Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #9

Tiga Penyihir

Langit di atas lereng itu berwarna putih pucat.

Matahari sudah naik cukup tinggi untuk menghapus bayangan panjang dari bebatuan, tetapi panasnya belum mampu mengusir dingin yang tersisa dari malam. Tanah kering retak di antara bongkahan batu hitam, semak-semak mati bergesekan diterpa angin, dan debu tipis melayang di udara setiap kali ledakan menghantam lereng.

Kemudian cahaya meledak lagi.

Ledakan pertama menghantam batu di sebelah kiri Vynn.

Tanah terangkat.

Pecahan batu berdesing melewati telinganya.

Vynn menundukkan tubuh tepat sebelum gelombang kedua menghantam reruntuhan di belakangnya. Dinding batu tua yang telah retak sejak entah berapa tahun bergetar keras. Debu jatuh dari celah-celahnya, menutupi rambut dan bahunya.

Ia tidak bergerak.

Belum.

Tiga detik.

Ledakan.

Dua detik.

Ledakan berikutnya.

Vynn membuka mata sedikit.

Di balik kabut debu, ia melihat kilatan cahaya dari lereng seberang.

Wizard.

Bukan satu.

Tiga.

Mereka berdiri terpencar di antara batu-batu tinggi, cukup jauh untuk menyulitkan serangan langsung. Cadangan inkarnasi yang besar membuat mereka mampu mempertahankan bombardir tanpa perlu mendekat. Setiap beberapa detik, salah satu dari mereka mengangkat tangan, dan lingkaran cahaya terbentuk sebelum proyektil sihir meluncur menuruni lereng.

Ledakan berikutnya mengguncang tanah.

Vynn merapatkan punggung ke batu.

Napasnya pendek.

Bukan karena kehabisan tenaga.

Karena ia tahu waktu sedang bekerja untuk pihak yang salah.

Jika terus bertahan, mereka akan mati di tempat itu.

Batu di atas kepalanya kembali retak.

Vynn mendongak.

Retakan baru menjalar sepanjang permukaan.

Ia mengamati bentuk reruntuhan di sekelilingnya.

Tiang patah.

Dinding setengah roboh.

Lorong sempit yang tertutup puing.

Bongkahan batu yang membentuk celah-celah sempit di antara satu sama lain.

Selama beberapa menit terakhir, semua itu hanya menjadi perlindungan.

Sekarang Vynn melihat sesuatu yang berbeda.

Jalur.

Matanya mengikuti susunan reruntuhan dari tempatnya berlindung menuju sisi kanan lereng.

Tidak lurus.

Tidak aman.

Tetapi cukup untuk mendekat tanpa terlihat dari seluruh posisi wizard.

Vynn mengusap debu dari sudut matanya.

Mereka terlalu bergantung pada jarak.

Itulah kesalahan pertama mereka.

Kesalahan kedua adalah mengira bombardir yang terus-menerus akan membuatnya tetap berada di tempat.

Vynn menunggu ledakan berikutnya.

Cahaya menyala.

Ia bergerak.

--o--

Di balik sebuah punggungan batu yang lebih tinggi, tiga ranger Abbysal Sovereign berjongkok dalam posisi rendah.

Busur mereka telah ditarik.

Ketiganya mengenakan perlengkapan ringan berwarna gelap, jauh berbeda dari prajurit garis depan yang mengandalkan lapisan pelindung tebal. Tidak ada ornamen berlebihan pada pakaian mereka. Hanya lambang kecil Abbysal Sovereign yang terukir pada pengikat lengan.

Salah satu dari mereka mengintip ke arah lereng.

"Masih hidup."

Ranger kedua menggeser posisi.

"Perintah?"

Suara dari belakang mereka terdengar datar.

"Bidik para wizard."

Putri Klan Vorr berdiri beberapa langkah dari mereka.

Jubahnya bergerak ditiup angin. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya tidak pernah lepas dari medan di depan.

"Jangan kejar Vynn."

Ketiga ranger menoleh.

"Alihkan konsentrasi mereka."

"Dimengerti."

Busur kembali ditarik.

Tali bergetar.

Anak panah pertama melesat.

Bukan menuju Vynn.

Ia menembus udara menuju posisi wizard paling kanan.

Wizard itu menyadari serangan tersebut sesaat sebelum anak panah menghantam batu di depannya.

Krak.

Batu pecah.

Ia mundur.

Anak panah kedua menyusul.

Lalu ketiga.

Wizard kedua harus menghentikan pembentukan lingkaran sihirnya dan memiringkan tubuh untuk menghindari panah yang menancap tepat di tanah di samping kakinya.

Bombardir berhenti.

Hanya sesaat.

Tetapi Vynn tidak membutuhkan lebih dari itu.

Ia keluar dari balik reruntuhan.

Cepat.

Bukan menuju posisi wizard secara langsung.

Ia bergerak menyamping.

Satu langkah ke balik tiang patah.

Dua langkah melewati celah batu.

Tubuhnya merendah saat sebuah proyektil sihir melintas di atas kepalanya.

Ledakan menghantam tanah di belakang.

Vynn tidak menoleh.

Ia sudah mengetahui pola berikutnya.

Wizard pertama akan menembak.

Wizard kedua akan menutup jalur.

Wizard ketiga akan menunggu sampai target keluar dari perlindungan.

Selama ini mereka mengira pola itu membuat mereka aman.

Bagi Vynn, pola itu justru menjadi peta.

Ia bergerak ke kiri.

Proyektil kedua menghantam kanan.

Vynn melompat melewati batu rendah.

Cahaya menyala di depannya.

Ia berhenti mendadak.

Ledakan.

Lihat selengkapnya