Pagi di Telmora datang bersama kabut tipis yang menggantung rendah di atas taman terbuka. Cahaya matahari menembus sela pepohonan dalam garis-garis pucat, memantul pada embun yang menempel di rerumputan dan membuat ujung-ujung daun tampak seperti dilapisi serpihan kaca. Udara masih menyimpan bau tanah basah dan kayu tua dari pondok-pondok di sekitar, sementara dari kejauhan terdengar bunyi palu seorang pandai besi yang mulai bekerja lebih awal daripada kebanyakan penduduk.
Di tengah taman, dua orang berdiri saling berhadapan.
Kael memegang arming sword dengan tangan kanannya.
Kylia juga.
Tidak ada kapak di tanah kali ini.
Tidak ada dua senjata yang harus bergerak bersamaan.
Hanya satu pedang.
Kylia mengangkat lengannya perlahan, lalu memutar pergelangan tangan. Gerakannya sederhana, tetapi Kael segera melihat sesuatu yang berbeda. Bahu kanan Kylia masih belum sepenuhnya pulih. Ketika ia mengangkat lengan terlalu tinggi, ada jeda kecil sebelum posisi pedang kembali stabil.
Kael memperhatikan itu.
“Kau yakin?”
Kylia menatapnya dari balik bilah pedangnya.
“Yakin apa?”
“Masih mau latihan.”
“Aku masih bisa memegang pedang.”
“Bahumu belum pulih.”
“Begitu juga lenganmu.”
Kael terdiam.
Kylia menurunkan ujung pedangnya sedikit.
“Kita tidak sedang mencoba menjadi seperti sebelum pertarungan.”
Kael memandang bahunya.
Bekas luka di sana masih tertutup kain pelindung. Gerakannya memang sudah jauh lebih baik daripada ketika mereka meninggalkan Valadia, tetapi luka itu belum benar-benar menjadi bagian tubuh yang bisa ia lupakan. Setiap kali ia menggerakkan bahunya melewati sudut tertentu, rasa nyeri kecil akan muncul seperti peringatan.
“Lalu bagaimana kau masih bisa berlatih?” tanya Kael.
Kylia menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang.
“Karena sejak awal aku tidak dilatih untuk bergantung pada kedua tangan.”
Kael mengerutkan kening.
“Arming sword?”
“Arming sword.”
Kylia memutar pedangnya sekali, bukan untuk memamerkan teknik, melainkan untuk mencari posisi yang paling nyaman bagi bahunya.
“Ketika aku masih pemula, guruku selalu memaksaku belajar menggunakan satu tangan untuk sebagian besar latihan dasar. Bukan karena teknik dua tangan tidak berguna. Justru sebaliknya. Aku harus tahu kapan tangan yang lain membantu, kapan tidak, dan bagaimana tubuh tetap seimbang ketika salah satunya tidak bisa digunakan.”
Kael memperhatikan setiap gerakannya.
“Dornhart?”
Kylia berhenti.
Nama itu jatuh di antara mereka dengan berat yang berbeda dari suara-suara pagi.
Beberapa saat Kylia hanya memandang pedangnya.
“Ya.”
Ia menarik napas.
“Dornhart.”
--o--
Bertahun-tahun lalu, sebelum pedang menjadi sesuatu yang digunakan Kylia untuk bertahan hidup, ia hanyalah seorang anak yang terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa lengannya lelah.
Lapangan latihan Umbra Veil saat itu masih basah oleh hujan malam. Lumpur menempel pada sepatu para peserta latihan, sementara tiang-tiang kayu di sepanjang halaman dipenuhi bekas tebasan dari para prajurit yang berlatih sejak fajar.
Kylia yang masih belia berdiri dengan pedang kayu di tangan kanannya.
Di depannya, Dornhart memegang pedang latihan yang sama.
“Lagi.”
Kylia maju.
Pedang kayunya ditebaskan dari atas.
Dornhart menangkis dengan mudah.
Kylia berputar dan mencoba menyerang dari samping.
Dornhart mundur satu langkah.
Tebasan kedua datang.
Ditangkis.
Ketiga.
Ditangkis.
Kylia menggertakkan gigi.
“Kenapa selalu bisa dibaca?”
“Karena kau bergerak dengan pedang.”
Kylia berhenti.
Dornhart menurunkan pedangnya.
“Bukan dengan tubuh.”
“Apa bedanya?”
“Kalau kau menggerakkan pedang lebih dulu, tubuhmu akan mengejar. Kalau tubuhmu bergerak lebih dulu, pedangmu akan mengikuti.”
Kylia tidak memahami sepenuhnya.
Dornhart mengetuk tanah dengan ujung pedang kayunya.
“Coba lagi.”
Kylia mengambil posisi.
Kali ini ia tidak langsung menyerang.
Kaki kirinya bergeser.
Tubuhnya berputar sedikit.
Baru kemudian pedang bergerak.
Dornhart menangkis.
Tetapi kali ini langkahnya mundur.
Hanya satu langkah.
Namun bagi Kylia, itu sudah cukup.
Dornhart mengangguk kecil.
“Lebih baik.”
Kylia kembali maju.
Ia terlalu bersemangat.
Tebasan berikutnya terlalu lebar.
Dornhart memutar tubuh dan menyentuh sisi kepalanya dengan pedang kayu.
“Pukulan mati.”
Kylia mengusap kepalanya.
“Kenapa?”
“Kau memberikan seluruh berat tubuhmu pada satu serangan.”
“Bukankah itu membuatnya lebih kuat?”
“Lebih kuat.”
Dornhart mengangkat pedangnya.
“Dan lebih mudah membuatmu jatuh.”
Kylia menatapnya.
Dornhart kembali memasang posisi.
“Pedang bukan hanya alat untuk memukul lawan.”
Ia melangkah maju.
Satu dorongan.
Kylia mundur.
“Pedang adalah alat untuk menjaga tubuhmu tetap berada pada posisi yang bisa menyerang lagi.”
Kalimat itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Kylia.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menghadapi lawan yang lebih cepat, lebih besar, atau lebih kuat, kalimat itu tetap tinggal di bagian belakang pikirannya.
Bukan kekuatan yang pertama-tama menjaga seorang pendekar tetap hidup.
Melainkan kemampuan untuk berhenti sebelum tubuhnya kehilangan kendali.
--o--