Menjelang siang, matahari telah berubah menjadi cakram putih yang menyakitkan mata.
Tidak ada awan di langit. Tidak ada pepohonan cukup tinggi untuk memberikan teduh. Hanya lereng gersang yang dipenuhi batu hitam, tanah pecah, dan sisa-sisa bangunan tua yang telah lama ditinggalkan. Angin membawa debu halus dari puncak lereng dan menggesernya di antara kaki para petarung, membuat medan itu tampak seperti terus bergerak meski tidak ada satu pun dari mereka yang mundur.
Vynn berdiri di balik reruntuhan setinggi dada.
Napasnya berat.
Di hadapannya, dua wizard yang masih mampu bertarung telah mengambil posisi baru. Yang satu berada di sisi kiri, berlindung di balik bongkahan batu besar. Yang lainnya menempati ketinggian lebih rendah di sebelah kanan. Mereka tidak lagi menembak bersamaan seperti sebelumnya.
Mereka telah belajar.
Vynn juga.
Ia mengintip melalui celah batu.
Lingkaran cahaya muncul di kiri.
Tidak langsung ditembakkan.
Wizard itu menunggu.
Vynn tidak bergerak.
Kemudian lingkaran kedua muncul di kanan.
Lebih kecil.
Lebih cepat.
Vynn menurunkan kepala.
Mantra pertama melesat melewati reruntuhan.
Ledakan.
Batu di atasnya pecah.
Mantra kedua datang hampir bersamaan, tetapi bukan menuju tempat persembunyiannya.
Ia menghantam jalur keluar.
Vynn menyipitkan mata.
Mereka mulai bergantian.
Bukan untuk memberinya celah.
Untuk menghilangkannya.
Wizard pertama menyerang.
Wizard kedua menutup.
Kemudian wizard pertama kembali mengambil alih.
Jika ia keluar sekarang, ia akan masuk tepat ke jalur serangan berikutnya.
Vynn mundur sedikit.
Ia tidak lagi melihat para wizard sebagai dua orang.
Ia melihat mereka sebagai sebuah mekanisme.
Satu membuka.
Satu menutup.
Satu menggunakan energi.
Satu menjaga jarak.
Dan setiap kali salah satu dari mereka melepaskan serangan besar, yang lain mengambil waktu untuk mempertahankan posisi.
Ada celah.
Kecil.
Sangat kecil.
Tetapi ada.
Vynn menoleh.
Tiga ranger Abbysal Sovereign masih berada di balik punggungan batu. Salah satu dari mereka telah berpindah beberapa meter dari posisi semula agar dapat melihat sisi kiri medan. Dua lainnya tetap rendah dengan busur siap.
Vynn mengangkat dua jari.
Ranger terdekat memperhatikannya.
Vynn menunjuk wizard di kiri.
Kemudian membuat gerakan pendek dengan tangannya.
Pancing.
Ranger itu mengangguk.
Ia memberi isyarat kepada dua rekannya.
Tiga busur terangkat.
Tali ditarik.
Tidak ada aba-aba.
Panah pertama melesat.
Wizard kiri segera bereaksi.
Perisai cahaya terbentuk.
Panah patah.
Panah kedua datang dari sudut lain.
Wizard itu memutar tubuh.
Perisainya bergeser.
Panah ketiga menancap di batu di sampingnya.
Tidak satu pun mengenai sasaran.
Namun itu memang bukan tujuan mereka.
Wizard kiri terpaksa bergeser keluar dari posisi perlindungannya.
Sedikit saja.
Cukup untuk membuat formasinya berubah.
Vynn bergerak.
--o--
Ia berlari rendah di antara pepohonan dan reruntuhan.
Tidak lurus.
Kaki kirinya menginjak batu datar, lalu mendorong tubuhnya ke sisi lain. Ia menggunakan dinding runtuh sebagai penutup dari pandangan wizard kanan. Ketika sebuah proyektil sihir menghantam reruntuhan di belakangnya, ia tidak berhenti.
Ledakan kedua menyusul.
Panas menyapu punggungnya.
Ia terus bergerak.
Wizard kiri melihatnya terlambat.
"Di sana!"
Ia mengangkat tangan.
Vynn sudah tidak berada di jalur yang sama.
Ia menyelinap ke balik tiang patah, lalu berbelok tajam.
Wizard itu menembakkan sihir.
Vynn melompat.
Proyektil melewati bawah kakinya dan menghantam tanah.
Debu meledak.
Dalam kabut itu, Vynn masuk.
Jarak jauh adalah kekuatan wizard.
Jarak dekat adalah hukuman.
Ia menghantam lengan lawan sebelum mantra berikutnya terbentuk. Pergelangan tangan wizard terpelintir. Cahaya yang berkumpul di telapak tangannya pecah menjadi serpihan energi.
Wizard itu mundur.
Vynn maju.