Pagi datang ke Telmora tanpa kemegahan.
Kabut tipis menggantung rendah di antara rumah-rumah batu, menempel pada pagar kayu dan atap pondok yang masih menyisakan warna hitam bekas asap. Matahari belum cukup tinggi untuk menghangatkan tanah. Cahaya keemasan hanya menyentuh ujung rerumputan, sementara embun masih bertahan di sela-sela jejak kaki yang telah mengering sejak malam berdarah itu.
Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka meninggalkan Valadia.
Namun bagi Kael, suara roda kereta yang berhenti di depan pondok terasa seperti akhir dari sesuatu yang belum benar-benar selesai.
Ia turun lebih dulu.
Kakinya menyentuh tanah dengan hati-hati.
Untuk beberapa detik, Kael hanya berdiri.
Di hadapannya ada rumah yang dikenalnya selama bertahun-tahun. Pondok kecil dengan dinding kayu tua, jendela sempit, beranda yang sedikit miring, dan halaman luas yang selama ini menjadi tempat mereka bekerja, bertengkar, berlatih, makan, dan menjalani hari-hari yang terlalu sederhana untuk disebut istimewa.
Sekarang semuanya terasa asing.
Atau mungkin dirinya yang sudah berubah.
Kael mengangkat tangan kirinya.
Jari-jarinya bergerak perlahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Masih terasa kebas.
Bukan mati rasa sepenuhnya. Ia masih dapat merasakan dingin udara pagi yang menyentuh kulit. Ia masih dapat merasakan tekanan ketika mengepalkan tangan. Tetapi ada jeda aneh antara perintah dari pikirannya dan sensasi yang diterima tubuhnya.
Seolah-olah lengannya membutuhkan waktu untuk mengingat bahwa ia adalah bagian dari dirinya.
Kael menurunkan tangannya.
"Sudah lama tidak pulang."
Suara Kylia terdengar dari belakang.
Kael menoleh.
Kylia berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya masih lebih kurus daripada sebelum pertempuran. Wajahnya juga belum sepenuhnya kembali ke warna normal. Bahu kanannya terbungkus kain penyangga yang melingkari dada dan lengan atas.
Ia mencoba mengangkat tangan kanan sedikit.
Berhenti.
Wajahnya berubah tipis.
Nyeri.
Kylia menurunkannya lagi.
Kael melihat gerakan itu.
"Masih sakit?"
"Masih."
"Parah?"
"Kalau aku bilang tidak, kau akan percaya?"
Kael tersenyum kecil.
"Kalau kau yang mengatakannya, mungkin."
Kylia mendengus.
Ia berjalan melewatinya, kemudian berhenti di depan pintu.
Tangannya terangkat hendak membuka gagang.
Tangan kanan berhenti di udara.
Kylia menatapnya beberapa saat.
Kemudian menggunakan tangan kirinya.
Klik.
Pintu terbuka.
Bau kayu, debu, dan udara pengap menyambut mereka.
Kael masuk setelahnya.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Kylia juga diam.
Pondok itu sudah dibersihkan.
Seseorang telah mengganti beberapa papan dinding yang rusak. Pecahan kaca telah disapu. Tanah di beranda telah diratakan kembali. Jejak ledakan Arcante masih terlihat di beberapa bagian pekarangan, tetapi setidaknya tidak ada lagi sisa darah yang menghitam di antara rerumputan.
Tidak ada mayat.
Tidak ada zirah pecah.
Tidak ada bilah pedang yang tertancap di tanah.
Tidak ada makhluk bayangan yang tersisa.
Kerajaan Solmaria telah membersihkan semuanya.
Terlalu bersih.
Kael berjalan perlahan menuju ruang utama.
Meja masih berada di tempatnya.
Kursi juga.
Rak kecil di sudut ruangan masih menyimpan beberapa perkakas lama.
Hanya ada satu hal yang berbeda.
Keheningan.
Dulu rumah ini selalu memiliki suara.
Suara Kylia menggeser kursi. Suara Arden mengomel ketika peralatannya hilang. Suara Sariel dari dapur. Suara langkah kaki orang-orang yang keluar masuk. Suara pedang beradu dari halaman.
