Sore turun perlahan di atas Istana Solmaria, membiarkan cahaya keemasan menempel pada kaca-kaca tinggi dan pilar batu putih yang menghadap halaman dalam. Dari luar, istana tampak tenang. Bendera kerajaan bergerak pelan di bawah angin, penjaga berdiri pada pos masing-masing, dan suara tapak sepatu para pelayan terdengar teratur di sepanjang koridor marmer. Namun di lantai yang lebih dalam, jauh dari ruang audiensi dan balkon tempat para bangsawan biasa berkumpul, sebuah pintu kayu hitam tertutup rapat di balik dua penjaga kerajaan.
Di balik pintu itu, sebuah laporan sedang menunggu untuk mengubah cara seseorang memandang sebuah reruntuhan.
"Masuk."
Suara Raja Rachlar Rioviani terdengar dari dalam.
Pintu dibuka.
Tiga orang masuk.
Peneliti istana berjalan paling depan sambil membawa tabung kulit berisi lembaran-lembaran peta. Di belakangnya, seorang pejabat kerajaan membawa laporan tertulis yang telah diberi beberapa cap pengesahan. Seorang prajurit berdiri di luar pintu setelah memastikan mereka masuk, lalu menutupnya kembali.
Ruang kerja sang raja tidak sebesar aula kerajaan.
Justru sebaliknya.
Rak-rak kayu memenuhi sebagian dinding. Peta Solmaria tergantung di belakang meja kerja. Beberapa dokumen tersusun dalam tumpukan yang rapi, masing-masing memiliki warna segel berbeda berdasarkan tingkat kepentingannya. Di salah satu sisi ruangan terdapat meja panjang tempat laporan militer, catatan pajak, dan surat dari para gubernur wilayah diletakkan terpisah.
Rachlar duduk di balik meja.
Ia tidak mengenakan mahkota.
Hanya pakaian kerajaan berwarna gelap dengan lambang matahari Solmaria pada dada. Rambutnya tersisir rapi, dan satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi sementara tangan lainnya memegang pena.
"Letakkan."
Pejabat itu menaruh laporan di atas meja.
"Yang Mulia. Ini laporan lengkap mengenai struktur bawah tanah yang ditemukan di lokasi konstruksi Telmora."
Rachlar tidak langsung mengambilnya.
"Lengkap?"
"Sejauh yang dapat dipastikan."
Tatapan Rachlar berpindah kepada peneliti.
"Sejauh yang dapat dipastikan?"
Peneliti itu menundukkan kepala.
"Beberapa jalur masih belum dapat diakses, Yang Mulia."
"Namun?"
"Kami telah menyelesaikan pemetaan bagian yang dapat dicapai."
Rachlar mengulurkan tangan.
Laporan itu dibuka.
Halaman pertama berisi lokasi penemuan.
Halaman kedua memuat deskripsi struktur.
Halaman ketiga memperlihatkan salinan relief.
Rachlar berhenti di sana.
Matanya bergerak perlahan mengikuti garis-garis yang digambar peneliti. Tidak ada wajah manusia. Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada pola geometris yang biasa ditemukan pada bangunan tua Solmaria.
Hanya garis.
Cabang.
Lingkaran.
Dan jalur yang tampak seperti jaringan.
"Ini yang kalian temukan?"
"Ya, Yang Mulia."
"Sudah dibandingkan?"
"Sudah."
Rachlar mengangkat wajah.
"Dengan apa?"
"Arsitektur manusia yang tercatat di wilayah kerajaan. Termasuk reruntuhan tua di wilayah utara, kompleks pemukiman awal, bangunan keagamaan, dan jaringan saluran bawah tanah yang telah didokumentasikan sebelumnya."
"Hasilnya?"
Peneliti menarik napas.
"Tidak ada kesesuaian yang cukup untuk menyatakan bahwa pola ini berasal dari tradisi arsitektur manusia Solmaria."
Rachlar kembali melihat kertas.
Jarinya berhenti pada satu bagian relief.
"Dan jalur ini?"
Peneliti mendekat.
"Itu cabang yang mengarah ke barat daya."
"Seberapa yakin kalian?"
"Sudah diverifikasi."
Rachlar tidak mengangkat kepala.
"Bagaimana?"
"Orientasi kompas diperiksa ulang. Titik permukaan dicocokkan dengan posisi aktual. Kami juga membandingkan beberapa titik relief dengan jalur terowongan yang berhasil kami masuki."
"Dan?"
"Hasilnya konsisten."
Rachlar membalik halaman.
Di sana terdapat peta yang lebih besar.
Telmora digambar sebagai titik utama.
Beberapa garis bercabang dari bawah kota.
Satu jalur memanjang jauh ke barat daya.
Rachlar mengikuti garis itu dengan matanya.
Ia melewati batas distrik.
Melewati wilayah administratif Solmaria.
Kemudian berhenti pada garis hitam yang membatasi kerajaan.
Umbra Veil.
Ruangan itu sunyi.
Rachlar menyandarkan tubuhnya.
"Ini sudah diverifikasi?"
Peneliti mengangguk.
"Beberapa kali, Yang Mulia."
"Bukan kesalahan orientasi?"
"Tidak."
"Kesalahan pembacaan peta?"