Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #15

Jenderal yang Tidak Pulang

Malam telah menelan istana Umbra Veil ketika lampu-lampu minyak di ruang strategi dinyalakan satu demi satu. Cahaya kekuningan merayap di atas meja batu hitam, memantulkan garis-garis peta wilayah yang terukir begitu dalam hingga tampak seperti luka lama pada permukaannya. Di balik jendela-jendela tinggi, kabut turun dari pegunungan dan menggantung di atas benteng, menutupi menara-menara luar sampai hanya puncaknya yang terlihat seperti gigi patah di antara langit tanpa bulan.

Di tengah ruangan, sebuah laporan terbuka.

Segelnya telah dipatahkan.

Zareth Noctarius berdiri di ujung meja tanpa menyentuh kursi yang disediakan untuknya. Jubah hitamnya jatuh lurus hingga menyentuh lantai. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk sebuah laporan yang membawa begitu banyak nama orang mati.

Di hadapannya, tiga orang berdiri dalam diam.

Seorang penasehat kerajaan. Seorang pejabat militer. Seorang pencatat yang membawa salinan laporan dengan kedua tangan.

Tak seorang pun berbicara sampai Zareth membalik halaman pertama.

"Operasi pengawalan," katanya pelan.

Pencatat menunduk.

"Ya, Yang Mulia."

"Target?"

"Putri Klan Vorr."

Zareth menggeser jarinya mengikuti baris laporan. Matanya bergerak perlahan, tidak melewatkan satu pun catatan tentang jalur perjalanan, waktu penyergapan, posisi pasukan, dan perubahan formasi.

Lalu ia berhenti.

"Korban."

Pejabat militer menarik napas pendek.

"Pasukan pengawal dari Abbysal Sovereign dinyatakan tewas seluruhnya."

Zareth mengangkat mata.

"Seluruhnya?"

"Ya, Yang Mulia."

"Dan Dornhart?"

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Pencatat menelan ludah sebelum menjawab.

"Jenderal Dornhart juga gugur."

Tidak ada perubahan pada wajah Zareth.

Tidak ada tarikan napas panjang. Tidak ada kepalan tangan. Tidak ada kutukan.

Hanya satu gerakan kecil ketika ibu jarinya berhenti di atas tepi kertas.

Dornhart.

Nama itu memiliki bobot yang berbeda.

Bukan karena jumlah prajurit yang berada di bawahnya. Bukan karena gelar yang dibawanya. Bahkan bukan karena kedudukannya sebagai salah satu jenderal senior yang pernah dipercaya membawa pasukan Umbra Veil melewati wilayah yang tidak akan disentuh oleh kebanyakan prajurit biasa.

Dornhart adalah orang yang memahami medan.

Ia tahu kapan harus menyerang, kapan harus mundur, dan yang lebih penting, kapan sebuah kemenangan kecil sebenarnya hanyalah awal dari kekalahan yang lebih besar.

Orang seperti itu tidak mudah digantikan.

"Operasinya berhasil?" tanya Zareth.

Pejabat militer terdiam sepersekian detik.

"Target tidak diamankan."

Jari Zareth bergerak lagi.

Satu halaman.

Dua halaman.

Tiga.

Ia membaca tanpa suara. Di beberapa bagian, laporan itu mencatat kematian pasukan Abbysal Sovereign sebagai kerugian besar. Ada catatan mengenai tiga wizard yang berhasil dibunuh. Ada keterangan tentang perlawanan sengit, perubahan posisi, dan upaya mempertahankan jalur mundur.

Tetapi di bagian akhir, kalimatnya tetap sama.

Target tidak berhasil dipertahankan.

Putri Vorr telah diculik.

Zareth menutup laporan setengahnya.

"Jadi," katanya, "kita kehilangan Dornhart, seluruh unit elit Abbysal Sovereign, dan target tetap jatuh ke tangan musuh."

"Operasi tersebut menghadapi kekuatan yang tidak terduga, Yang Mulia."

"Itu bukan jawaban."

Pejabat militer menundukkan kepala lebih dalam.

"Jenderal Dornhart memilih mengambil risiko besar."

"Memilih?"

Zareth mengucapkan kata itu tanpa meninggikan suara.

Namun pejabat tersebut langsung terdiam.

Zareth membuka kembali laporan.

"Semua komandan membuat pilihan ketika mereka berada di medan perang. Menyebutnya sebagai risiko tidak menjelaskan mengapa risiko itu diambil, siapa yang memaksanya, dan mengapa lawan sudah memiliki posisi sebelum rombongan memasuki wilayah tersebut."

Penasehat kerajaan saling bertukar pandang dengan pejabat militer.

Zareth melanjutkan membaca.

Ada sesuatu dalam laporan yang tidak disukainya.

Bukan sekadar kegagalan.

Kegagalan adalah sesuatu yang dapat dipelajari.

Yang mengganggunya adalah bentuk kegagalan itu.

Penyergapan tidak muncul secara spontan.

Musuh memiliki wizard dalam jumlah besar. Mereka memiliki posisi tembak. Mereka mampu memaksa pasukan pengawal bergerak ke arah tertentu. Mereka bahkan memiliki jalur keluar yang telah disiapkan sebelum kereta Putri Vorr berhasil dipisahkan dari rombongan.

Itu bukan gerombolan perampok.

Itu operasi.

Zareth mengangkat kepalanya.

"Berapa lama Dornhart berada di wilayah tersebut sebelum kontak pertama?"

Pencatat membuka lembar tambahan.

"Menurut laporan, sekitar tiga hari, Yang Mulia."

"Dan jalur penyergapan?"

"Belum dapat dipastikan kapan dipersiapkan."

"Belum?"

Pencatat membeku.

Pejabat militer segera menjawab.

"Medan pegunungan membuat pemeriksaan sulit. Tidak ada indikasi yang cukup untuk memastikan—"

"Indikasi."

Zareth memandangnya.

"Selalu kata yang nyaman."

Pejabat itu menunduk.

Zareth kembali kepada laporan.

Di ujung meja terdapat peta kecil wilayah perbatasan. Garis merah menunjukkan rute yang dilalui rombongan. Beberapa tanda hitam menunjukkan titik-titik tempat pasukan ditemukan tewas.

Satu tanda berada jauh dari jalur utama.

Dua lainnya berada di sisi timur.

Tiga titik lain membentuk pola yang hampir seperti setengah lingkaran.

Zareth menggeser peta mendekat.

"Ini posisi tiga wizard?"

"Benar."

"Dan Dornhart mati di sini?"

"Ya."

"Di mana target terakhir terlihat?"

Pencatat menunjuk titik lain.

Zareth diam.

Jarak antara keduanya tidak jauh.

Namun cukup untuk menunjukkan sesuatu.

Musuh tidak perlu membunuh seluruh pasukan.

Mereka hanya perlu membuka jalan.

"Berapa banyak yang melarikan diri?" tanya Zareth.

"Belum ada kepastian mengenai jumlah akhirnya."

Zareth menatap laporan itu beberapa saat.

"Jadi kita bahkan belum mengetahui berapa banyak saksi yang tersisa."

"Yang Mulia, pasukan Umbra Veil tidak terlibat langsung dalam operasi tersebut."

Lihat selengkapnya