Arsip Abbysal Sovereign tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampu mana yang tertanam di sepanjang dinding batu menyala dengan warna kebiruan yang dingin, cukup terang untuk membaca, tetapi terlalu pucat untuk membuat ruangan terasa hidup. Udara di dalamnya kering dan berbau kulit tua, debu, tinta, serta logam dari segel-segel penyimpanan yang telah berkarat dimakan usia. Rak-rak batu menjulang hingga langit-langit, memenuhi ruangan seperti dinding makam yang menyimpan terlalu banyak nama.
Vynn berdiri di hadapan petugas arsip dengan selembar surat perintah Mireth di tangannya.
Segelnya masih utuh.
Petugas tua itu membaca surat tersebut dua kali sebelum mengangkat pandangan.
“Ekspedisi tiga puluh lima tahun lalu?”
“Ya.”
“Arsip tingkat berapa?”
Vynn mengulurkan surat itu lebih dekat.
“Semua yang bisa kubaca.”
Petugas arsip tidak langsung mengambilnya. Matanya turun pada lambang Abbysal Sovereign yang tertera di bawah tanda tangan Mireth. Ada jeda pendek, nyaris tidak terlihat.
Kemudian ia menerima surat itu.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau mungkin akan membaca lebih sedikit daripada yang kau harapkan.”
Vynn tidak menjawab.
Petugas itu berbalik dan berjalan menyusuri lorong rak.
Vynn mengikutinya.
Mereka melewati catatan kontrak pengawalan, daftar kematian anggota guild, laporan penaklukan monster, catatan perselisihan antarwilayah, hingga dokumen-dokumen lama yang tanggalnya bahkan sudah tidak lagi menggunakan penanggalan yang dipakai sekarang. Semua tersusun rapi. Terlalu rapi.
Itulah hal pertama yang membuat Vynn merasa tidak nyaman.
Bukan karena arsip itu berantakan.
Melainkan karena seseorang pernah memastikan agar kekacauan tertentu tidak terlihat.
Petugas itu berhenti di sebuah rak yang lebih rendah.
“Di sini.”
Vynn berjongkok.
Debu menutupi beberapa kotak kayu. Pada tutupnya terdapat segel hitam dengan tanda otorisasi lama Abbysal Sovereign.
Ia menarik satu kotak.
Kosong.
Kotak kedua hanya berisi dua lembar laporan.
Kotak ketiga berisi daftar nama.
Tidak ada catatan ekspedisi.
Vynn menatap rak tersebut.
“Ini saja?”
Petugas arsip menutup buku registrasi.
“Yang tersedia secara resmi.”
“Dan yang tidak resmi?”
Petugas itu diam.
Vynn menatapnya.
Lelaki tua tersebut menghela napas pendek.
“Jangan tanyakan sesuatu yang jawabannya tidak boleh ada.”
Vynn kembali melihat kotak-kotak kosong itu.
“Namaku sudah masuk terlalu jauh untuk berhenti karena kalimat seperti itu.”
Petugas arsip menatapnya cukup lama.
Lalu ia mengambil sebuah kunci kecil dari balik jubahnya.
Bunyi logamnya terdengar sangat jelas di tengah kesunyian.
“Kalau begitu, jangan katakan bahwa aku pernah membawamu ke sana.”
--o--
Pintu besi di ujung arsip tidak memiliki nama.
Hanya nomor.
Petugas arsip memasukkan kunci ke dalam lubang kecil di bawah tiga lapis segel. Satu demi satu segel padam. Udara dingin keluar dari celah pintu.
Di baliknya terdapat ruangan sempit.
Tidak ada rak tinggi.
Hanya lemari-lemari pendek yang disusun rapat dan ditutup kain hitam.
“Kenapa berbeda?” tanya Vynn.
“Karena ini bukan arsip yang dimaksudkan untuk ditemukan.”
Petugas itu menyalakan lampu mana.
Cahaya biru pucat menyapu ruangan.
Vynn melihat tanda-tanda penghapusan.
Beberapa label dicabut dari lemari. Ada bagian-bagian katalog yang sengaja dipotong. Pada satu rak, bekas tinta hitam menutupi tulisan lama sampai kertasnya hampir berlubang karena tekanan pena.
Ia mengambil salah satu dokumen.
EKSPEDISI UTARA — TAHUN 35 SEBELUM...
Bagian setelahnya telah dicoret.
Vynn membuka lembar berikutnya.
Komposisi ekspedisi:
Beberapa nama masih terbaca.
Prajurit.
Peneliti.
Healer.
Scout.
Lalu ada satu kategori yang hampir sepenuhnya dihapus.
Wizard.
Vynn berhenti.
Ia mengangkat lembar itu.
“Kenapa kata ini dicoret?”
Petugas arsip tidak menjawab.
Vynn membuka dokumen lain.
Di sana tertulis struktur lama Abbysal Sovereign.
Hunter.
Ranger.
Knight.
Wizard.
Support.
Beberapa tahun setelah ekspedisi, kategori wizard menghilang.
Bukan diganti.
Bukan digabung.
Dihapus.
Vynn membalik halaman.
Ada catatan pendek.
Restrukturisasi pasca-insiden.
Di bawahnya, tinta lain menutupi hampir seluruh paragraf.
Vynn mengikis permukaan kertas dengan ujung kukunya.
Tidak cukup untuk membaca semuanya.
Namun beberapa kata masih tampak.