Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #39

Anak-Anak yang Ditarik ke Dalam Perang

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menempel di kaca jendela seperti sisa kabut. Di sebuah rumah kecil di pinggiran Solmaria, embun masih menggantung di ujung daun ketika suara ketukan terdengar tiga kali dari pintu depan.

Sang ibu sedang mengangkat panci dari tungku.

Ia menoleh.

Ketukan itu terdengar lagi.

"Sebentar."

Tangannya masih basah ketika ia membuka pintu.

Seorang kurir berdiri di luar dengan mantel perjalanan yang lembap. Di tangannya terdapat amplop putih dengan segel emas Helia.

Perempuan itu langsung berhenti.

"Untuk rumah ini?"

Kurir mengangguk.

"Untuk keluarga yang namanya tercantum di surat."

Ia menyerahkan amplop.

Jari perempuan itu gemetar ketika menerima.

Ia mengenali lambang tersebut.

Hari Persembahan Matahari.

Sudah beberapa hari sejak putranya berangkat bersama rombongan remaja lain menuju wilayah Umbra Veil. Sejak hari itu, rumah terasa terlalu besar. Sepatu anaknya masih berada di dekat pintu belakang. Selimutnya belum dilipat. Sebuah cangkir kayu yang biasa dipakainya masih terletak di rak.

Ia belum menyentuh apa pun.

Seolah-olah dengan membiarkan semuanya tetap pada tempatnya, kepulangan anaknya akan terasa lebih dekat.

Ia membuka surat.

Tulisan resmi memenuhi halaman.

Dengan ini disampaikan bahwa putra keluarga telah tiba dengan selamat di wilayah tujuan dan berada dalam keadaan sehat. Perjalanan berlangsung sesuai ketentuan persembahan. Ia akan menjalankan tugas pengabdian kepada Helia sesuai tata tertib yang telah ditetapkan.

Perempuan itu membaca kalimat berikutnya.

Pengabdian tersebut merupakan kehormatan bagi keluarga dan kesempatan bagi generasi muda untuk memberikan diri mereka bagi masa depan yang lebih baik.

Napasnya terlepas perlahan.

"Dia sehat..."

Suaminya keluar dari ruangan belakang.

"Apa?"

Ia menyerahkan surat.

Suaminya membacanya dalam diam.

"Selamat sampai."

"Iya."

"Sehat?"

"Iya."

Untuk pertama kalinya sejak keberangkatan itu, bahu perempuan tersebut turun sedikit.

Ia duduk di kursi.

Matanya kembali pada surat.

Ia tidak mengerti semua istilah resmi di dalamnya. Ada kata-kata mengenai tata tertib, pengabdian, pembinaan, dan tanggung jawab generasi muda. Tidak ada rincian mengenai kehidupan sehari-hari anaknya.

Tidak ada alamat.

Tidak ada jadwal kapan ia dapat pulang.

Tetapi surat itu mengatakan bahwa anaknya sehat.

Untuk sementara, itu cukup.

"Anak kita dipilih untuk sesuatu yang mulia," kata suaminya.

Perempuan itu mengangguk.

Ia menggenggam surat tersebut dengan kedua tangan.

"Semoga dia bisa membuat Helia bangga."

Di luar, seorang tetangga yang mendengar kabar itu ikut tersenyum.

"Berarti perjalanan kalian tidak sia-sia."

Tidak seorang pun bertanya apa yang sebenarnya dilakukan anak itu di sana.

Tidak seorang pun tahu.

Mereka hanya tahu bahwa ia telah dipersembahkan.

Dan bahwa ia masih hidup.

--o--

Pada waktu yang hampir sama, jauh di wilayah Umbra Veil, sebuah lonceng besi berbunyi sebelum matahari sepenuhnya naik.

Suara itu mengguncang kompleks barak.

Puluhan remaja yang baru beberapa hari tiba bergerak hampir bersamaan.

Sebagian masih tersandung karena belum terbiasa dengan lantai batu yang dingin.

Sebagian mencari sepatu.

Sebagian lain berdiri dengan pakaian latihan yang terasa asing di tubuh.

Tidak ada altar Helia di ruangan itu.

Tidak ada pendeta.

Tidak ada nyanyian persembahan.

Hanya deretan ranjang, lemari kayu, lantai batu, dan jendela sempit dengan jeruji besi.

"Bangun!"

Suara pelatih menggema.

"Baris di halaman dalam lima menit!"

Seorang anak laki-laki yang baru berusia enam belas tahun memasang sabuk dengan tangan gemetar.

Ia masih menyimpan pita putih dari upacara keberangkatan di dalam sakunya.

Ia tidak tahu kenapa ia membawanya.

Mungkin karena itu satu-satunya benda yang mengingatkannya pada rumah.

Mungkin karena sebelum berangkat, ibunya berkata agar ia menyimpannya sebagai tanda bahwa ia sedang menjalankan kehormatan keluarga.

Ia memasukkan pita itu lebih dalam.

Kemudian berlari keluar.

Halaman barak sudah dipenuhi anak-anak lain.

Mereka datang dari berbagai bagian Solmaria.

Ada yang dari kota.

Ada yang dari desa.

Ada yang terbiasa bekerja di ladang.

Ada yang belum pernah memegang pedang.

Namun pagi itu mereka berdiri dalam satu barisan.

Tidak ada yang dibedakan berdasarkan tempat asal.

Seorang pelatih berjalan di depan mereka.

"Nama."

Satu per satu mereka menjawab.

"Usia."

Mereka menjawab lagi.

"Tempat asal."

Jawaban kembali terdengar.

Kemudian pelatih berhenti.

"Kalian datang ke sini bukan untuk bermain."

Tidak ada yang bergerak.

"Mulai hari ini, kalian akan belajar disiplin, ketahanan, formasi, penggunaan senjata, dan tata tertib Umbra Veil."

Beberapa wajah berubah.

Seorang gadis mengangkat tangan.

"Apakah kami akan belajar untuk upacara Helia?"

Pelatih menatapnya.

"Sebagian dari kalian akan menjalankan tugas yang berkaitan dengan kebutuhan kerajaan."

"Tugas pengabdian?"

"Ya."

Jawaban itu terdengar cukup.

Gadis tersebut menurunkan tangan.

Pelatih melanjutkan.

Lihat selengkapnya