Pagi di Telmora dibuka oleh suara roda kayu yang beradu dengan batu jalan. Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah ketika kereta-kereta kecil mulai meninggalkan halaman penginapan, membawa peti barang, karung gandum, dan surat-surat yang disegel lilin. Matahari baru muncul dari balik atap kota, tetapi jalan utama sudah dipenuhi pedagang yang membuka kios, buruh yang mendorong gerobak, serta kurir yang bergerak cepat sebelum panas siang membuat perjalanan terasa lebih berat.
Kael berdiri di samping sebuah kereta pos berwarna cokelat tua.
Ia memandangi lambang matahari Solmaria yang tercetak pada sisi kayunya.
Kemudian memandang Arden.
“Jadi ini pekerjaannya?”
Arden mengangguk sambil memeriksa tali pengikat sebuah peti.
“Pengantaran surat.”
Kael melihat bagian belakang kereta.
Tidak ada monster.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada senjata perang.
Hanya kantong-kantong kulit berisi surat yang disusun berdasarkan wilayah.
“Kelihatannya mudah.”
Arden berhenti mengencangkan tali.
“Kalimat itu akan membuatmu menyesal.”
Kael menoleh.
“Apa yang sulit?”
“Surat yang salah alamat bisa membuat orang kehilangan pembayaran. Surat yang terlambat bisa membuat pedagang kehilangan transaksi. Surat yang tidak sampai bisa membuat keluarga menunggu kabar yang mungkin tidak pernah datang.”
Arden mengangkat satu kantong kulit.
“Dan kalau kau menyerahkan surat kepada orang yang salah, tanggung jawabnya ada padamu.”
Kael menatap kantong itu.
“Jadi bukan sekadar membawa barang.”
“Bukan.”
Arden menyerahkannya.
“Ini soal memastikan sesuatu sampai kepada orang yang seharusnya menerimanya.”
Kael menerima kantong tersebut.
Beratnya tidak seberapa.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak kembali dari Valadia, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Ia tidak sedang membawa senjata.
Ia sedang membawa kepercayaan orang lain.
Arden menaiki kursi depan kereta.
“Naik.”
Kael ikut naik.
Kuda bergerak beberapa saat kemudian.
Roda berputar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kael meninggalkan pondok bukan untuk mencari musuh.
Ia pergi mencari penghasilan.
--o--
Rute pertama membawa mereka melewati sisi timur Telmora, lalu turun menuju kawasan perdagangan yang menghubungkan beberapa permukiman kecil di sekitar kota. Kereta pos bergerak tidak terlalu cepat. Ada jadwal yang harus dijaga, tetapi bukan perlombaan.
Arden mengendalikan kuda dengan tenang.
Kael duduk di sampingnya sambil memeriksa daftar penerima.
“Yang ini ke gudang gandum.”
“Benar.”
“Yang ini ke toko kain.”
“Benar.”
“Yang ini…”
Kael berhenti.
“Nama jalannya tidak jelas.”
Arden langsung mengambil daftar tersebut.
Ia melihatnya.
“Rumah ketiga setelah sumur batu.”
Kael mengangkat alis.
“Itu petunjuk?”
“Di Telmora, kadang lebih jelas daripada nomor rumah.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Semakin jauh dari pusat kota, semakin ramai kereta pedagang yang berpapasan. Beberapa mengenali lambang pos dan memberi jalan. Yang lain hanya melirik sekilas.
Sampai seorang saudagar tua menghentikan langkahnya di depan sebuah toko rempah.
Matanya tertuju kepada Kael.
Ia menyipitkan mata.
“Sebentar.”
Kael berhenti.
Saudagar itu mendekat.
“Kael?”
Kael menoleh.
“Ya.”
Wajah lelaki itu berubah.
“Kau benar-benar Kael.”
Arden melirik Kael.
Kael sendiri tampak bingung.
“Kita pernah bertemu?”
“Tidak secara langsung.”
Saudagar itu tertawa pendek.
“Tapi aku tahu namamu.”
Kael diam.