Hujan telah berhenti ketika senja menekan kaca-kaca tinggi istana Solmaria. Air masih menetes dari ujung atap, jatuh ke halaman batu dengan bunyi kecil yang teratur. Langit di atas ibu kota berwarna kelabu tua, dan cahaya terakhir matahari hanya menyentuh puncak menara sebelum tenggelam di balik awan.
Di ruang kerja pribadi Rachlar, sebuah kotak kayu hitam diletakkan di atas meja.
Tidak ada lambang kerajaan pada tutupnya.
Hanya segel merah dari kepala ekspedisi.
Rachlar berdiri di hadapannya tanpa menyentuhnya selama beberapa saat.
Ia sudah mengetahui isinya.
Peta.
Catatan pengukuran.
Laporan korban.
Daftar jalur yang berhasil dihubungkan.
Dan bagian-bagian yang belum dapat dibuka.
Sembilan puluh persen.
Angka itu telah sampai kepadanya beberapa jam sebelumnya. Namun laporan lisan selalu memiliki satu kelemahan. Kata-kata dapat terdengar selesai bahkan ketika kenyataan belum.
Dokumen tidak.
Dokumen menyimpan keraguan di antara garis dan angka.
Rachlar akhirnya duduk.
Pisau kecil di samping tinta digunakan untuk memotong segel.
Tutup kotak terbuka.
Bau kertas tua dan tanah kering segera keluar.
Ia mengambil peta pertama.
Garis merah memenuhi permukaan kulit yang telah diproses menjadi lembaran tipis. Beberapa bagian diberi tanda hitam, menunjukkan jalur yang belum diverifikasi. Simbol kecil di pinggir peta menjelaskan lokasi jebakan, makam, keruntuhan, serta titik-titik tempat tim ekspedisi kehilangan orang.
Rachlar membaca semuanya.
Perlahan.
Tanpa melewati satu angka pun.
--o--
Malam belum turun sepenuhnya ketika penasihat kerajaan masuk.
Ia berhenti di ambang pintu setelah melihat peta yang terbuka.
"Yang Mulia."
Rachlar tidak mengangkat kepala.
"Masuk."
Penasihat itu mendekat.
"Apakah benar laporan terakhir sudah mencapai sembilan puluh persen?"
"Struktur utama."
"Berarti hampir selesai."
Rachlar menggeser satu lembar.
"Tidak."
Penasihat itu terdiam.
Rachlar menunjuk bagian peta yang kosong.
"Bagian ini belum dibuka."
Ia berpindah ke bagian lain.
"Ini juga."
Kemudian satu lagi.
"Dan jalur di sini belum dapat ditentukan."
Penasihat itu memandang keseluruhan peta.
"Tetapi sebagian besar sudah diketahui."
"Sebagian besar bukan seluruhnya."
"Yang Mulia, sembilan puluh persen sudah cukup untuk menunjukkan bahwa jaringan itu—"
"Menunjukkan apa?"
Pertanyaan itu membuat penasihat berhenti.
Rachlar mengangkat mata.
"Bahwa jaringan itu ada?"
"Ya."
"Bahwa jaringan itu besar?"
"Ya."
"Bahwa sebagian jalur bergerak ke arah Umbra Veil?"
Penasihat itu mengangguk.
"Ya."
"Dan setelah itu?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Rachlar kembali melihat peta.
"Setelah itu kita hanya memiliki pertanyaan."
Ia mengambil satu lembar laporan korban.
Tiga belas nama ditulis pada halaman tersebut.
Tiga belas orang yang tidak pulang dari bawah tanah.
"Ini bukan peta kemenangan," katanya pelan. "Ini catatan tentang apa yang belum kita mengerti."
Penasihat itu berdiri diam.
Rachlar membuka dokumen lain.
Laporan mengenai struktur makam.
Catatan tentang jebakan.
Pengukuran kedalaman.
Keterangan mengenai simbol-simbol yang belum dapat dibaca.
Semua memiliki pola yang sama.
Bukti ada.
Kesimpulan belum.
Dan justru di situlah nilai politiknya menjadi berbahaya.
--o--
Rachlar membuka laci paling bawah meja.
Di dalamnya tersimpan beberapa dokumen lama yang jarang disentuh.
Surat-surat diplomatik.
Salinan perjanjian.
Catatan pertemuan.
Laporan mengenai Umbra Veil.
Ia menarik satu bundel.
Kertas-kertas itu lebih tua daripada sebagian besar laporan katakombe.
Ada catatan tentang batas wilayah.
Ada laporan mengenai pergerakan pasukan.
Ada pembicaraan mengenai Kuil Helia.
Ada pula catatan yang berkaitan dengan perjanjian terbaru antara Solmaria dan Umbra Veil, termasuk batasan mengenai keberadaan pasukan Umbra Veil di wilayah Solmaria.
Rachlar meletakkan dokumen lama itu di samping peta baru.
Kontrasnya hampir mengganggu.
Dulu, hubungan kedua kerajaan dibangun melalui batas, pasukan, energi, dan izin.
Sekarang ada sesuatu di bawah tanah yang tampaknya tidak peduli pada batas tersebut.
Ia membuka salah satu surat lama.
Kalimat-kalimat diplomatik memenuhi halaman.
Bahasa yang sopan.
Pernyataan yang hati-hati.
Janji yang disusun dengan begitu banyak lapisan sehingga sulit mengetahui mana yang benar-benar dikatakan dan mana yang sengaja tidak dikatakan.
Rachlar membaca sampai selesai.