Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #12

Putri Vorr

Matahari sore menggantung rendah di antara puncak-puncak pegunungan, tetapi panasnya belum juga surut. Cahaya keemasan menempel pada permukaan batu yang gersang, memanjangkan bayangan reruntuhan hingga menyerupai jari-jari hitam yang merayap di atas tanah. Udara dipenuhi debu, bau logam dari darah, dan sisa mana yang terbakar. Setiap tarikan napas terasa kasar di tenggorokan.

Vynn berlari.

Di hadapannya, kereta Putri Vorr telah terpisah dari rombongan.

Roda belakangnya memotong jalur sempit di antara dua tebing batu. Dua ranger masih berusaha mengejar, tetapi formasi mereka telah pecah. Sebuah kereta pengangkut terbalik di belakang mereka, menghalangi jalur utama. Beberapa anggota karavan berteriak meminta bantuan, sementara suara benturan senjata terdengar dari berbagai arah.

Namun Vynn hanya melihat satu hal.

Kereta itu.

"Vorr!"

Ia mempercepat langkah.

Tiga orang penculik membawa sang putri keluar dari kereta melalui sisi kanan. Mereka bergerak cepat, seolah sudah mengetahui persis ke mana harus pergi.

Vynn tidak membutuhkan penjelasan.

Jalur itu telah disiapkan.

"Berhenti!"

Salah satu ranger menoleh.

"Vynn, jangan—!"

Ledakan menghantam lereng.

Tanah terangkat di depan Vynn.

Ia memutar tubuh tepat sebelum gelombang mana menghantam. Batu-batu kecil berhamburan melewati wajahnya. Pandangannya sempat tertutup debu.

Wizard.

Satu lingkaran sihir terbentuk di atas reruntuhan.

Kemudian lingkaran kedua.

Vynn menggeram.

Mereka tidak mencoba membunuhnya.

Mereka mencoba memperlambatnya.

Ia melompat ke balik batu ketika proyektil sihir menghantam tanah. Ledakan kedua datang dari sisi berbeda. Yang ketiga menghantam jalur di belakangnya, memutus hubungan dengan rombongan.

Vynn menatap celah di antara dua serangan.

Terlambat.

Kereta telah mencapai jalur samping.

Putri Vorr dibawa masuk ke lorong sempit yang hampir tidak terlihat dari jalur utama.

Vynn menggertakkan gigi.

Ia memaksa tubuhnya maju.

Satu langkah.

Dua.

Wizard kembali menembak.

Kali ini ia tidak berhenti.

Sebuah ledakan menyambar bahunya.

Tubuh Vynn terpental dan menghantam batu.

Napasnya terputus.

Ia jatuh berlutut.

Di kejauhan, suara Putri Vorr terdengar.

Tidak jelas.

Hanya satu teriakan pendek yang segera ditelan oleh gema pegunungan.

Vynn bangkit.

"Vorr!"

Ia berlari lagi.

Lorong itu tinggal beberapa puluh langkah.

Ia bisa melihat salah satu pengawal penculik.

Pria itu membawa pedang pendek dan mengenakan pelindung kulit gelap tanpa lambang klan.

Vynn menerjang.

Pedangnya beradu.

Satu tebasan.

Pengawal itu menangkis.

Vynn memutar pergelangan tangan dan menghantamkan gagang senjata ke wajahnya.

Tulang hidung patah.

Pria itu mundur.

Vynn menebas lagi.

Pengawal itu jatuh.

Yang kedua datang dari samping.

Vynn memutar tubuh, menahan tusukan dengan bilah senjatanya, kemudian menghantam tenggorokan lawan dengan siku.

Pria itu terbatuk.

Vynn menusuk.

Dua tubuh jatuh di tanah.

Namun lorong di depan telah kosong.

Tidak ada Putri Vorr.

Lihat selengkapnya