Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #42

Mereka yang Berdiri di Belakang Valrick

Kabut malam turun rendah di antara bangunan batu ibu kota Umbra Veil. Cahaya lampu mana yang biasanya memantul terang di jalan-jalan utama kini terlihat kusam, terpotong oleh uap dingin yang merayap dari selokan dan celah-celah bangunan. Di distrik militer, suara langkah sepatu bot masih terdengar teratur dari kejauhan, tetapi semakin jauh seseorang berjalan dari barak utama, semakin banyak suara yang berubah menjadi bisikan.

Valrick berhenti di depan sebuah bangunan penyimpanan tua yang sudah tidak digunakan.

Dindingnya masih memiliki lambang logistik kerajaan, tetapi sebagian besar cat telah mengelupas. Pintu kayunya tidak lagi memiliki penjaga. Hanya satu lampu kecil menyala di atasnya, cukup terang untuk menunjukkan bahwa tempat itu tidak sepenuhnya kosong.

Valrick mengetuk dua kali.

Jeda.

Satu kali.

Pintu terbuka.

"Masuk."

Ia melangkah tanpa menjawab.

Tiga orang sudah menunggu di dalam.

Dua mengenakan seragam perwira Umbra Veil tanpa jubah luar. Yang satu lagi berpakaian sipil, tetapi cincin lambang administrasi yang dikenakannya terlalu jelas untuk menyembunyikan kedudukannya.

Mereka semua menatap kaki Valrick ketika ia masuk.

Dulu, tatapan seperti itu akan membuatnya marah.

Sekarang tidak.

Kakinya memang berbeda.

Ia pernah kehilangan sebagian fungsi kaki itu.

Kemudian memaksakan Eternal Light melalui jaringan tubuhnya sampai daging baru tumbuh di atas luka yang seharusnya menjadi batas.

Ia masih berjalan.

Dan setiap langkah yang ia ambil membuat orang-orang mengingat bahwa sesuatu yang seharusnya tidak mungkin telah terjadi di dalam tubuhnya.

Valrick menarik kursi.

"Berapa orang yang datang?"

"Enam yang pasti."

"Yang belum pasti?"

Perwira di depannya menghela napas.

"Empat."

Valrick mengangguk.

"Empat belum memilih."

"Empat masih takut."

"Takut berbeda dengan menolak."

Perwira itu menatapnya beberapa detik.

"Kau sudah terlalu terbuka."

Valrick menyandarkan tubuh.

"Belum."

"Kau mulai berbicara tentang kepemimpinan."

"Aku berbicara tentang kerajaan."

"Semua orang tahu maksudmu."

Valrick tersenyum tipis.

"Bagus."

--o--

Pertemuan berikutnya berlangsung dua malam setelah itu.

Tempatnya berbeda.

Sebuah ruang bawah tanah milik penginapan lama di kawasan pedagang. Tidak ada lambang militer. Tidak ada dokumen kerajaan. Hanya meja kayu panjang, tiga lampu minyak, dan bau anggur murah yang tertinggal di dinding.

Kali ini ada delapan orang.

Valrick berdiri di ujung meja.

Di hadapannya duduk para perwira yang selama beberapa minggu terakhir hanya berani menyatakan ketidakpuasan secara pribadi.

Mereka tidak menyukai bagaimana militer diperlakukan.

Tidak menyukai bagaimana keputusan penting semakin sering ditentukan melalui meja diplomasi.

Tidak menyukai perjanjian dengan Solmaria.

Dan terutama tidak menyukai kenyataan bahwa kekuatan militer Umbra Veil semakin sering digunakan untuk menjaga keadaan tetap tenang daripada menunjukkan bahwa kerajaan masih memiliki taring.

Valrick membiarkan mereka bicara.

Satu per satu.

Tentang penempatan.

Tentang suplai.

Tentang perintah yang datang terlalu lambat.

Tentang perwira lama yang kehilangan pengaruh.

Tentang bagaimana Dornhart mati.

Nama itu membuat ruangan menjadi diam.

Valrick tidak segera menjawab.

Dornhart bukan sekadar seorang jenderal.

Ia adalah bagian dari struktur yang pernah dipercaya.

Seorang veteran.

Seorang komandan yang mengerti perang.

Dan ia mati.

Bukan di medan perang terbuka.

Bukan ketika pasukan Umbra Veil menghadapi pasukan kerajaan lain.

Ia mati dalam kekacauan yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami.

Valrick menatap meja.

"Berapa banyak dari kalian yang menganggap kematian Dornhart sebagai masalah pribadi?"

Tidak ada tangan yang terangkat.

"Bagus."

Ia mengangkat kepala.

"Karena aku tidak menganggapnya begitu."

Beberapa orang menatapnya.

"Dornhart mati karena sebuah sistem gagal menjaga orang yang berada di dalamnya."

Seorang perwira menyela.

"Atau karena dia mengambil keputusan yang salah."

"Benar."

Valrick tidak membantah.

"Itu juga mungkin."

Ia berdiri lebih tegak.

"Tapi kalau seorang jenderal veteran dapat jatuh dalam situasi seperti itu, lalu kita hanya berkata bahwa dia membuat kesalahan, apa yang akan kita katakan ketika orang berikutnya mati?"

Tidak ada jawaban.

Valrick melanjutkan.

"Bahwa dia juga salah?"

Suaranya tetap tenang.

"Itu bukan kepemimpinan. Itu alasan."

Salah seorang perwira mengepalkan tangan.

--o--

Valrick kemudian mengeluarkan satu lembar peta.

Bukan peta militer.

Peta hubungan perdagangan dan jalur diplomatik antara Solmaria dan Umbra Veil.

Beberapa tanda telah dibuat dengan tinta hitam.

"Solmaria."

Ia mengetuk satu titik.

"Perjanjian energi."

Ketukan kedua.

"Pasukan mereka dapat masuk ke wilayah tertentu dengan izin."

Ketukan ketiga.

"Dan pasukan kita tidak dapat masuk ke wilayah mereka tanpa izin."

Seorang perwira mengerutkan kening.

"Perjanjian itu bukan kekalahan."

"Tidak."

Valrick mengangguk.

"Bukan."

Ia menatap seluruh ruangan.

"Masalahnya bukan isi satu perjanjian."

Jarinya bergerak menyusuri peta.

"Masalahnya adalah siapa yang terlihat memiliki ruang untuk menentukan syarat."

Ruangan kembali sunyi.

"Solmaria sedang menemukan sesuatu di bawah wilayahnya. Mereka melakukan pemetaan. Mereka mengirim laporan. Mereka meminta penjelasan. Dan kita?"

Ia mengangkat bahu.

"Kita berunding."

Seorang perwira berkata pelan,

"Raja punya alasan."

"Semua raja punya alasan."

Valrick menatapnya.

"Pertanyaannya adalah apakah alasan itu cukup untuk menjaga wibawa kerajaan."

Tidak ada yang menjawab.

Valrick tidak mengangkat suara.

Ia tidak perlu.

"Jumlah pasukan kita kembali besar setelah Hari Persembahan Matahari."

Ia menunjuk daftar personel.

Lihat selengkapnya