Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #40

Dewan yang Mulai Gelisah

Malam di ibu kota Umbra Veil tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampu mana mengalir dari menara ke menara, memantul pada batu hitam dinding istana dan membuat kota tampak seperti bara yang belum padam. Namun di lantai tertinggi bangunan Dewan Tertinggi, tidak ada satu pun cahaya dari luar yang dibiarkan masuk.

Jendela-jendela ruang rapat ditutup tirai tebal.

Pintu dikunci dari dalam.

Segel hitam terpasang pada ambang.

Di tengah ruangan berbentuk lingkaran, sebuah lampu kristal menggantung rendah di atas meja batu. Cahayanya putih pucat, cukup untuk menerangi sebelas kursi yang mengelilingi meja, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan bayangan di antara mereka.

Sepuluh anggota Dewan Tertinggi telah hadir.

Ketua Dewan duduk di ujung utara.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada juru tulis.

Hanya mereka.

Di hadapan Ketua Dewan terletak sebuah map tipis yang baru saja dibawa masuk melalui jalur administrasi khusus.

Ia tidak membukanya segera.

"Segel."

Seorang anggota di sebelah kanannya memeriksa lilin hitam pada map tersebut.

"Utuh."

Ketua Dewan mengangguk.

"Kalau begitu kita mulai."

Map dibuka.

Lembar pertama diletakkan di atas meja.

Tidak ada peta lengkap.

Hanya salinan perkembangan pemetaan Solmaria, angka kemajuan, dan beberapa koordinat yang telah dipisahkan dari dokumen utama.

Ketua Dewan membaca sebentar.

Kemudian mendorongnya ke tengah.

"Delapan puluh lima persen."

Tidak ada yang bicara.

Ia mengambil lembar berikutnya.

"Sembilan puluh."

Salah seorang anggota mengangkat mata.

"Sudah mencapai angka itu?"

"Beberapa hari terakhir."

"Seberapa dekat?"

Ketua Dewan tidak langsung menjawab.

Ia mengambil peta kecil yang telah disiapkan.

Bukan peta katakombe.

Peta wilayah Umbra Veil dan Solmaria.

Beberapa titik merah ditandai di sisi perbatasan.

"Jalur utama yang berhasil mereka hubungkan semakin konsisten."

Ia meletakkan penanda logam pada titik pertama.

"Kawasan utara."

Titik kedua.

"Kawasan timur."

Ketiga.

"Wilayah bawah kota."

Keempat.

"Dan cabang yang ditemukan paling akhir."

Ia menarik garis tipis dengan kapur.

Semuanya bergerak ke arah yang sama.

Barat daya.

Kemudian garis itu menyentuh batas.

Lalu terus sedikit melewatinya.

Ruangan menjadi lebih sunyi.

"Wilayah kita," kata seorang anggota.

Ketua Dewan mengangguk.

"Secara proyeksi."

"Proyeksi bukan bukti."

"Belum."

Anggota lain bersandar.

"Kalau begitu tidak ada masalah."

Beberapa kepala menoleh kepadanya.

Ia melanjutkan.

"Rachlar tidak memiliki bukti bahwa jaringan itu dibangun oleh kita. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa jaringan tersebut memiliki hubungan dengan pemerintahan Umbra Veil. Selama itu belum ada, Solmaria tidak memiliki dasar untuk menuntut penjelasan."

"Menuntut mungkin belum," jawab anggota di seberangnya. "Tetapi bertanya?"

"Pertanyaan tidak memiliki kekuatan hukum."

"Pertanyaan dari raja kepada raja tidak selalu membutuhkan hukum."

Kalimat itu membuat beberapa anggota diam.

Ketua Dewan menyandarkan punggung.

Ia tidak menyukai arah pembicaraan itu.

Bukan karena salah.

Justru karena terlalu benar.

--o--

"Yang mengkhawatirkan bukan apa yang bisa dibuktikan Rachlar hari ini."

Suara salah seorang anggota terdengar dari sisi meja.

"Yang mengkhawatirkan adalah apa yang akan ia temukan besok."

Tidak ada yang menjawab.

Ia mengambil salinan laporan.

"Delapan puluh lima persen. Lalu sembilan puluh. Setiap kali mereka masuk lebih dalam, mereka menghubungkan jalur yang sebelumnya dianggap terpisah."

Jarinya mengetuk meja.

"Kalau mereka mencapai seratus?"

Anggota pertama mengangkat bahu.

"Mereka tetap tidak dapat membaca simbol."

"Simbol bukan satu-satunya masalah."

Ia membuka lembar berikutnya.

"Struktur."

Ia menunjuk catatan arkeologi.

"Makam. Jalur pertahanan. Ruang penghubung. Konstruksi bawah tanah. Semakin banyak yang mereka lihat, semakin banyak pola yang dapat mereka bandingkan."

Ketua Dewan menatapnya.

"Dan?"

"Dan suatu hari nanti seseorang akan berhenti bertanya siapa yang membangun."

Ia berhenti.

"Lalu mulai bertanya mengapa."

Ruangan terasa lebih berat.

Seorang anggota lain tertawa pendek tanpa humor.

"Itu masih jauh."

"Benarkah?"

Lihat selengkapnya