Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #6

Surat untuk Saudagar

Matahari siang menggantung tepat di atas Telmora, tetapi cahaya yang jatuh di antara bangunan-bangunan batu kota itu tidak pernah benar-benar terasa hangat. Atap-atap rumah dan gudang memantulkan putih menyilaukan, sementara jalan utama dipenuhi bayangan pendek dari balkon, tiang toko, dan kereta pengangkut barang yang hilir-mudik tanpa henti. Udara membawa campuran bau yang khas bagi distrik perdagangan—rempah kering, kulit yang baru disamak, minyak lampu, gandum, keringat kuda, dan debu batu yang terangkat setiap kali roda kereta menghantam permukaan jalan.

Kael berjalan di sisi kereta pos dengan sebuah tas kulit tebal tersampir di bahunya.

Tas itu tidak berat karena ukurannya, melainkan karena apa yang ada di dalamnya.

Surat.

Kertas-kertas yang bagi sebagian orang mungkin hanya berisi beberapa baris tinta, tetapi bagi jaringan perdagangan Telmora, lembaran itu bisa berarti pembayaran yang harus dilakukan, barang yang harus dikirim, perjanjian yang harus ditandatangani, atau kabar tentang seseorang yang menunggu di balik pintu rumah. Setiap amplop memiliki segel sendiri. Setiap nama memiliki alamat. Kesalahan sekecil apa pun bisa membuat seseorang kehilangan waktu, uang, atau kepercayaan.

Kael berhenti di persimpangan ketika sebuah kereta pengangkut kayu melintas di depannya. Tangannya secara naluriah bergerak ke arah pinggang.

Tidak ada kapak di sana.

Ia menarik kembali tangannya.

Arden yang berjalan beberapa langkah di belakangnya melihat gerakan itu.

"Kebiasaan?"

Kael melirik.

"Refleks."

"Bedanya?"

"Refleks bisa dihentikan."

Arden tersenyum tipis, lalu mengetukkan ujung tongkatnya ke batu jalan. Paha kirinya masih belum sepenuhnya pulih dari luka pisau beracun yang membuat langkahnya lebih lambat daripada dahulu. Namun beberapa minggu terakhir telah mengajarinya cara menyesuaikan ritme tanpa terus-menerus mengeluh tentang tubuhnya sendiri.

"Bagus," katanya. "Berarti kau mulai belajar."

Kael mendengus pelan.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Tujuan pertama mereka berada di distrik pedagang kain, sebuah kawasan yang dipenuhi toko bertingkat rendah dengan papan nama tergantung di atas pintu. Kain dari wilayah selatan, benang dari desa-desa pegunungan, pewarna mineral, sutra impor, dan pakaian seragam untuk berbagai kantor kerajaan berpindah tangan di tempat itu setiap hari.

Kael memeriksa surat pertama.

"Rumah Merrow."

Arden menunjuk bangunan tiga lantai di ujung jalan.

"Yang jendelanya pakai bingkai merah."

Kael memandangnya.

"Kenapa?"

"Karena alamatnya bilang begitu."

Kael menghela napas.

"Masuk akal."

Mereka mendekati pintu.

Seorang perempuan paruh baya membukanya sebelum Kael sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Rambutnya disanggul ketat, pakaiannya sederhana, tetapi cincin perak di jarinya menunjukkan bahwa ia bukan pelayan biasa.

"Surat untuk keluarga Merrow?"

"Benar."

"Segelnya?"

Kael mengangkat amplop itu.

Perempuan itu memeriksanya terlebih dahulu. Matanya berpindah dari lambang lilin merah ke wajah Kael, lalu kembali ke surat.

"Atas nama Tuan Merrow?"

"Ya."

"Beliau tidak ada."

"Apakah saya harus meninggalkannya?"

"Berikan kepadaku."

Kael tidak langsung menyerahkan.

Arden mengangkat alis.

Kael menunjuk tanda penerimaan pada bagian belakang amplop.

"Harus ada tanda tangan penerima."

Perempuan itu terdiam sesaat.

Kemudian sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Pengantar baru?"

"Sudah beberapa hari."

"Dan sudah mulai cerewet."

"Katanya pekerjaan ini membutuhkan ketelitian."

Arden menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.

Perempuan itu akhirnya mengambil surat, membubuhkan tanda tangan, lalu menyerahkan kembali buku catatan kepada Kael.

"Begini lebih baik."

Kael mengangguk.

"Terima kasih."

Ia berbalik.

"Pengantar."

Kael menoleh.

"Ya?"

"Kau punya wajah seperti orang yang pernah membunuh seseorang."

Kael diam.

