Veilbound: Beyond the Ashen Crown

Diva Amane
Chapter #43

Undangan Sang Raja

Hujan turun tipis di atas ibu kota Umbra Veil ketika catatan terakhir dari medan pertempuran Dornhart diletakkan di atas meja Zareth Noctarius.

Bukan hujan deras. Hanya butiran kecil yang menempel pada kaca jendela tinggi istana, membuat cahaya obor di luar tampak pecah dan bergetar seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar diam. Udara di ruang kerja raja membawa bau batu basah, tinta, dan kulit tua dari map-map militer yang baru saja dibuka. Di atas meja, lembar laporan disusun dalam urutan yang terlalu rapi untuk sebuah kejadian yang telah meninggalkan begitu banyak mayat.

Zareth tidak langsung membacanya.

Ia hanya memandangi segel hitam di bagian bawah laporan.

Segel militer.

Segel yang dahulu dibawa oleh seorang jenderal yang namanya sudah puluhan tahun menjadi bagian dari sejarah perang Umbra Veil.

Dornhart.

Tangannya akhirnya bergerak.

Laporan pertama menyebutkan jumlah pasukan yang berangkat. Laporan kedua mencatat rute yang diambil. Laporan ketiga berisi rincian komunikasi terakhir sebelum pasukan kehilangan kontak. Laporan terakhir datang setelah Solmaria mengambil alih lokasi pertempuran dan melakukan pembersihan.

Hampir seluruh pasukan yang dibawa Dornhart musnah.

Jenderalnya juga tewas.

Zareth membaca halaman terakhir sekali lagi.

Tidak ada perubahan pada hasil hanya karena ia telah membacanya untuk ketiga kalinya.

Dornhart mati.

Pasukannya hancur.

Para buronan tetap hidup.

Dan bagian yang paling mengganggunya bukanlah jumlah korban.

Melainkan satu kalimat yang ditulis dalam bahasa administrasi yang kering.

Pasukan Umbra Veil melintasi wilayah Solmaria tanpa memperoleh dukungan militer dari kerajaan tersebut.

Zareth menurunkan lembar itu.

Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.

Pintu ruang kerja diketuk.

"Masuk."

Seorang pejabat militer masuk dengan dua map tambahan di tangan. Ia berhenti beberapa langkah dari meja dan menundukkan kepala.

"Yang Mulia."

"Letakkan."

Pejabat itu meletakkan map di samping laporan.

Zareth membuka salah satunya.

Catatan pergerakan pasukan.

Yang lain berisi korespondensi antara perwira Umbra Veil dan pihak Solmaria sebelum operasi.

Tidak ada penolakan terbuka.

Tidak ada deklarasi permusuhan.

Tidak ada surat yang secara langsung mengatakan bahwa Solmaria akan menghalangi Dornhart.

Justru itulah yang membuatnya lebih sulit diterima.

Solmaria tidak melakukan apa pun.

Mereka membiarkan operasi itu berlangsung.

Mereka mengetahui adanya pergerakan pasukan.

Mereka mengetahui bahwa pasukan Umbra Veil masuk ke wilayah mereka untuk mengejar para buronan.

Namun ketika keadaan berubah menjadi pertempuran yang menghancurkan pasukan Dornhart, tidak ada bantuan datang dari pihak kerajaan.

Zareth menyandarkan tubuhnya.

"Apakah ada permintaan bantuan resmi?"

Pejabat itu menelan ludah.

"Setidaknya berdasarkan catatan yang kami terima, tidak ada permintaan yang dikirim melalui jalur diplomatik resmi."

"Dan komunikasi lapangan?"

"Ada permintaan koordinasi."

"Jawabannya?"

"Solmaria menyatakan bahwa operasi tersebut berada di bawah kewenangan Umbra Veil dan mereka tidak akan mengambil alih tindakan militer tanpa permintaan resmi."

Zareth tersenyum tipis.

Tidak ada kehangatan di sana.

"Secara hukum mereka benar."

Pejabat itu diam.

"Secara politik," lanjut Zareth, "itu pertanyaan yang berbeda."

Ia menutup map.

Dornhart bukan sekadar seorang perwira yang kebetulan mati di wilayah asing. Ia adalah salah satu orang yang mewakili kekuatan militer Umbra Veil. Kehadirannya di medan operasi membawa nama kerajaan. Kegagalannya pun demikian.

Dan sekarang, setiap kali seseorang menyebut pertempuran itu, akan selalu ada satu pertanyaan yang berdiri di antara dua kerajaan.

Mengapa Solmaria membiarkannya terjadi?

Zareth berdiri.

"Kirimkan kepada sekretariat kerajaan."

Pejabat itu mengangkat wajah.

"Untuk penyelidikan internal?"

"Untuk surat."

"Surat kepada Solmaria?"

Zareth menatap jendela.

"Surat kepada Raja Rachlar."

--o--

Ruang Dewan Tertinggi dipenuhi cahaya lampu minyak ketika surat itu dibacakan.

Ketua Dewan duduk di ujung meja panjang. Sepuluh anggota lainnya berada di kedua sisi, masing-masing dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tidak seorang pun membawa senjata. Namun tidak ada seorang pun yang duduk santai.

Hubungan antara istana dan Dewan telah berubah dalam beberapa bulan terakhir.

Tidak cukup untuk disebut perang politik.

Belum.

Namun terlalu banyak percakapan yang mulai dilakukan di balik pintu tertutup.

Ketua Dewan menerima salinan surat dari sekretaris dan membacanya sampai selesai.

"Raja meminta penjelasan langsung."

Salah satu anggota Dewan mengangkat alis.

"Atas kegagalan operasi Dornhart?"

"Atas keputusan Solmaria untuk tidak memberikan bantuan."

"Bahasa yang digunakan?"

"Diplomatis."

"Dan maksudnya?"

Ketua Dewan melipat surat.

"Jelas."

Tidak ada yang tertawa.

Salah satu anggota yang lebih tua mengusap dagunya.

"Rachlar akan datang?"

"Jika ia merasa perlu."

"Dan jika tidak?"

Ketua Dewan menatap meja.

"Maka Zareth akan menganggap penolakan itu sebagai jawaban."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Itulah bagian yang tidak tertulis.

Pertemuan ini bukan hanya mengenai Dornhart.

Jika Rachlar datang, ia akan membawa versinya sendiri tentang apa yang terjadi. Jika Zareth gagal menjelaskan mengapa Dornhart dikirim, bagaimana operasi itu dijalankan, dan mengapa pasukannya melintasi wilayah Solmaria, maka pembicaraan dapat berbalik menjadi pertanyaan terhadap kerajaan mereka sendiri.

Lihat selengkapnya