Pagi turun perlahan di taman bunga Telmora, membawa embun yang masih menggantung di ujung kelopak dan udara dingin yang belum sepenuhnya terusir oleh matahari. Di balik pagar batu, menara-menara kota berdiri pucat dalam cahaya awal, sementara jalur setapak di antara hamparan bunga dipenuhi bayang-bayang panjang pepohonan. Bau tanah basah bercampur dengan aroma daun yang diremas angin, tetapi ketenangan itu hanya bertahan sampai suara logam beradu memecahnya.
TANG!
Kael mundur setengah langkah.
Tangannya menggenggam senjata baru itu terlalu erat.
Dua bilah kapak yang dahulu terpisah kini menyatu pada sebuah gagang panjang yang hampir dua kali ukuran senjata lamanya. Ketika diayunkan, kedua mata kapak membentuk lengkung kematian yang jauh lebih lebar daripada yang biasa ia kendalikan. Namun semakin besar jangkauannya, semakin asing pula senjata itu terasa di telapak tangannya.
Di hadapannya, Kylia berdiri dengan arming sword sederhana.
Tidak ada perisai.
Tidak ada zirah berat.
Hanya pedang satu tangan, pakaian latihan, dan bahu yang dijaga tetap rendah.
Kylia mengangkat pedangnya.
"Ulangi."
Kael menarik napas.
Ia maju.
Langkah pertama.
Putaran pinggang.
Ayunan mendatar.
Kylia tidak menahannya.
Ia hanya bergeser.
Satu langkah ke belakang.
Mata kapak menyapu udara kosong beberapa jari dari tubuhnya.
Kael langsung memutar gagang untuk serangan kedua.
Kylia kembali menghilang dari jalur serangan.
Ke kanan.
Kemudian ke kiri.
Kael mengerutkan kening.
Ia mengejar.
Ayunan ketiga lebih cepat.
Kylia merunduk.
Ayunan keempat datang dari bawah.
Kylia mundur.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Tak satu pun mengenai sasaran.
"Berhenti."
Kael menahan senjatanya.
Napasnya berat.
Kylia masih berdiri dengan ujung arming sword mengarah ke tanah. Tidak ada luka. Tidak ada goresan. Bahkan napasnya tidak berubah banyak.
"Kau menyerang terlalu dekat," katanya.
"Aku harus mendekat untuk menyerang."
"Justru itu masalahnya."
Kael menatap gagang panjang di tangannya.
"Senjata ini dibuat untuk jarak jauh."
"Jangkauannya jauh. Bukan berarti kau harus berdiri jauh."
Kael diam.
Kylia mengangkat pedangnya dan menunjuk ujung salah satu mata kapak.
"Ini bukan kapak lamamu."
"Aku tahu."
"Tidak. Kau masih memperlakukannya seperti itu."
Kalimat itu sederhana, tetapi tepat mengenai sesuatu yang membuat rahang Kael mengeras.
Ia kembali mengambil posisi.
Kylia menghela napas pendek.
"Serang."
Kael bergerak lagi.
Kali ini ia tidak langsung mengayunkan senjata.
Ia melangkah maju, menunggu.
Kylia menunggu pula.
Jarak di antara mereka hanya beberapa meter.
Angin menggerakkan bunga-bunga di belakang Kylia. Kelopak putih bergoyang perlahan, seolah taman itu tidak peduli pada dua orang yang sedang mencoba membaca niat satu sama lain.
Kael memutar gagang sedikit.
Kylia mempersempit mata.
Kael menyerang.
Mata kapak bergerak dalam busur panjang.
Kylia mundur.
Kael berhenti.
Ia tidak meneruskan ayunan.
Untuk sesaat, Kylia kehilangan alasan untuk bergerak.
Kael melihatnya.
Satu detik.
Hanya satu.
Tetapi itu cukup.