Cahaya siang di Umbra Veil tidak pernah benar-benar terasa seperti siang.
Matahari menggantung pucat di balik lapisan awan kelabu, memantulkan warna dingin pada menara-menara batu hitam yang mengelilingi ibu kota. Di ruang tahta, cahaya yang masuk melalui jendela tinggi jatuh dalam garis panjang di atas lantai marmer gelap. Debu tipis bergerak di dalamnya, tampak seperti abu yang belum sempat jatuh setelah kebakaran yang sangat jauh.
Di kedua sisi ruangan, para penjaga berdiri dengan zirah hitam dan lambang kerajaan di dada. Tidak ada pedang yang terhunus. Tidak ada tombak yang diarahkan. Namun tangan mereka berada cukup dekat dengan gagang senjata untuk membuat siapa pun memahami bahwa upacara dan kewaspadaan dapat berjalan bersamaan.
Di ujung ruangan, Zareth Noctarius duduk di singgasana.
Ketua Dewan Tertinggi dan sepuluh anggotanya berdiri di tempat yang telah ditentukan. Tidak seorang pun berbicara.
Pintu besar ruang tahta akhirnya terbuka.
Suara engselnya bergema panjang.
Rachlar masuk.
Ia mengenakan pakaian kerajaan Solmaria yang tidak berlebihan. Mantel putih keabu-abuan dengan garis emas tipis, lambang kerajaan di dada, dan sarung tangan hitam yang dikenakan tanpa hiasan berlebihan. Di belakangnya hanya beberapa pejabat dan pengawal yang diperbolehkan mengikuti hingga batas ruang penerimaan.
Ia berhenti di titik yang telah ditentukan.
Kepala sedikit ditundukkan.
"Yang Mulia Zareth Noctarius."
Zareth membalas dengan anggukan.
"Yang Mulia Rachlar Rioviani."
Tidak ada senyum.
Tidak ada permusuhan terbuka.
Hanya dua raja yang saling memandang dari jarak beberapa langkah.
Rachlar kemudian mengikuti tata cara yang berlaku. Ia menyerahkan tanda kedatangan kepada pejabat protokol, menyebutkan maksud kunjungan secara formal, lalu menerima persilakan untuk maju.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak pula merendahkan diri.
Zareth memperhatikan semuanya.
Rachlar tidak tampak seperti seseorang yang datang ke wilayah kerajaan dengan rasa takut. Tetapi ia juga tidak menunjukkan kesombongan orang yang mengira dirinya memiliki kedudukan lebih tinggi.
Itu justru membuatnya sulit dibaca.
"Silakan duduk," kata Zareth.
Dua kursi telah disiapkan.
Rachlar duduk.
Zareth tidak langsung berbicara.
Beberapa detik berlalu.
Ruang tahta menjadi begitu sunyi hingga bunyi kain jubah seorang anggota Dewan yang bergerak sedikit terdengar jelas.
Akhirnya Zareth membuka pertemuan.
"Dornhart tewas dalam sebuah operasi di wilayah yang memiliki hubungan administratif dengan Solmaria."
Nada suaranya datar.
"Enam belas iblis elit yang berada di bawah komandonya juga musnah."
Rachlar tidak menjawab.
"Kami mengetahui bahwa pasukan tersebut mengejar kelompok buronan yang dianggap berkaitan dengan beberapa kejadian yang mengancam kepentingan Umbra Veil."
Zareth berhenti sebentar.
"Namun ketika pasukan kami bergerak melalui wilayah Solmaria, kerajaan Anda tidak memberikan bantuan."
Rachlar menyilangkan kedua tangannya di atas tongkat pendek yang diletakkan di pangkuannya.
"Itu benar."
Jawaban itu begitu sederhana hingga beberapa anggota Dewan saling melirik.
Zareth tidak berubah ekspresi.
"Karena?"
"Karena dari sudut pandang Solmaria, tidak terdapat alasan yang cukup untuk menganggap pasukan Jenderal Dornhart membutuhkan bantuan tambahan."
