Siang tidak pernah benar-benar tiba di bawah Telmora.
Cahaya matahari yang menyentuh permukaan tanah hanya menjadi kenangan pucat beberapa puluh meter di bawah kaki manusia. Di dalam terowongan, yang tersisa hanyalah nyala lampu minyak, pantulan kebiruan dari kristal penerang, dan bayangan panjang yang bergerak setiap kali seseorang melangkah melewati dinding batu. Udara terasa tua. Lembap di beberapa tempat, kering dan berdebu di tempat lain, membawa bau tanah, logam, serta sesuatu yang samar-samar menyerupai abu yang telah lama mati.
Suara tetesan air terdengar dari kejauhan.
Satu.
Dua.
Lalu hilang ditelan lorong.
Seorang peneliti istana berlutut di atas lantai batu, menekan ujung penggaris logam ke permukaan tanah sambil memeriksa peta yang terbentang di hadapannya. Di belakangnya, dua prajurit Solmaria berdiri dengan tombak terangkat rendah. Mereka telah berjalan cukup jauh sejak pagi, tetapi tidak seorang pun berani mengusulkan kembali.
"Berapa jauh dari titik awal?" tanya salah seorang prajurit.
Peneliti itu tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat kepala.
Lorong di depan mereka masih memanjang.
Dan di belakangnya, lorong yang telah mereka lewati terlihat seperti celah hitam yang tidak memiliki ujung.
"Lebih jauh dari perkiraan."
Prajurit itu mendengus pelan. "Seberapa jauh?"
"Belum tahu."
Jawaban itu membuat suasana menjadi lebih berat daripada sebelumnya.
Mereka datang dengan asumsi bahwa sistem terowongan di bawah Telmora merupakan struktur terbatas. Mungkin jalur pelarian kuno. Mungkin gudang bawah tanah. Mungkin bagian dari bangunan yang telah hilang ditelan waktu. Pemetaan awal bahkan telah memberikan perkiraan kasar mengenai panjang keseluruhan jaringan.
Perkiraan itu kini tidak berarti apa-apa.
Peneliti berdiri dan memberi tanda pada peta.
"Kita lanjut."
Mereka bergerak lagi.
--o--
Dua jam kemudian, lorong pertama bercabang.
Bukan sekadar retakan pada dinding. Bukan jalan buntu yang kebetulan terbuka akibat longsoran.
Dua lorong itu sama-sama memiliki lantai yang rata.
Sama-sama memiliki dinding yang diperkuat.
Dan yang lebih mengganggu, keduanya memiliki lebar yang hampir identik.
Peneliti istana menyalakan lampu tambahan lalu mendekat ke persimpangan. Ia menyentuh dinding sebelah kiri. Batu di sana dingin, tetapi permukaannya terlalu halus untuk terbentuk secara alami.
"Cabang pertama mengarah ke utara," katanya.
Ia beralih ke kanan.
"Yang kedua timur laut."
Prajurit Solmaria menyorotkan lampu ke lorong kiri.
"Yang mana jalur utama?"
Peneliti menggeleng.
"Itu masalahnya."
Mereka telah menemukan hal yang sama di beberapa bagian sebelumnya. Terowongan bercabang tanpa tanda yang jelas. Tidak ada pintu besar. Tidak ada gerbang. Tidak ada tulisan yang cukup utuh untuk memberi tahu siapa pun ke mana jalan tersebut membawa mereka.
Namun setiap kali mereka membandingkan kemiringan lantai, arah dinding, dan susunan batu penyangga, satu hal menjadi semakin sulit untuk diabaikan.
Lorong-lorong itu dibuat dengan tujuan.
Bukan digali secara sembarangan.
Peneliti berjalan beberapa langkah ke dalam cabang kanan.
Ia menghitung jarak antara pilar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jaraknya sama.
Ia berbalik.
"Catat."
Seorang juru tulis yang ikut dalam rombongan segera membuka lembaran baru.
"Apa?"
"Cabang ini tidak dibuat mengikuti kontur tanah."
Juru tulis mengangkat wajah.
"Maksud Anda?"
"Tanah di atas kita tidak membutuhkan lorong selurus ini."
Peneliti mengetuk dinding dengan buku jarinya.
"Kalau pembuatnya hanya ingin membuat ruang bawah tanah, mereka bisa mengikuti lapisan batu. Mereka tidak melakukannya."
Ia menunjuk lurus ke depan.
"Mereka memilih arah."
Tak seorang pun menjawab.
Kata-kata itu menggantung di udara lembap.
Mereka melanjutkan pemetaan.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak persimpangan yang ditemukan.
Beberapa cabang pendek berakhir setelah puluhan meter. Beberapa lainnya terus memanjang. Ada yang menurun tajam, ada yang justru mendaki perlahan. Di satu tempat, mereka menemukan ruangan berbentuk persegi dengan empat pintu yang menghadap ke arah berbeda. Di tempat lain, dinding lorong memperlihatkan relief yang hampir seluruhnya terkikis.
Peneliti menghentikan langkah.
"Yang ini lagi."
Ia membersihkan debu dengan kain.
Relief itu menampilkan bentuk yang tidak segera dapat dikenali. Garis melingkar mengelilingi bidang tengah, kemudian tiga guratan panjang memotongnya dari sisi yang berbeda.
Prajurit Solmaria mendekat.
"Simbol?"
"Mungkin."
"Bahasa?"
"Belum tentu."
Peneliti membersihkan bagian lain.
Pola yang sama muncul.
Tiga guratan.
Lingkaran.
Kemudian garis yang menyerupai akar atau aliran sungai.
Ia berjalan ke dinding seberang.
Pola yang sama kembali terlihat.
Lebih rusak.
Tetapi sama.
"Sudah berapa kali kita melihatnya?" tanya juru tulis.
Peneliti membuka catatannya.
"Enam."
"Enam?"
"Yang bisa kita pastikan."
Ia menatap relief tersebut lebih lama.
"Dan aku curiga ada lebih banyak."