Malam telah menelan kompleks Abbysal Sovereign ketika Vynn kembali berdiri di depan pintu ruang utama Lord Mireth.
Tidak ada suara pertempuran di tempat ini. Tidak ada jeritan, tidak ada denting senjata, tidak ada darah yang mengering di atas batu. Hanya nyala api dari lampu-lampu dinding yang bergerak pelan setiap kali angin malam menyusup melalui celah jendela tinggi. Bau dupa tipis bercampur dengan aroma kertas tua dan logam, menciptakan suasana yang jauh lebih menyesakkan daripada medan penyergapan beberapa hari sebelumnya.
Vynn berhenti di depan pintu.
Tangannya mengepal sebentar.
Kemudian pintu terbuka.
"Masuk."
Suara Mireth terdengar tenang.
Justru itu yang membuat langkah Vynn terasa lebih berat.
Ia masuk ke ruangan.
Empat penasehat Abbysal Sovereign telah menunggu di sisi meja panjang. Tidak seorang pun mengenakan perlengkapan tempur. Mereka mengenakan jubah gelap dengan lambang guild tersemat di dada, masing-masing membawa lembaran laporan yang telah dibaca berkali-kali.
Di ujung meja duduk Lord Mireth.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Tidak ada penghinaan.
Hanya sepasang mata yang memandang Vynn seperti seseorang yang sedang menilai sebuah bilah pedang—bukan apakah pedang itu tajam, tetapi apakah masih dapat digunakan.
"Vynn," katanya.
Vynn berdiri tegak.
"Lord Mireth."
"Angkat kepalamu."
Vynn menurut.
Mireth menatapnya beberapa detik.
"Putri Vorr belum ditemukan."
Vynn tidak menjawab.
"Aku tidak mengatakan itu untuk menyalahkanmu."
"Saya tahu."
"Benarkah?"
Jeda.
Vynn menarik napas.
"Ya."
Mireth menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Bagus."
Salah seorang penasehat membuka dokumen di hadapannya.
"Tiga wizard musuh tewas dalam operasi tersebut. Beberapa pasukan lawan juga dilaporkan jatuh."
Vynn tetap diam.
Penasehat itu melanjutkan.
"Namun target utama hilang."
"Ya."
"Dan berdasarkan aturan kontrak pengawalan—"
"Saya tahu."
Suara Vynn memotong kalimat itu.
Tidak keras.
Tetapi cukup tegas.
Penasehat tersebut berhenti.
Mireth tidak menegurnya.
"Setidaknya kau memahami bagian itu."
Vynn menurunkan pandangan sesaat.
Tiga wizard.
Tiga.
Beberapa hari lalu, angka itu mungkin akan terdengar seperti pencapaian.
Kini angka tersebut terasa seperti debu.
Ia masih mengingat tubuh-tubuh yang jatuh di antara reruntuhan. Masih mengingat bagaimana satu demi satu pola serangan mereka berhasil ia baca. Masih mengingat saat bilahnya menembus pertahanan wizard terakhir.
Namun pada akhirnya, kereta Vorr tetap pergi.
Itulah yang tercatat dalam laporan.
Dan itulah yang akan dikenang.
Mireth menggeser sebuah dokumen ke tengah meja.
"Selain kegagalan pengawalan, ada masalah lain."
Vynn menatap kertas itu.
"Wizard."
Mireth mengangguk.
"Kelompok yang menyerang kalian menggunakan kemampuan inkarnasi yang berada di luar batas yang biasa kita temui."
Salah seorang penasehat menyela.
"Lebih dari sekadar kuat. Pola konsumsi mana mereka menunjukkan cadangan yang tidak lazim."
"Dan koordinasinya," tambah penasehat lain, "terlalu teratur untuk kelompok penyihir liar."
Vynn teringat bagaimana serangan-serangan itu datang.
Tidak bersamaan.
Tidak acak.
Selalu ada jeda.
Selalu ada pergantian.
Selalu ada seseorang yang menjaga tekanan ketika yang lain memulihkan energi.
Ia mengangguk perlahan.
"Mereka tahu cara menggunakan cadangan mereka."
"Dan itu yang membuatnya berbahaya," kata Mireth.
Ruangan kembali sunyi.
Mireth mengambil dokumen itu.
"Nama guild kita disebut dalam laporan mereka."
Vynn mengangkat mata.
"Bagaimana?"
"Kalian gagal menjaga target. Musuh mampu menembus pengawalan Abbysal Sovereign. Dan mereka melakukannya menggunakan kekuatan yang bahkan tidak kita perkirakan."
Mireth meletakkan dokumen tersebut.
"Tiga hal itu cukup untuk membuat banyak orang mempertanyakan kemampuan guild ini."
Vynn menerima tatapan itu tanpa menghindar.
Salah seorang penasehat menyilangkan tangan.
"Karena itu kami mengusulkan agar Vynn diberikan tugas baru."
Vynn menoleh.
"Tugas?"
"Ya."
"Sebagai hukuman?"
"Tidak."
Mireth menjawab sebelum penasehat itu sempat berbicara.
"Sebagai pekerjaan."
Vynn terdiam.
Mireth mengambil sebuah map yang berbeda dari tumpukan dokumen di depannya.
Map itu lebih tua.
Kulit luarnya retak.
Sudut-sudutnya menghitam seperti pernah terkena panas.
Ia meletakkannya di meja.
"Berapa banyak yang kau ketahui tentang Arcante?"