Seorang anggota Dewan mengangkat wajah.
Zareth tetap diam.
Rachlar melanjutkan.
"Pasukan yang dibawa Jenderal Dornhart terdiri dari enam belas iblis elit. Jumlah tersebut berada di bawah komandonya sendiri."
"Anda menghitung kualitas mereka?" tanya Zareth.
"Tentu."
Rachlar menatapnya.
"Jika tidak, saya tidak akan menjadikannya dasar penjelasan."
Beberapa anggota Dewan terlihat tidak nyaman.
Rachlar tidak terdengar menantang.
Justru sebaliknya.
Ia berbicara seperti seseorang yang sedang menjelaskan angka dalam laporan administrasi.
"Enam belas iblis elit Umbra Veil bukan pasukan biasa. Mereka merupakan bagian dari struktur militer yang jauh lebih kuat daripada pasukan manusia Solmaria. Jenderal Dornhart sendiri memiliki pengalaman panjang dalam operasi semacam itu."
Zareth sedikit menyipitkan mata.
"Dan karena itu?"
"Karena itu, kami menganggap kekuatan yang dikirim sudah memadai."
Salah satu anggota Dewan maju setengah langkah.
"Yang Mulia Rachlar, enam belas prajurit kami tewas bersama seorang jenderal."
"Saya tahu."
"Dan Anda tetap menganggap mereka memadai?"
"Pada saat keputusan dibuat, ya."
Jawaban itu jatuh seperti batu.
Tidak keras.
Tetapi berat.
Zareth menatap Rachlar lebih lama.
"Anda tahu siapa yang mereka hadapi?"
"Menurut laporan yang kami terima."
"Siapa?"
Rachlar menarik napas pendek.
"Vrille. Kylia. Arden. Dan seorang individu lain yang berada di pihak buronan."
Nama-nama itu terdengar biasa bagi sebagian besar anggota Dewan.
Namun Zareth tidak bereaksi terhadap tiga nama pertama.
Ketika nama keempat tidak disebutkan, ia langsung memahami ada sesuatu yang sengaja ditahan.
"Individu lain?"
Rachlar mengangguk.
"Ya."
"Namanya?"
Rachlar menatap Zareth.
"Arcante."
Ruangan berubah.
Tidak ada yang bergerak.
Namun perubahan itu terasa.
Ketua Dewan menoleh sedikit kepada anggota di sebelahnya. Salah satu anggota yang lebih muda tanpa sadar menarik napas. Bahkan para penjaga di sisi ruangan tampak menjadi lebih kaku.
Zareth tidak menunjukkan keterkejutan.
Namun di dalam kepalanya, satu nama lama baru saja dibangunkan.
Arcante.
Nama yang tidak sekadar milik seorang penyihir.
Nama yang pernah berdiri di dalam sejarah Abyssal Sovereign sebagai salah satu pengguna sihir paling berbahaya yang pernah mereka miliki.
Seseorang yang telah menghilang puluhan tahun.
Seseorang yang menurut sebagian catatan bahkan pernah berada di tingkat kekuatan yang hanya dapat dicapai oleh sedikit penyihir dalam sejarah.
Dan sekarang Rachlar mengucapkannya dengan nada yang hampir sama seperti ketika menyebut seorang prajurit biasa.
"Anda mengetahui bahwa itu Arcante?" tanya Zareth.
Rachlar tidak langsung menjawab.
"Saya mengetahui nama yang diberikan dalam laporan."
"Dan Anda tidak menganggapnya sebagai ancaman besar?"
"Saya tidak mengatakan itu."
"Namun Anda mengatakan pasukan Dornhart sudah memadai."
"Benar."
Zareth mencondongkan tubuh sedikit.
"Arcante bukan individu biasa."
Rachlar mengangkat alis tipis.
"Saya tidak memiliki alasan untuk menyangkal penilaian Anda mengenai orang itu."