Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #4

Pandai Besi Telmora

Matahari telah naik tinggi ketika Kael dan Kylia memasuki bagian timur Telmora. Cahaya siang memantul pada atap-atap kayu dan batu, membuat jalan utama tampak lebih terang daripada biasanya, tetapi panas yang menempel di udara tidak mampu mengusir bau besi terbakar yang semakin pekat ketika mereka mendekati deretan bengkel para pandai besi. Dari balik bangunan-bangunan rendah, terdengar denting palu menghantam logam, berulang dan teratur, seperti bunyi jantung kota yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Kael membawa sebuah kain tebal di atas bahunya.

Di dalamnya terdapat kedua kapaknya.

Kedua senjata yang selama bertahun-tahun selalu dibawanya ke medan pertempuran kini terasa berbeda. Bukan karena beratnya. Berat itu masih sama. Gagangnya masih terasa familiar ketika disentuh. Namun sejak latihan beberapa pagi terakhir, Kael mulai melihat kedua kapak itu bukan hanya sebagai senjata, melainkan sebagai bagian dari sebuah gaya bertarung yang mungkin sudah tidak cocok dengan tubuhnya.

Kylia berjalan di sampingnya.

Sesekali matanya turun ke bungkusan tersebut.

“Masih yakin?”

Kael mengangguk.

“Arelith pernah memperbaikinya.”

“Dia juga pernah memperbaiki senjata yang nyaris hancur.”

“Kapakku tidak nyaris hancur.”

Kylia meliriknya.

“Setelah pertarungan dengan pasukan Valrick?”

Kael diam sebentar.

“…Baiklah.”

Kylia tidak berkata apa-apa lagi.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang lebih lebar daripada bengkel-bengkel di sekitarnya. Dindingnya terbuat dari batu kasar yang menghitam akibat asap bertahun-tahun. Pintu kayunya terbuka lebar, dan dari dalam terdengar dentuman berat yang membuat lantai jalan terasa bergetar halus.

Sebuah papan kayu tergantung di atas pintu.

ARELITH — SENJATA, PERBAIKAN, DAN TEMPA ULANG.

Kael mendorong pintu.

Gelombang panas langsung menyambut mereka.

Di dalam, udara dipenuhi bau arang, minyak, logam panas, dan debu halus yang menempel di tenggorokan. Rak-rak kayu memenuhi dinding. Ada pedang yang belum selesai diasah, tombak tanpa mata, kepala kapak, pelindung lengan, dan berbagai potongan logam yang menunggu giliran untuk kembali menjadi sesuatu.

Di bagian belakang bengkel, seorang lelaki tua berdiri di depan landasan.

Palu besar berada di tangannya.

DENTANG!

Percikan api beterbangan.

DENTANG!

Logam merah membara berubah bentuk.

Arelith tidak menoleh.

“Kalau datang untuk mengasah pisau dapur, taruh di meja.”

Kael membuka kain di bahunya.

“Bukan pisau.”

Palu Arelith berhenti di udara.

Ia menoleh.

Matanya langsung jatuh pada dua kapak yang berada di tangan Kael.

Beberapa detik berlalu.

Lalu wajahnya berubah.

“Aku kenal itu.”

Kael meletakkan kedua kapak di atas meja kerja.

Arelith berjalan mendekat.

Tangannya yang penuh bekas luka dan jelaga mengusap salah satu gagang, kemudian berpindah ke bilahnya. Ia tidak perlu melihat lama.

“Masih kau gunakan.”

“Masih.”

Arelith mendengus.

“Pantas.”

Ia mengambil kapak pertama dan memiringkannya ke arah cahaya.

Bekas kerusakan lama terlihat pada permukaan bilah. Goresan panjang melintang di dekat pangkal. Ada bagian yang pernah dipukul terlalu keras hingga logamnya sedikit berubah bentuk.

“Aku ingat ini.”

Arelith mengetuk bekas kerusakan dengan kuku jarinya.

“Setelah kau melawan pasukan Valrick.”

Kael mengangguk.

“Waktu itu kau membawanya kemari dalam keadaan lebih buruk.”

“Masih bisa dipakai.”

“Bisa dipakai bukan berarti tidak rusak.”

Arelith mengambil kapak satunya.

Ia memeriksanya lebih lama.

Kemudian meletakkan keduanya berdampingan.

“Bagaimana sekarang?”

Kael tidak langsung menjawab.

Arelith mengangkat kepala.

Bukan melihat senjatanya.

Melihat Kael.

“Bukan bagaimana kapaknya.”

Kael terdiam.

“Bagaimana tanganmu?”

Kylia yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ikut menatap Kael.

Kael menurunkan pandangan.

“Tidak seperti dulu.”

Arelith menunggu.

Kael menggerakkan jari-jari tangan kirinya.

“Kadang bisa kugerakkan seperti biasa. Kadang terlambat merespons.”

“Nyeri?”

“Tidak selalu.”

“Mati rasa?”

Kael mengangguk.

“Di beberapa bagian.”

Arelith kembali melihat kapak.

Kemudian ia melihat tangan kiri Kael.

Tatapan seorang pandai besi itu berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

“Jadi masalahnya bukan kapak.”

“Bukan.”

Arelith menyandarkan kedua telapak tangannya pada meja.

“Dan kau baru menyadarinya?”

Kael menghela napas.

“Aku mencoba berlatih.”

Lihat selengkapnya