Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #23

Surat dari Wilayah Bangsawan

Pagi di Telmora datang bersama kabut tipis yang menggantung rendah di antara atap-atap rumah. Matahari belum cukup tinggi untuk mengusir sisa dingin malam, dan jalan batu masih basah oleh embun ketika roda kereta pos pertama berderit melewati gerbang distrik timur. Bau kuda, kulit basah, dan kayu tua bercampur dengan aroma roti yang baru dipanggang dari toko-toko yang mulai membuka jendela. Di kejauhan, menara-menara kediaman bangsawan berdiri di balik dinding putih, puncaknya disapu cahaya keemasan.

Kael berdiri di samping kereta dengan mantel pos berwarna gelap yang terasa asing di tubuhnya.

Ia memeriksa kembali kantong surat di pinggangnya.

Empat surat.

Satu untuk rumah keluarga bangsawan.

Dua untuk kantor perdagangan besar.

Satu lagi, disegel dengan lilin hitam, ditujukan kepada seseorang yang namanya bahkan tidak tertulis di bagian luar amplop.

Kael mengangkat alis.

"Yang ini jangan sampai salah."

Arden yang sedang mengikat tali pengaman kereta meliriknya.

"Kalau kau bisa berhenti membaca nama penerima setiap tiga detik, mungkin kau tidak akan salah."

"Aku tidak membaca. Aku memastikan."

"Sudah lima kali."

Kael memasukkan surat itu kembali ke dalam tas.

"Lima kali berarti aku yakin."

Arden mendengus.

Sejak beberapa minggu terakhir, pekerjaan mengantarkan surat telah menjadi sesuatu yang aneh bagi Kael. Awalnya ia menerimanya karena pekerjaan itu sederhana, aman, dan membayar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak ada monster. Tidak ada ruang bawah tanah. Tidak ada darah yang harus dibersihkan dari bilah senjata.

Tetapi hari ini berbeda.

Hari ini ia harus memasuki distrik bangsawan Telmora.

Kael menatap gerbang tinggi yang menjadi batas antara kota biasa dan wilayah para pemilik tanah, saudagar besar, keluarga militer, serta orang-orang yang namanya tertulis dalam buku pajak kerajaan.

"Aku pergi."

Arden menyerahkan kendali kereta.

"Jangan berkelahi."

"Aku tidak pernah mencari masalah."

Arden menatapnya lama.

Kael membalas tatapan itu.

"...Baiklah. Hampir tidak pernah."

Dari belakang mereka terdengar suara pintu dibuka.

Kylia muncul dengan pakaian sederhana dan rambut yang masih sedikit berantakan. Salah satu tangannya menggenggam kain, sementara tangan lainnya bergerak hati-hati ketika ia memperbaiki kerah bajunya.

"Kael."

"Hm?"

"Jangan lupa latihan sore."

Kael menghela napas.

"Aku tahu."

"Dan jangan terlalu lama mengobrol."

Arden langsung menoleh.

"Kau dengar itu?"

Kael mengernyit.

"Apa?"

Kylia mengangkat sudut bibirnya.

"Arden bukan satu-satunya yang memperhatikan."

"Aku cuma berbicara dengan orang."

"Ya," kata Arden. "Terlalu lama."

Kael mengambil kendali kereta.

"Kalau begitu, aku akan berusaha bicara lebih singkat."

Kylia mengangguk puas.

"Bagus."

Kereta mulai bergerak.

Beberapa langkah kemudian, Kael menoleh.

Kylia masih berdiri di depan rumah.

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Kael membalas sebelum kembali menghadap jalan.

Entah mengapa, perjalanan pagi itu terasa lebih ringan.

--o--

Distrik bangsawan Telmora tidak memiliki suara yang sama dengan bagian kota lainnya.

Tidak ada pedagang yang berteriak menawarkan dagangan. Tidak ada anak-anak berlari di antara kereta. Bahkan roda kereta pos seakan terdengar lebih keras ketika melewati jalan-jalan batu yang bersih dan teratur.

Rumah-rumah besar berdiri di balik pagar besi dengan lambang keluarga terukir di gerbang. Taman-taman dipangkas rapi. Patung-patung tua berdiri di antara air mancur yang mengalir tenang. Di beberapa tempat, pengawal berseragam kerajaan berjaga di persimpangan.

Kael memperlambat kereta.

Ia pernah melihat tempat-tempat seperti ini dari jauh.

Sebagai quester, ia terbiasa datang ketika seseorang membutuhkan pedang. Biasanya itu berarti gudang yang diserang monster, hutan yang tidak aman, reruntuhan, atau tempat-tempat yang tidak ingin didatangi orang biasa.

Ia tidak pernah datang ke sini membawa surat.

Kereta berhenti di depan kediaman pertama.

Gerbangnya lebih tinggi daripada yang ia perkirakan.

Dua penjaga berdiri di depan.

"Berhenti."

Kael turun.

Ia menunjukkan lencana pos.

"Pengantaran surat resmi."

Salah satu penjaga memeriksa lencana itu, kemudian melihat kereta.

"Untuk siapa?"

Kael menyebut nama penerima.

Penjaga itu mengangkat alis.

"Tunggu."

Ia masuk ke pos kecil di sisi gerbang.

Kael berdiri diam.

Tidak lama kemudian, seorang pria tua dengan pakaian formal keluar. Rambutnya sudah memutih, tetapi langkahnya masih tegap. Lambang keluarga terpampang di dadanya.

Ia memandang Kael.

Kemudian surat.

Kemudian kembali kepada Kael.

"Kau Kael?"

Kael berhenti.

"Ya."

Pria itu tersenyum tipis.

"Jadi benar."

"Maaf?"

"Aku pernah mendengar namamu."

Kael tidak segera menjawab.

Pria itu menerima surat dari tangannya.

"Telmora sedang banyak membicarakan beberapa orang belakangan ini."

Kael merasa tengkuknya sedikit menegang.

Ia tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.

"Semoga kabarnya baik."

Pria itu tertawa kecil.

"Untuk sebagian orang."

Kael tidak ikut tertawa.

Pria itu kemudian mengangguk kepada penjaga.

"Biarkan dia masuk."

Kael berkedip.

"Masuk?"

"Surat ini harus diberi tanda terima oleh sekretaris keluarga."

"Oh."

Ia baru menyadari bahwa pengiriman surat kepada bangsawan tidak sesederhana menyerahkan amplop dan pergi.

Ia mengikuti seorang pelayan melewati gerbang.

Di baliknya terbentang taman luas dengan jalan batu putih. Bangunan utama berdiri beberapa puluh langkah di depan, dindingnya berwarna pucat dan jendelanya tinggi.

Kael berjalan tanpa banyak bicara.

Namun ketika sekretaris keluarga menjelaskan beberapa hal tentang prosedur penerimaan surat, ia mulai bertanya.

"Kalau surat dari kantor dagang biasanya langsung diterima di sini?"

"Tergantung jenis dokumennya."

"Kalau segelnya rusak?"

"Ditolak."

"Kalau penerimanya tidak ada?"

"Dikembalikan."

Lihat selengkapnya