Sekarang hanya ada angin.
Kael menyentuh permukaan meja dengan tangan kirinya.
Debu tipis menempel pada ujung jarinya.
"Pembersihannya cukup rapi," katanya.
Kylia berdiri di tengah ruangan.
"Ya."
"Menurutmu siapa yang melakukannya?"
"Pasukan Solmaria."
Kael menatapnya.
Kylia membalas tatapannya.
Mereka sama-sama teringat malam itu.
Malam ketika mereka mengira pasukan yang datang setelah tumbangnya Dornhart akan menyelesaikan pekerjaan yang belum diselesaikan jenderal itu.
Namun mereka justru membawa tandu.
Membawa tabib.
Membawa perintah kerajaan.
Membawa mereka ke Valadia.
Dan setelah itu, tidak seorang pun datang menjelaskan alasan sebenarnya.
Kylia berjalan menuju jendela.
Ia membuka tirainya.
Cahaya pagi masuk.
Untuk pertama kalinya, pondok itu terlihat seperti rumah lagi.
"Jangan terlalu dipikirkan."
Kael mengangkat alis.
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Wajahmu mengatakan."
Kael tertawa pelan.
"Masih galak."
"Dan kau masih menyebalkan."
Mereka terdiam.
Kemudian Kael memandang tangan kirinya lagi.
Ia membuka telapak tangan.
Menutupnya.
Membuka.
Menutup.
Kylia memperhatikannya dari sudut mata.
"Masih kebas?"
"Sedikit."
"Kau bilang begitu di rumah sakit."
"Memang."
"Dan tabib bilang?"
"Perlu waktu."
"Berapa lama?"
Kael mengangkat bahu.
"Katanya tubuh iblis tidak mudah dipahami."
"Itu bukan jawaban."
"Memang bukan."
Kylia memalingkan wajah.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Kael tidak melanjutkan.
Ia tahu tatapan itu.
Tatapan seseorang yang sedang mencoba menerima sesuatu yang tidak dapat diperbaiki hanya dengan kemauan.
Kael menghela napas.
"Setidaknya kita sudah pulang."
Kylia mengangguk.
"Setidaknya."
Kata itu menggantung di antara mereka.
Bukan kemenangan.
Bukan kekalahan.
Hanya setidaknya.
--o--
Menjelang tengah pagi, pondok mulai terasa sedikit lebih hidup.
Arden datang dari jalan setapak sebelah timur dengan tongkat kayu di tangan.
Langkahnya lambat.
Paha kirinya masih belum pulih sepenuhnya. Luka akibat pisau beracun milik assassin itu sudah tertutup dan jaringan yang rusak mulai memperbaiki diri, tetapi setiap kali ia menumpukan terlalu banyak berat pada kaki tersebut, rasa sakit menusuk sampai ke pinggang.
Ia berhenti di depan pagar.
"Rumah kalian masih berdiri."
Kael yang sedang membawa dua ember dari sumur menoleh.
"Kecewa?"
"Sedikit."
Kylia keluar dari pintu.
"Masuk."
Arden mengangkat tongkatnya.
"Kalau aku masuk, siapa yang akan membantuku keluar?"
"Jangan banyak bicara."
"Itu berarti aku benar."
Kael terkekeh.
Arden berjalan mendekat.
Ia tampak jauh lebih baik daripada beberapa hari sebelumnya, tetapi luka-luka yang belum pulih masih jelas terlihat. Ada perban di paha kirinya. Salah satu lengannya juga dibalut tipis.
Ia berhenti di samping Kael.
Keduanya memandang pondok.
"Rasanya aneh," kata Arden.
Kael mengangguk.
"Ya."
"Seperti kita pergi sebentar."
"Padahal hampir mati."
Arden menatapnya.
Kael tersenyum tipis.
"Maaf."
"Jangan bercanda soal itu."
Nada Arden datar.
Kael tidak menjawab.
Kylia keluar membawa beberapa kain dan meletakkannya di atas pagar.
"Kalau kalian sudah selesai mengingat kematian, ada pekerjaan."