanda silang merah. Peta kedua dibuat pagi itu berdasarkan pengukuran kelompok yang masuk lebih awal.
Keduanya tampak tidak cocok.
Namun hanya pada pandangan pertama.
"Ukur lagi."
Seorang pemeta muda berlutut dan menempelkan alat pengukur kristal pada lantai. Kristal kecil di dalam bingkai logam berputar perlahan, kemudian berhenti pada sudut tertentu.
"Sudutnya sama."
"Kau yakin?"
"Selisih kurang dari dua derajat."
Kepala ekspedisi mengambil peta kedua dan membentangkannya di dinding.
"Kalau begitu lorong ini..."
Ia menunjuk cabang di sebelah kanan.
"...bukan berhenti di sana."
Pemeta itu mengikuti ujung jarinya.
"Di peta lama, lorongnya buntu."
"Karena kita belum pernah mencapai bagian bawahnya."
Prajurit pengawal yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka mengangkat lampu sedikit lebih tinggi. Cahaya kekuningan menyapu lorong yang tampak seperti jalan mati. Dindingnya tertutup lapisan batu tua, sebagian pecah, sebagian tertutup endapan mineral. Tidak ada pintu. Tidak ada celah yang terlihat.
Hanya dinding.
Tetapi pengalaman beberapa ekspedisi terakhir telah mengajarkan mereka bahwa katakombe ini tidak pernah sesederhana apa yang tampak di permukaan.
Kepala ekspedisi melipat peta.
"Jangan buka jalan dengan paksa."
Seorang prajurit mengerutkan kening.
"Kalau memang ada ruang di belakangnya?"
"Kalau memang ada, kita akan menemukannya tanpa menghancurkan apa yang tidak kita pahami."
Tidak ada yang membantah.
Mereka telah kehilangan terlalu banyak orang karena menganggap batu tua sebagai benda mati.
--o--
Tiga jam kemudian, dugaan itu terbukti.
Bukan melalui pintu.
Melainkan melalui lantai.
Kelompok pemeta menemukan sebuah rongga ketika salah satu batang pengukur mereka menembus lapisan batu yang tampak padat. Setelah membersihkan permukaannya sedikit demi sedikit, mereka menemukan celah sempit yang mengarah turun.
Lorong lama ternyata memiliki tingkat kedua.
Dan tingkat kedua itu tidak tercatat pada peta mana pun.
"Berapa dalam?"
"Belum tahu."
"Jangan turun."
Kepala ekspedisi datang beberapa saat kemudian dan langsung berjongkok di tepi celah. Ia menyalakan lampu mana kecil lalu menjatuhkannya.
Cahaya itu turun.
Lima meter.
Sepuluh.
Kemudian lenyap di tikungan.
Ia menunggu suara pecahan.
Tidak ada.
"Pasang tali."
Dua prajurit segera bekerja. Tali pengaman dikaitkan pada pasak logam yang ditanam ke batu. Kelompok pertama turun perlahan, satu demi satu. Tidak ada yang berbicara selama proses itu.
Setelah korban terakhir pada ekspedisi sebelumnya, prosedur mereka berubah.
Tidak ada lagi satu kelompok yang bergerak terlalu jauh tanpa jalur mundur.
Tidak ada lagi peneliti yang memeriksa simbol sambil berjalan tanpa pengawal di depan.
Tidak ada lagi asumsi bahwa makam kuno berarti tempat yang sudah kehilangan semua ancamannya.
Begitu mencapai dasar, mereka menemukan lorong sempit dengan dinding yang dipahat jauh lebih rapi dibanding bagian atas.
Seorang peneliti menyentuhkan sarung tangan ke permukaan batu.
"Ini bukan jalur pemakaman biasa."
"Kenapa?"
"Ukuran bloknya."
Ia menunjuk sambungan batu di dinding.
"Presisi seperti ini membutuhkan pekerjaan yang sangat berbeda. Bahkan di Solmaria modern, konstruksi semacam ini jarang."
Kepala ekspedisi menatapnya.
"Catat."
Pemeta di belakang mereka segera menulis.
Mereka berjalan.
Dua puluh meter.
Tiga puluh.
Empat puluh.
Kemudian lorong itu bercabang lagi.
Kali ini, mereka tidak memilih berdasarkan apa yang terlihat paling mudah.
Mereka membuka peta.
Menggabungkan koordinat.
Menghitung kembali jarak yang ditempuh kelompok-kelompok sebelumnya.
Satu garis dibuat dari titik tempat mereka berdiri.
Garis itu bertemu garis lain.
Kemudian garis ketiga.
Ketiganya membentuk satu pola yang membuat kepala ekspedisi tidak segera berbicara.
"Ini..."
Pemeta muda itu mendekat.
"Ya."
"Kalau perhitungan kita benar..."
"Cabang yang kita temukan tiga hari lalu terhubung dengan ini."
Kepala ekspedisi menggeleng perlahan.
"Bukan hanya itu."
Ia menarik peta lama.
"Yang ini juga."
Ujung jarinya berpindah ke jalur yang sebelumnya dianggap sebagai sistem makam terpisah.
"Dan yang ini."
Ia menambahkan jalur lain.
Semakin banyak mereka membandingkan data, semakin sedikit kemungkinan bahwa semua itu kebetulan.
Lorong-lorong yang selama berminggu-minggu mereka anggap sebagai sistem berbeda ternyata hanya bagian dari jaringan yang sama.
Jaringan itu memiliki kedalaman.
Dan arah.
"Berapa banyak yang sudah kita hubungkan?"
"Kalau berdasarkan data yang terverifikasi..."
Pemeta itu berhenti menghitung.
"Lebih dari separuh."
Kepala ekspedisi menatap garis-garis pada peta.
"Lebih dari separuh bukan jawaban."
"Delapan puluh tiga persen dari jalur yang sudah kita identifikasi."
Ia menatap pemeta itu.
"Delapan puluh tiga?"