Perempuan itu menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.

"Jangan khawatir. Itu bukan penghinaan."

Kael tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya ia hanya berkata, "Semoga harimu baik."

Ia pergi.

Begitu mereka mencapai ujung gang, Arden tertawa.

"Kau benar-benar tidak tahu harus menjawab apa."

"Harusnya aku bilang apa?"

"Entahlah. 'Terima kasih' mungkin."

"Untuk apa?"

"Karena tidak dianggap tampak seperti pembunuh."

Kael menatapnya datar.

Arden tertawa lagi.

Untuk sesaat, Telmora terasa jauh dari darah, reruntuhan, dan suara alarm yang pernah memenuhi malam mereka.

--o--

Surat kedua membawa mereka ke distrik kediaman bangsawan lokal.

Perubahan suasana terasa bahkan sebelum mereka tiba. Jalan menjadi lebih bersih. Batu-batu permukaannya tersusun lebih rapat, selokan tidak dipenuhi sisa sayuran atau debu pasar, dan rumah-rumah memiliki pagar besi dengan lambang keluarga terpahat pada tiang gerbang.

Di tempat seperti itu, Kael menjadi lebih berhati-hati.

Bukan karena takut.

Ia hanya belum terbiasa.

Seorang penjaga berjubah biru tua menghentikan mereka di depan sebuah rumah besar.

"Keperluan?"

"Pengantaran surat."

"Untuk siapa?"

Kael menyebut nama penerima.

Penjaga memandang tas kulit di bahunya.

"Lambang pos."

Kael memperlihatkan tanda logam kecil yang diberikan kantor pos Telmora.

Penjaga itu memeriksanya.

"Surat resmi?"

"Surat pribadi."

"Kalau begitu berikan kepadaku."

Kael menggeleng.

"Harus diterima langsung oleh penerima atau wakil yang ditunjuk."

Penjaga itu menatapnya lebih lama.

"Aturan baru?"

"Aturan lama."

Kali ini Arden tidak menyembunyikan senyum.

Penjaga itu menghela napas, kemudian memanggil seorang pelayan dari dalam rumah.

Beberapa menit kemudian, surat tersebut diterima oleh seorang wanita muda yang berpakaian sederhana tanpa banyak perhiasan. Ia membubuhkan tanda tangan dengan cepat, bahkan tidak membaca nama pengirim sebelum memasukkan surat ke dalam lengan bajunya.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Wanita itu memandang Kael.

"Anda baru?"

"Di pekerjaan ini, ya."

"Anda bukan orang Telmora."

"Belum lama tinggal di sini."

Tatapan wanita itu turun ke tangan Kael yang kosong.

"Kupikir pengantar surat biasanya membawa tongkat, bukan bekas luka."

Kael memandang telapak tangannya sendiri.

Ada garis-garis kasar yang tidak mungkin hilang hanya karena ia berhenti bertarung.

"Setiap pekerjaan meninggalkan bekas."

Wanita itu tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil, lalu masuk kembali ke rumah.

Arden menunggu sampai gerbang tertutup.

"Kau makin pintar bicara."

Kael mengernyit.

"Apakah itu pujian?"

"Belum tentu."

Mereka berjalan lagi.

Hari terus bergerak, dan bersama matahari, rute mereka membawa mereka melewati lapisan Telmora yang berbeda-beda.

Ada keluarga pengrajin yang tinggal di atas toko kecil mereka. Ada pemilik penginapan yang menerima surat dari pemasok gandum. Ada seorang perempuan tua yang tangannya gemetar ketika menerima surat dari putranya yang bekerja di kota lain. Ada pegawai gudang yang terlalu sibuk menghitung peti untuk mengangkat kepala. Ada pula keluarga bangsawan yang meminta Kael menunggu karena penerima sedang makan siang.

Kael menghadapi semuanya dengan cara berbeda.

Ia menunggu ketika harus menunggu.

Ia menjelaskan ketika orang tidak mengerti.

Ia menolak ketika seseorang mencoba menerima surat yang bukan atas namanya.

Ia meminta maaf ketika kereta mereka menghalangi jalan.

Tidak ada satu pun tindakan itu yang membutuhkan kapak.

Tidak ada yang membutuhkan sihir.

Dan anehnya, justru di situlah sesuatu dalam dirinya mulai terbuka.

Arden memperhatikannya sepanjang perjalanan.

Kael tidak banyak bicara, tetapi ketika seseorang berbicara kepadanya, ia mendengarkan.

Bukan mendengar seperti seorang petarung yang mencari ancaman dari nada suara seseorang.

Benar-benar mendengarkan.

--o--

Lihat selengkapnya