Pagi di Telmora datang tanpa suara pedang.
Cahaya matahari merayap di antara atap-atap rumah yang masih menyisakan bekas hitam dari kebakaran lama. Di beberapa sudut kota, dinding batu yang retak telah ditambal dengan bata baru yang warnanya belum menyatu dengan bangunan lama. Ada tiang yang masih disangga balok kayu, jendela yang diganti seadanya, dan jalan yang pernah hancur kini kembali dipenuhi pedagang, pekerja, anak-anak yang berlarian, serta suara roda kereta yang beradu dengan batu.
Kota itu belum sembuh.
Tetapi kota itu telah belajar berjalan sambil membawa lukanya.
Kael berjalan melewati salah satu jalan utama dengan tas kulit tergantung di bahunya. Di dalamnya terdapat surat-surat yang harus diantarkan ke beberapa alamat di Telmora. Pekerjaan itu tidak membawa kemuliaan, tidak membutuhkan pedang, dan tidak akan pernah tercatat dalam laporan guild.
Namun belakangan, ia mulai menyukainya.
Ia berhenti di depan sebuah toko kain dan memeriksa alamat yang tertulis pada lembar pengiriman.
"Ah, di sini rupanya."
Pemilik toko keluar beberapa saat kemudian. Seorang pria berusia setengah baya dengan tangan penuh noda pewarna. Ia menerima surat tersebut, memeriksa segelnya, lalu mendongak.
"Kau yang mengantarnya?"
Kael mengangguk.
"Ya."
"Biasanya anak guild yang lain."
"Dia sedang mendapat rute lain."
Percakapan seharusnya berhenti di sana.
Namun lima menit kemudian Kael masih berdiri di depan toko.
Pria itu ternyata mengenal seorang pedagang yang pernah bekerja dengan Kael. Mereka berbicara tentang harga kain, tentang jalan menuju distrik timur yang masih rusak, dan tentang sebuah toko roti yang baru buka kembali setelah lama tutup.
Ketika Kael akhirnya berjalan pergi, matahari telah bergeser cukup jauh.
Ia baru menyadarinya setelah melihat bayangan tubuhnya sendiri.
"Astaga."
Ia mempercepat langkah.
Di rumah, Arden sudah menunggu.
Perempuan itu duduk di dekat jendela sambil memilah beberapa kain yang perlu diperbaiki. Ketika mendengar pintu terbuka, ia mengangkat wajah.
"Kau terlambat."
Kael meletakkan tasnya.
"Maaf."
"Berapa lama?"
Kael berpikir.
"Mungkin—"
"Jangan."
Arden menunjuk kursi.
"Duduk."
Kael menurut.
Arden menyilangkan tangan.
"Kau bicara lagi dengan penerima surat."
Kael berkedip.
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena kalau kau hanya mengantar surat, kau sudah pulang satu jam lalu."
Kael tidak bisa membantah.
Arden menghela napas panjang.
"Kael."
"Aku hanya berbicara."
"Kau selalu hanya berbicara."
Ada nada lelah dalam suara Arden, tetapi tidak ada kemarahan yang benar-benar keras. Justru itu yang membuat Kael tersenyum kecil.
"Aku akan lebih cepat lain kali."
"Bagus."
Arden kembali pada kainnya.
"Lima belas menit."
Kael mengerutkan kening.
"Apa?"
"Batasi bicaramu lima belas menit."
"Itu terlalu sedikit."
Arden menatapnya.
Kael mengangkat kedua tangan.
"Baik."
Dari ruangan sebelah terdengar suara benda diletakkan di atas meja.
Kylia muncul beberapa saat kemudian. Gerakannya masih belum sepenuhnya bebas. Kedua tangannya memiliki keterbatasan yang membuat beberapa pekerjaan sederhana membutuhkan waktu lebih lama daripada seharusnya. Namun ia mulai mengambil bagian dalam pekerjaan rumah tanpa banyak mengeluh.
Ia membawa beberapa kain yang telah dilipat.
"Ini sudah selesai."
Arden menerimanya.
"Terima kasih."
Kael memandang tumpukan kain itu.
"Kau tidak perlu memaksakan diri."
Kylia menatapnya.
"Aku tidak memaksakan diri."
"Kau baru saja—"
"Aku melipat kain."
Kael diam.