Hujan turun tipis di atas ibu kota Solmaria ketika cahaya siang mulai kehilangan ketajamannya. Dari jendela tinggi ruang pemetaan, atap-atap batu tampak basah dan kelabu, sementara kabut tipis menggantung di antara menara-menara kota. Bau kertas lembap, lilin, dan tinta memenuhi ruangan. Di atas meja utama, peta wilayah Solmaria terbentang hampir selebar ruangan, tertindih batu pemberat pada keempat sudutnya agar tidak terlipat oleh udara dari jendela.
Garis-garis merah memenuhi permukaannya.
Begitu banyak hingga batas antara peta wilayah permukaan dan jaringan bawah tanah hampir tidak lagi terlihat.
Kepala ekspedisi berdiri di sisi meja dengan pakaian perjalanan yang masih menyisakan debu batu pada bagian bawah jubahnya. Dua peneliti membawa gulungan tambahan di belakangnya. Tidak seorang pun berbicara ketika pintu ruang pemetaan terbuka.
Rachlar masuk.
Tatapannya langsung jatuh pada peta.
Ia berhenti beberapa langkah dari meja.
"Berapa?"
Kepala ekspedisi menundukkan kepala.
"Sembilan puluh persen dari struktur utama yang telah berhasil dipetakan."
Rachlar tidak segera menjawab.
Sembilan puluh.
Angka itu terdengar seperti akhir.
Namun peta di hadapannya tidak terlihat seperti sesuatu yang hampir selesai.
Justru sebaliknya.
Solmaria seperti berdiri di atas sebuah dunia kedua yang baru saja mereka paksa untuk membuka sebagian kecil kulitnya.
"Jelaskan."
Kepala ekspedisi memberi isyarat kepada para pemeta.
Dua orang segera membuka gulungan pertama. Yang lain menggeser beberapa papan kayu yang sebelumnya menutupi bagian tengah meja. Di bawahnya terdapat lapisan peta yang lebih tua, hasil dari ekspedisi-ekspedisi terdahulu.
"Angka ini bukan berarti sembilan puluh persen dari seluruh lorong telah kami lewati secara fisik," kata kepala ekspedisi. "Ini merupakan estimasi berdasarkan struktur utama yang telah berhasil dihubungkan dan diverifikasi dari seluruh ekspedisi."
Rachlar mengangguk.
"Bagian yang belum?"
"Sepuluh persen yang belum dapat dipastikan."
"Karena belum ditemukan?"
"Sebagian ditemukan."
"Dan?"
"Belum dapat dimasuki."
Rachlar memandangnya.
"Jebakan?"
"Jebakan. Labirin. Makam yang struktur dalamnya belum dapat dibuka dengan aman. Ada pula beberapa bagian yang runtuh."
Salah seorang ahli arkeologi maju.
"Kami juga menemukan beberapa ruang yang secara struktur seharusnya memiliki hubungan dengan jalur utama, tetapi aksesnya tidak dapat ditentukan."
"Berapa banyak?"
"Terlalu banyak untuk dianggap sebagai anomali tunggal."
Rachlar menoleh kepada peta.
"Mulai dari awal."
--o--
Mereka menghabiskan hampir satu jam untuk menunjukkan apa yang selama berminggu-minggu hanya menjadi garis-garis di atas kertas.
Satu cabang berasal dari bawah wilayah utara.
Cabang lain muncul jauh di bawah kawasan timur.
Beberapa jalur yang awalnya diperkirakan sebagai makam terpisah ternyata bertemu pada kedalaman tertentu, lalu bercabang kembali.
Para pemeta menggunakan keping logam kecil untuk menandai titik-titik penghubung.
Setiap kali satu keping diletakkan, garis merah menjadi semakin jelas.
"Bagian ini ditemukan pada ekspedisi kedua."
Keping pertama.
"Bagian ini pada ekspedisi keenam."
Keping kedua.
"Yang ini pada ekspedisi kesembilan."
Ketiga.
Rachlar memperhatikan tanpa menyela.
Ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya hanya disebut sebagai kecenderungan.
Tidak semua jalur lurus.
Sebagian berbelok tajam.
Sebagian mengikuti bentuk tanah.
Namun setelah mereka mengabaikan percabangan kecil dan hanya mempertahankan jalur-jalur utama, pola itu muncul.
Hampir semuanya bergerak ke satu arah.
"Putar petanya."
Salah seorang pemeta terdiam.
"Yang Mulia?"
"Putar."
Mereka memutar peta besar itu.
Kini arah utara berada di sisi lain meja.
Garis-garis bawah tanah tampak lebih jelas.
Rachlar menunjuk satu jalur.
"Ini."
"Barat daya."
"Yang ini?"
"Barat daya."
"Ini?"
"Barat daya juga."
"Yang berasal dari kawasan timur?"
Peneliti membuka catatan.
"Barat daya."
Rachlar menatap jalur-jalur itu cukup lama.
"Dan semuanya berasal dari tempat berbeda."
"Ya."
"Jarak antar titik awalnya?"
"Beragam."
"Struktur permukaannya?"
"Berbeda."
"Jenis tanah?"
"Berbeda pula."
Rachlar mengangkat pandangan.
"Tapi arah utamanya sama."
Tidak ada yang menjawab.
Jawabannya sudah ada di atas meja.
Salah seorang ahli pemetaan menunjuk garis yang paling panjang.
"Kalau kita mengikuti jalur ini berdasarkan koordinat terakhir..."
Jarinya bergerak sepanjang garis merah.
"...ia semakin mendekati batas luar Solmaria."
Ia terus bergerak.
Melewati garis perbatasan.
Kemudian berhenti.
"Dan secara teoritis terus menuju wilayah Umbra Veil."
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Rachlar tidak mengubah ekspresi.
"Secara teoritis?"
"Kami belum mencapai titik tersebut."
"Jadi jangan sebut sebagai fakta."
"Baik, Yang Mulia."