Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #24

Bayangan yang Belum Pergi

Pagi datang ke Telmora dengan cahaya pucat yang menempel di ujung-ujung atap seperti debu emas. Kabut malam belum sepenuhnya terangkat dari taman latihan, membuat rerumputan basah dan bunga-bunga Telmora tampak seperti benda-benda yang baru saja keluar dari mimpi. Dari kejauhan terdengar suara palu para tukang bangunan menghantam batu yang retak, satu demi satu, mengisi udara dengan denting keras yang teratur.

Kota itu sedang memperbaiki dirinya.

Tidak cepat.

Tidak sempurna.

Tetapi terus bergerak.

Kael berdiri di tengah taman dengan kedua tangan menggenggam senjata barunya. Dua bilah kapak yang dahulu terpisah kini menyatu pada kedua ujung sebuah gagang panjang. Panjangnya hampir dua kali senjata yang biasa digunakannya. Beberapa hari lalu, benda itu terasa seperti senjata milik orang lain yang kebetulan berada di tangannya.

Pagi ini, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa demikian.

Kael menarik napas.

Kaki kiri maju.

Tumit kanan berputar.

Gagang bergerak melingkar.

Bilah pertama melintas di depan tubuhnya, lalu momentum diteruskan ke belakang. Ia membiarkan berat senjata mengalir mengikuti putaran pinggang, bukan memaksanya dengan bahu.

Satu gerakan.

Dua.

Tiga.

Pada gerakan keempat, ia berhenti.

Tidak ada langkah yang goyah.

Tidak ada ujung bilah yang kehilangan arah.

Kael menatap senjata di tangannya.

Kylia berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Ulangi."

Kael menoleh.

"Kau tidak mau mengatakan bagus dulu?"

"Belum."

Ia tersenyum tipis.

"Baik."

Kael mengulangi.

Kali ini lebih cepat.

Bilah berputar, menyapu udara pagi dengan suara berat. Tubuhnya bergerak mengikuti lintasan senjata, bukan melawannya. Ketika putaran selesai, kedua kakinya kembali ke posisi semula.

Tidak sempurna.

Tetapi stabil.

Kylia mengangguk.

"Lebih baik."

Kael menghembuskan napas panjang.

"Berarti aku sudah bisa."

"Gerakan dasar."

"Ya."

"Jangan sombong."

"Aku cuma mengatakan fakta."

Kylia mengangkat arming sword dengan satu tangan. Bahunya masih belum pulih sepenuhnya, tetapi dibandingkan beberapa waktu lalu, gerakannya jauh lebih bebas. Ia tidak lagi menghindari penggunaan sisi tubuh yang terluka. Pedang bergerak pendek, ekonomis, tanpa gerakan berlebihan.

Kael memperhatikannya.

"Kau juga membaik."

Kylia menurunkan pedangnya.

"Jangan alihkan pembicaraan."

"Aku serius."

"Aku juga."

Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang.

Lalu Kael kembali mengambil posisi.

Ia mengangkat senjata.

Pagi terus berjalan.

Dan tanpa mereka sadari, jauh di bawah kaki mereka, sesuatu yang jauh lebih tua daripada Telmora sedang kembali dibaca.

--o--

Udara di bawah tanah berbeda.

Tidak ada matahari.

Tidak ada angin.

Hanya kelembapan yang menempel pada dinding batu dan bau mineral tua yang semakin pekat semakin jauh mereka masuk.

Lampu mana tergantung pada kait-kait besi di sepanjang lorong. Cahayanya redup, cukup untuk memperlihatkan jejak kaki dan permukaan dinding yang telah disentuh waktu selama entah berapa abad.

Tim peneliti Solmaria berhenti di depan sebuah dinding.

Peneliti yang paling depan mengangkat lampu.

"Berhenti."

Dua prajurit di belakangnya ikut berhenti.

Di hadapan mereka terdapat relief.

Namun berbeda dari yang mereka temukan sebelumnya.

Pola pertama memiliki garis-garis yang berulang dan teratur, seperti rangkaian jalur yang menuju satu titik. Relief ini tidak.

Ada lingkaran.

Ada tiga garis panjang.

Dan di antara keduanya terdapat bentuk yang menyerupai matahari terbelah.

Peneliti itu menyentuh permukaannya tanpa benar-benar menempelkan telapak tangan.

"Ini bukan bagian dari pola sebelumnya."

"Bahasa?"

"Tidak."

Ia mendekatkan lampu.

"Atau setidaknya bukan bahasa yang kita kenal."

Salah satu prajurit menoleh ke lorong belakang.

"Apakah ini berarti kita harus kembali?"

Peneliti itu tidak menjawab.

Ia memperhatikan salah satu garis pada relief.

Garis tersebut tidak berhenti di tengah dinding.

Ia terus mengarah ke bawah.

Ke lantai.

Peneliti itu berlutut.

Kemudian wajahnya berubah.

"Panggil pejabat kerajaan."

"Ada apa?"

Ia menunjuk sebuah celah kecil di antara batu.

Di baliknya terdapat lorong sempit yang sebelumnya tertutup lapisan tanah.

Bukan jalan baru.

Jalan lama.

Dan arahnya berbeda dari seluruh cabang yang telah mereka petakan.

Salah satu prajurit menelan ludah.

"Ke mana arahnya?"

Peneliti itu menatap peta.

Jarinya mengikuti garis yang baru saja ditemukan.

Lihat selengkapnya