Malam telah menelan menara-menara istana Umbra Veil ketika hujan tipis mulai turun di atas halaman dalam. Air merayap di antara batu hitam, membawa sisa debu dari jalan-jalan kota dan membuat obor-obor kerajaan bergetar dalam angin. Dari kejauhan, lonceng Kuil Helia berdentang tiga kali, suaranya berat dan panjang, menggantung di antara menara seperti peringatan yang tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus.
Di ruang strategi, tidak ada suara lonceng.
Yang terdengar hanya bunyi lembaran kertas dibalik.
Zareth Noctarius duduk di ujung meja panjang dari kayu hitam. Di hadapannya terbentang laporan kematian Dornhart, salinan laporan militer, peta wilayah operasi, dan beberapa lembar dokumen yang baru saja dibawa masuk oleh pejabat intelijen.
Lampu mana di atas meja memantulkan cahaya putih pucat pada wajah semua orang.
“Ini laporan tambahan.”
Pejabat intelijen berdiri tiga langkah dari meja. Ia meletakkan sebuah map tipis di hadapan Zareth.
“Dari jaringan pengamatan?”
“Sebagian. Sisanya dari arsip operasi lama.”
Zareth tidak langsung menyentuhnya.
“Kael dan Kylia?”
“Benar.”
Salah seorang penasehat menggeser tubuhnya.
“Yang Mulia, bukankah informasi itu sudah tercantum dalam laporan Dornhart?”
“Sebagian.”
Pejabat intelijen membuka map.
“Namun tidak seluruhnya.”
Zareth akhirnya mengambil dokumen tersebut.
Matanya bergerak perlahan dari baris pertama ke baris berikutnya.
Kael.
Kylia.
Dua nama yang sebelumnya hanya muncul sebagai bagian dari laporan lapangan kini memenuhi beberapa halaman. Pergerakan mereka. Pertemuan mereka. Cedera Kylia. Perubahan pola perjalanan. Kontak dengan Telmora. Bahkan beberapa catatan mengenai aktivitas mereka setelah operasi Dornhart berakhir.
Zareth membaca tanpa ekspresi.
“Bandingkan dengan laporan Dornhart.”
Pejabat intelijen menelan ludah.
“Sudah dilakukan.”
“Dan?”
“Tidak semuanya cocok.”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Zareth mengangkat pandangan.
“Jelaskan.”
Pejabat itu membuka satu lembar.
“Dalam laporan Dornhart, Kylia disebut sebagai target yang mulai diburu setelah informasi mengenai keberadaannya diperoleh.”
“Mulai diburu?”
“Begitu bunyinya.”
“Dan kenyataannya?”
Pejabat intelijen menatap dokumen di tangannya.
“Bukan begitu.”
Salah seorang pejabat militer mengerutkan kening.
“Berapa lama?”
“Sulit dipastikan.”
“Sulit?”
“Ada beberapa operasi kecil yang tidak tercantum dalam laporan utama.”
Zareth meletakkan dokumen.
“Operasi kecil.”
Kata-kata itu terdengar datar.
Justru karena itulah pejabat intelijen menegakkan punggungnya.
“Percobaan pembunuhan terhadap Kylia telah terjadi beberapa kali sebelum operasi Dornhart.”
Salah seorang penasehat langsung menyela.
“Apakah itu telah diverifikasi?”
“Ya.”
“Dari siapa?”
“Dari laporan yang memiliki stempel Dewan Tertinggi.”
Jari Zareth berhenti di atas meja.
Hujan di luar semakin terdengar.
“Bawa semuanya.”
“Yang Mulia?”
“Semua laporan dengan stempel itu.”
Pejabat intelijen menundukkan kepala.
“Segera.”
Ia hendak berbalik ketika Zareth berkata lagi.
“Dan jangan melalui jalur militer.”
Langkah pejabat itu berhenti.
Zareth menatapnya.
“Bawa langsung kepadaku.”
“Baik, Yang Mulia.”
Pintu ditutup.
Baru setelah suara langkah kaki menghilang dari lorong, salah seorang penasehat berbicara.
“Yang Mulia, jika Solmaria bertanggung jawab atas kematian Dornhart—”
“Jangan.”
Penasehat itu terdiam.
Zareth mengambil kembali laporan.
“Jangan menyebut perang sebelum kita mengetahui siapa yang menulis permainan ini.”
“Tetapi seorang jenderal senior telah mati.”
“Aku tahu.”
“Pasukan elit juga habis.”
“Aku tahu.”
“Solmaria—”
“Belum tentu.”
Zareth menatapnya.
Satu kata.
Cukup untuk menghentikan seluruh ruangan.
Ia kembali melihat laporan kematian Dornhart.
“Jika kita membalas setiap kematian dengan pasukan,” katanya perlahan, “kita tidak sedang memerintah kerajaan. Kita hanya sedang menghitung mayat.”
Tidak ada yang menjawab.
Zareth membalik halaman.
Ia sampai pada bagian yang menjelaskan keputusan Dornhart untuk melanjutkan pertempuran meski kondisi operasi telah berubah.
Di sana terdapat beberapa catatan taktis.
Dornhart memilih untuk mengejar.
Dornhart memilih untuk memisahkan kekuatan.
Dornhart memilih menghadapi lawan meski kemampuan mereka berada di luar perkiraan.
Zareth membaca bagian itu dua kali.
“Kenapa?”
Penasehat militer mengangkat kepala.
“Yang Mulia?”
“Kenapa Dornhart memilih cara ini?”
“Dia melihat peluang.”
“Tidak.”
Zareth mengetuk laporan dengan satu jari.
“Peluang bukan alasan.”
“Jenderal Dornhart dikenal agresif ketika—”
“Bukan itu yang kutanyakan.”
Zareth menatap peta di atas meja.
“Dia bukan pemuda yang baru pertama kali memimpin pasukan.”
Jarinya berpindah ke garis yang menggambarkan wilayah operasi.
“Dia telah hidup cukup lama untuk mengetahui kapan sebuah target layak dikejar dan kapan harus dilepaskan.”
Ia menunjuk bagian lain.
“Namun di sini dia terus maju.”
Tidak ada yang menjawab.
“Dengan informasi mengenai Kylia yang tidak lengkap. Dengan keberadaan Kael yang belum dipahami. Dengan musuh yang memiliki kemampuan sihir di luar perkiraan. Dan tetap saja dia membawa pasukan masuk.”
Zareth menarik napas pendek.
“Kenapa?”
Penasehat militer membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Ia tidak punya jawaban.
Zareth tidak terlihat kecewa.
Itu justru lebih buruk.
Ia sudah berhenti mencari alasan sederhana.
--o--
Satu jam kemudian, meja strategi telah berubah menjadi lautan dokumen.
Laporan-laporan lama dibawa dari ruang penyimpanan kerajaan. Beberapa masih menggunakan tinta merah militer lama. Beberapa memiliki cap lilin Dewan Tertinggi. Ada yang hanya berupa salinan, dengan bagian bawah halaman telah dipotong.
Zareth membaca semuanya.
Tidak cepat.