Hujan turun tipis di atas ibu kota Umbra Veil, cukup ringan untuk tidak disebut badai, tetapi cukup lama untuk membuat batu-batu hitam di sepanjang istana mengilap seperti permukaan kaca. Dari jendela tinggi ruang pribadi raja, Zareth dapat melihat cahaya mana dari menara-menara penjaga terpecah oleh tirai air menjadi garis-garis pucat yang bergetar.
Malam seharusnya menjadi waktu paling tenang di istana.
Bagi Zareth, malam justru mulai terasa seperti waktu ketika segala sesuatu yang disembunyikan kerajaan berani bergerak.
Sebuah lampu kristal menyala di atas meja kerjanya. Di sampingnya terdapat tiga tumpukan dokumen, semuanya telah dibaca setidaknya dua kali.
Yang pertama adalah laporan administrasi.
Yang kedua adalah catatan sejarah.
Yang ketiga tidak memiliki judul.
Zareth menarik napas pelan, lalu mengambil lembar paling atas dari tumpukan terakhir.
Jalur surat internal.
Ia sudah membaca laporan ini beberapa hari lalu.
Malam ini ia membacanya lagi.
Bukan untuk mencari informasi baru.
Untuk melihat apa yang sebelumnya ia lewatkan.
Surat dari Solmaria mengenai perkembangan pemetaan bawah tanah telah masuk melalui jalur resmi. Tidak ada segel palsu. Tidak ada perubahan dokumen. Tidak ada pelanggaran prosedur yang dapat ia gunakan sebagai alasan untuk menyebutnya sabotase.
Namun surat itu tidak pernah sampai langsung kepadanya.
Surat tersebut melewati jalur administrasi khusus.
Empat hari.
Empat hari sebelum akhirnya masuk ke meja kerjanya.
Empat hari bukan waktu yang cukup untuk mengubah sejarah.
Tetapi cukup untuk mengubah keputusan seorang raja.
Zareth meletakkan surat itu.
"Empat hari."
Suara di belakangnya menjawab.
"Benar, Yang Mulia."
Pengawal kepercayaannya berdiri beberapa langkah dari meja. Ia tidak membawa senjata di tangan, tetapi pedangnya tetap tergantung di pinggang. Posisi berdirinya selalu sama setiap malam. Tidak terlalu dekat untuk mengganggu raja, tidak terlalu jauh jika terjadi sesuatu.
"Siapa yang menentukan surat itu perlu ditinjau?"
"Catatan administrasi menyebut jalur Dewan."
"Nama?"
Pengawal itu diam sesaat.
"Tidak tercantum."
Zareth mengangguk kecil.
Itu jawaban yang sudah ia duga.
Ia mengambil dokumen lain.
"Dan ini?"
Catatan mengenai permintaan Solmaria terkait akses energi Kuil Helia.
Perjanjian yang pada akhirnya telah disepakati.
Zareth masih mengingat pembahasannya.
Ia juga mengingat bagaimana beberapa anggota Dewan menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
Semua jawaban benar.
Tidak ada kebohongan yang bisa ia tunjuk.
Tetapi setiap jawaban berhenti tepat sebelum bagian yang ingin ia ketahui.
Mengapa sekarang?
Mengapa Solmaria?
Mengapa akses energi?
Mengapa larangan pasukan Umbra Veil memasuki wilayah mereka menjadi bagian dari perjanjian?
Mengapa Dewan begitu cepat menyetujui beberapa hal dan begitu berhati-hati pada hal lainnya?
Saat itu ia menganggapnya sebagai politik.
Sekarang, ia tidak lagi yakin.
--o--
Zareth bangkit dan berjalan menuju rak arsip kecil di sisi ruangan.
Ia mengambil sebuah buku tua.
Sampulnya keras, gelap, dan telah kehilangan sebagian lapisan kulit di sudut-sudutnya. Tidak ada lambang kerajaan pada bagian depan. Hanya nomor arsip yang ditulis dengan tinta pudar.
Ia membukanya.
Halaman-halaman tua itu mengeluarkan bau kertas lembap dan debu.
Zareth berhenti pada bagian yang telah ia tandai sebelumnya.
Pemurnian.
Kata itu muncul berkali-kali dalam catatan mengenai garis keturunan tertentu.
Selalu dalam bentuk yang sama.
Seseorang lahir.
Seseorang dianggap memiliki hubungan darah tertentu.
Kemudian, pada usia atau kondisi tertentu, nama mereka menghilang.
Dokumen resmi menyebutnya pemurnian.
Tidak ada catatan kematian.
Tidak ada pemakaman.
Tidak ada pengasingan.
Hanya hilang.
Zareth membaca satu paragraf.
Kemudian paragraf berikutnya.
Tangannya berhenti di atas halaman.
Selama berabad-abad, hal tersebut terjadi terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Ia pernah bertanya kepada salah seorang pejabat sejarah mengenai istilah itu.
Jawabannya sederhana.
"Prosedur lama."
Zareth menutup mata sejenak.
Prosedur.
Begitu mudah.
Begitu bersih.
Kata yang membuat pembunuhan terdengar seperti pekerjaan administrasi.
Ia membuka mata lagi.
"Kenapa tidak ada penjelasan?"
Pengawal di belakangnya tidak menjawab.
Pertanyaan itu bukan benar-benar ditujukan kepadanya.
Zareth membalik beberapa halaman.
Nama-nama.
Tanggal.
Garis keturunan.
Pemurnian.
Lalu tidak ada apa-apa.
Ia mengambil pena.
Di bawah catatan lama itu, ia menulis satu kata.
Siapa?
Kemudian ia menatapnya.
Tidak ada jawaban.
Ia menambahkan kata kedua.
Mengapa?
Masih tidak ada.
Zareth menutup buku.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang membaca sejarah kerajaan.
Ia merasa sedang membaca lubang dalam sejarah kerajaan.
--o--
Ketukan terdengar dari pintu.
Tiga kali.
Pendek.
Zareth langsung mengenali pola itu.
"Masuk."
Pengawal membuka pintu.