Matahari telah naik terlalu tinggi ketika lereng itu akhirnya kehilangan warna.
Cahaya putih menimpa batu-batu pegunungan yang retak, membuat permukaannya menyilaukan seperti tulang yang baru dikuliti. Debu halus berputar di antara reruntuhan, tersangkut pada kain mantel, rambut, dan celah-celah zirah. Tidak ada pepohonan yang cukup besar untuk memberi teduh. Hanya dinding batu tua, jalur sempit, dan bayangan pendek yang bergerak mengikuti posisi matahari.
Vynn berlari di antara dua bongkah reruntuhan.
Di depannya, kereta Putri Vorr mulai bergerak memasuki celah pegunungan.
Di belakangnya, suara pasukan Zarchon semakin dekat.
Dan di sisi kiri, seorang wizard yang tersisa mengangkat kedua tangannya.
Vynn berhenti.
Bukan karena takut.
Karena ia mengenali bentuk gerakannya.
Lingkaran mana mulai terbentuk di antara kedua telapak tangan wizard itu. Cahaya gelap berdenyut, terkumpul seperti air yang dipaksa masuk ke wadah sempit. Bukan serangan besar. Tidak perlu.
Jalur sempit itu sendiri adalah senjata.
"Berhenti!"
Suara Vynn memotong deru angin.
Ranger Abbysal Sovereign yang berada paling dekat dengan kereta langsung menarik kendali. Roda kereta bergesekan kasar dengan batu, membuat seluruh badan kereta berguncang.
Putri Vorr menyibak tirai jendela.
"Apa?"
"Jalur depan akan ditutup."
Belum sempat sang putri menjawab, tanah di ujung celah bergemuruh.
Sebuah ledakan menghantam dinding batu.
Bongkahan besar runtuh ke jalan.
Debu membubung.
Jalur yang semula cukup untuk dua kereta kini hanya menyisakan ruang sempit bagi satu orang untuk lewat.
Ranger itu mengumpat pelan.
Vynn menatap reruntuhan yang baru saja terbentuk.
Kemudian ia menoleh ke belakang.
Pasukan Zarchon tidak mengejar secara membabi buta.
Mereka berhenti di mulut jalur.
Tidak maju.
Tidak menembakkan sihir.
Hanya menunggu.
Mata Vynn menyipit.
Ada sesuatu yang salah.
Jika tujuan mereka hanya membunuh seluruh rombongan, mereka tidak akan berhenti sekarang.
Mereka memiliki jumlah.
Mereka memiliki posisi.
Mereka telah memaksa karavan masuk ke tempat yang tidak memberi ruang untuk bergerak.
Namun mereka tidak menyerang.
Sebaliknya, dua kelompok kecil mulai bergerak ke sisi kanan dan kiri reruntuhan.
Mereka tidak mengepung seluruh rombongan.
Mereka mengepung sesuatu yang jauh lebih spesifik.
Pandangan Vynn berpindah ke kereta di tengah rombongan.
Kereta Vorr.
"Jangan..."
Ia baru mengucapkannya ketika suara anak panah terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ranger di depan kereta menangkis dua anak panah dengan pedangnya. Anak panah ketiga menancap pada papan samping kereta.
Putri Vorr menarik kembali tirainya.
"Target mereka aku?"
Vynn tidak menjawab.
Jawabannya sudah terlihat.
Salah satu prajurit musuh berteriak dari balik batu.
"Jangan bunuh siapa pun yang tidak perlu!"
Kalimat itu terdengar jelas.
Terlalu jelas.
Vynn memandang medan di sekelilingnya.
Mereka tidak sedang membantai.
Mereka sedang menggiring.
Setiap serangan sebelumnya telah memaksa rombongan mengambil posisi tertentu. Setiap wizard menutup ruang yang berbeda. Setiap gerakan pasukan Zarchon membuat karavan mundur sedikit demi sedikit sampai akhirnya masuk ke celah pegunungan ini.
Bukan kebetulan.
Bukan pertemuan mendadak.
Sebuah perangkap.
Dan kereta Vorr adalah pusatnya.
"Ranger!"
Salah satu ranger menoleh.
"Ya?"
"Bawa kereta masuk lebih dalam."
"Ada batu runtuh di depan."
"Cari celah."
"Dan kau?"
Vynn menarik senjatanya.
"Aku buka jalan."
Ranger itu menatapnya beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
"Dimengerti."
Kereta mulai bergerak.
Roda kayunya menghantam batu-batu kecil. Dua ranger mengambil posisi di sampingnya, sementara yang lain bergerak di belakang untuk menjaga jarak dari pasukan Zarchon.
Vynn tetap berdiri.
Sendirian.
Wizard di ujung jalur masih mengangkat kedua tangannya.
Ia menunggu.
Vynn tersenyum tipis.
"Bukan begitu."
Wizard itu mengerutkan dahi.
Vynn menundukkan tubuh.