Cahaya siang tidak pernah benar-benar mencapai dasar reruntuhan itu.
Di permukaan, Telmora masih bergerak seperti biasa. Kereta barang melintas di jalan-jalan utama, lonceng toko berdentang, pedagang berteriak menawarkan harga, dan pekerja konstruksi yang selamat dari kecelakaan beberapa hari sebelumnya mulai membersihkan puing-puing dari kawasan yang ditutup kerajaan. Namun beberapa meter di bawah kaki mereka, dunia berubah menjadi ruang batu yang dingin dan lembap, tempat suara sekop terdengar seperti ketukan dari dalam peti mati.
Bau tanah basah bercampur kapur memenuhi udara.
Di mulut terowongan, dua baris prajurit kerajaan berdiri dengan tombak terhunus. Lambang matahari Solmaria terukir pada pelindung dada mereka, sebagian masih tertutup debu dari reruntuhan. Sebuah pita merah kerajaan direntangkan di antara tiang-tiang kayu untuk menandai batas wilayah terlarang.
Tidak seorang pun boleh masuk tanpa izin.
Hari itu, izin tersebut akhirnya diberikan.
"Pastikan penyangga diperiksa dua kali."
Seorang pejabat kerajaan berdiri di belakang garis pengaman sambil membaca lembar perintah yang telah diberi cap lilin kerajaan. Jubah abu-abunya tampak terlalu bersih dibandingkan tempat yang ia awasi.
Seorang prajurit mengangguk.
"Sudah diperiksa, Tuan."
"Dan?"
"Strukturnya stabil untuk sementara."
"Untuk sementara?"
Prajurit itu menelan ludah.
"Terowongan tua tidak bisa dijamin seperti bangunan baru."
Pejabat tersebut menatap lubang gelap di hadapannya.
"Karena itu kalian membawa peneliti."
Tidak ada yang membantah.
Tiga peneliti istana turun lebih dahulu.
Mereka membawa lentera minyak dengan kaca tebal, gulungan kertas, alat ukur, kompas, tali penanda, dan kotak kayu berisi bubuk kapur. Seorang di antara mereka bahkan membawa papan tulis kecil yang dilapisi lilin agar bisa digunakan di tempat lembap.
Peneliti paling tua berhenti ketika sepatunya menyentuh dasar lorong.
Ia mengangkat lentera.
Cahaya kuning bergerak di sepanjang dinding.
Bekas penggalian manusia terlihat jelas di beberapa bagian. Tetapi lebih dalam, batu berubah.
Dindingnya tidak lagi kasar karena alat gali.
Ia dipahat.
"Masih utuh."
Suara peneliti itu rendah.
Peneliti kedua mendekat.
"Bagian relief?"
"Ya."
Mereka terus berjalan.
Prajurit mengikuti dari belakang dalam formasi rapat. Empat orang di depan, dua di belakang, menyisakan ruang bagi peneliti untuk bekerja. Setiap beberapa langkah, seorang prajurit menancapkan penanda kayu kecil ke tanah.
Mereka tidak tahu apa yang berada di bawah sana.
Itulah alasan mereka tidak mengambil risiko.
--o--
Ruang pertama yang mereka temukan masih memiliki langit-langit rendah akibat reruntuhan.
Puing-puing dari konstruksi di atas telah menembus beberapa bagian atap terowongan, tetapi relief pada dinding sebelah timur tetap bertahan. Pada pemeriksaan sebelumnya, para peneliti hanya berhasil memetakan sebagian kecilnya sebelum kondisi tanah memaksa mereka mundur.
Hari ini mereka kembali untuk menyelesaikannya.
Sebuah meja lipat didirikan.
Kertas dibentangkan.
Peneliti kedua menempelkan lembaran tipis pada permukaan batu dengan pasak kecil.
"Mulai dari bagian yang belum tercatat."
Peneliti muda di sampingnya mengangguk.
Ia mengambil arang.
Tangannya bergerak perlahan.
Bukan menyalin gambar secara langsung, melainkan mengikuti kontur relief dengan ujung alat tipis, mencatat kedalaman setiap garis, sudut patahan, dan jarak antara simbol.
Cahaya lentera bergoyang.
Bayangan relief bergerak seperti makhluk hidup.
Pola yang sebelumnya terlihat sebagai rangkaian garis acak perlahan membentuk susunan yang lebih jelas.
Ada jalur panjang.
Ada lingkaran.
Ada bentuk menyerupai cabang.
Namun tidak ada sosok manusia.
Tidak ada matahari.
Tidak ada lambang kerajaan.
Tidak ada motif geometris yang lazim digunakan pada bangunan kuno Solmaria.
Peneliti tertua mengusap permukaan batu dengan ujung jarinya.
"Berhenti."
Arang berhenti bergerak.
"Apa?"
"Bagian ini."
Ia menunjuk tiga garis yang bertemu di satu titik.
"Salin ulang."
Peneliti muda memperhatikan.
"Kenapa?"
"Sudutnya tidak sama dengan bagian sebelumnya."
"Karena reliefnya rusak?"
"Belum tentu."
Ia berjongkok.
Lentera didekatkan.
Garis itu bukan retakan.
Ia merupakan bagian dari ukiran.
"Ini sengaja dibuat."
Peneliti kedua memandang salinan di atas kertas.
"Tiga jalur."
"Empat."
"Empat?"
Peneliti tertua menunjuk bagian bawah yang tertutup debu.
Mereka membersihkannya perlahan.
Satu garis lain muncul.
Tidak menuju keluar.
Ia turun.
Peneliti muda mengangkat wajah.
"Apakah ini peta?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk sesuatu yang belum mereka pahami.
Peneliti tertua akhirnya berkata, "Mungkin."
Ia berdiri.
"Jangan sebut peta dalam catatan sampai kita punya bukti."
Peneliti muda mengangguk.
"Baik."
Mereka kembali bekerja.
Berjam-jam sebelumnya, mereka mengira relief itu hanyalah bagian dari dekorasi bangunan bawah tanah yang tidak dikenal. Kini setiap garis mulai tampak seperti sesuatu yang lebih fungsional.
Bukan hiasan.
Petunjuk.
--o--
Menjelang pertengahan siang, salinan relief telah memenuhi hampir seluruh meja.
Peta-peta kecil disusun berdampingan.
Penanda batu ditempatkan di atas kertas untuk menunjukkan titik-titik yang sudah dikonfirmasi.
Seorang prajurit masuk dari lorong sebelah.
"Jalur selatan sudah diperiksa."
Peneliti tertua mengangkat kepala.
"Berapa panjang?"