Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #16

Senjata Baru

Pagi di Telmora datang bersama bunyi logam yang dipukul.

Kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap bangunan ketika suara palu dari bengkel Arelith memecah udara, teratur dan berat, seperti denyut jantung sesuatu yang belum sepenuhnya bangun. Bau arang, minyak, dan besi panas memenuhi ruangan. Cahaya matahari yang baru menembus celah jendela jatuh pada serpihan logam di lantai, membuatnya berkilau seperti pecahan tulang.

Kael berdiri di depan meja kerja.

Di atas kain hitam yang dibentangkan Arelith, terbaring sesuatu yang sekilas masih dapat dikenali sebagai senjata lamanya.

Dua kapak.

Namun keduanya telah kehilangan bentuk aslinya.

Mata kapak yang sebelumnya terpisah kini dipasang pada satu poros panjang. Gagangnya menjulur jauh melewati ukuran yang biasa digunakan Kael, hampir dua kali panjang senjata sebelumnya. Pada kedua ujungnya, bilah melengkung menghadap arah berlawanan, membentuk satu senjata yang tampak lebih dekat dengan tombak bermata kapak daripada sepasang kapak tangan.

Kael menatapnya cukup lama.

"Ini?"

Arelith mengangguk.

"Senjatamu."

"Sepertinya bukan."

"Karena kau terbiasa melihat dua senjata."

Kael meraih gagangnya.

Begitu telapak tangannya menutup kayu yang dilapisi kulit, ia langsung merasakan perbedaannya.

Beratnya bukan masalah.

Ia pernah memegang senjata yang jauh lebih berat.

Masalahnya adalah panjang.

Titik keseimbangan senjata itu tidak berada di tempat yang selama ini dikenal oleh tubuhnya. Ketika Kael mengangkatnya, ujung belakang bergerak sedikit lebih lambat daripada yang diperkirakan tangannya. Ketika ia memutar pergelangan, bilah di sisi lain mengikuti dengan momentum yang tidak biasa.

Ia mencoba mengayunkannya.

Satu tebasan mendatar.

Senjata bergerak.

Terlambat.

Kael menghentikannya dengan paksa sebelum ujung bilah menghantam tiang bengkel.

Arelith tidak bergerak.

"Jangan paksa."

Kael mengernyit.

"Aku tidak memaksa."

"Kau baru saja melakukannya."

Dari dekat pintu, Kylia memperhatikan tanpa berkata-kata.

Kael menarik napas, kemudian memegang gagang itu lebih erat.

Ia mencoba lagi.

Kali ini ia menggunakan pola yang telah menjadi bagian dari tubuhnya selama bertahun-tahun. Langkah pendek. Putaran pinggang. Tarikan bahu. Tebasan menyilang. Pergantian tangan.

Gerakannya cepat.

Terlalu cepat.

Senjata baru itu berputar melewati titik yang ia inginkan. Kael harus melompat setengah langkah untuk menghindari bilah belakang yang bergerak mengikuti momentum. Ia memutar tubuh, mencoba mengembalikan posisi, lalu menusukkan ujung gagang seperti yang biasa dilakukan dengan kapak pendek.

Bilah belakang justru menyeret arah tubuhnya.

Kael kehilangan keseimbangan.

Kakinya tergelincir.

Ia menahan tubuh dengan satu tangan di lantai.

Hening.

Kylia menutup mulutnya dengan punggung tangan, bukan untuk menyembunyikan tawa, melainkan karena terkejut melihat Kael jatuh hanya karena sebuah senjata.

Arelith mengambil kain dari meja.

"Bagus."

Kael mengangkat wajah.

"Bagus?"

"Kau sudah menemukan masalahnya."

"Aku jatuh."

"Justru itu."

Arelith mengambil senjata tersebut dari tangan Kael.

"Senjata lama mengikuti tubuhmu. Yang ini memaksa tubuhmu mengikuti gerakannya."

Kael berdiri perlahan.

Ia menatap kedua bilah yang terpasang pada satu gagang panjang.

"Kenapa membuatnya seperti ini?"

"Karena kau kehilangan kemampuan menggunakan pola lama dengan tubuhmu sekarang."

Jawaban itu pendek.

Tidak ada penghinaan di dalamnya.

Justru karena itulah Kael tidak dapat membantah.

Arelith menaruh senjata itu kembali di atas meja.

"Kalau kau tetap menggunakan dua kapak seperti sebelumnya, kau hanya akan mengulang kesalahan."

Kael diam.

Kylia akhirnya mendekat.

"Berat?"

"Bukan."

"Sulit?"

Kael menatap senjata itu.

"Lebih buruk."

Arelith mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Senjata ini terasa seperti bukan milikku."

Arelith tidak menjawab.

Kael tahu mengapa.

Tubuhnya sendiri juga terasa seperti bukan miliknya sejak beberapa waktu terakhir.

Ia masih dapat mengingat bagaimana rasanya bergerak ketika segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Jarak. Kecepatan. Berat tubuh. Tarikan otot. Reaksi lawan. Semua pernah menyatu tanpa perlu dipikirkan.

Sekarang setiap gerakan memiliki jeda.

Kecil.

Lihat selengkapnya