Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #25

Jalan yang Mulai Terbuka

Pagi datang tanpa warna di Telmora.

Kabut tipis menggantung di atas taman bunga, menyelimuti kelopak-kelopak yang mulai kembali tumbuh di antara tanah yang pernah diinjak pasukan dan darah. Sisa-sisa batu penahan yang retak masih terlihat di ujung taman, sebagian ditumbuhi lumut, sebagian lain ditutupi bunga liar yang tumbuh tanpa mengenal siapa yang pernah memiliki tanah itu. Udara membawa bau tanah basah dan embun, bercampur dengan aroma samar logam dari senjata yang baru saja diasah.

Kael berdiri di tengah lingkaran latihan dengan kedua tangan menggenggam senjata barunya.

Dua kapak yang dahulu terpisah kini telah menjadi satu. Bilahnya berada di kedua ujung gagang panjang, membuat keseluruhan senjata itu hampir menyerupai tombak berat dengan kepala kapak di kedua sisi. Panjangnya memaksa Kael menjaga tubuhnya dalam jarak yang berbeda dari sebelumnya. Sedikit saja salah menggeser telapak kaki, ujung bilah yang lain akan kehilangan arah.

Di hadapannya, Kylia berdiri dengan arming sword di tangan.

Bahu yang pernah membuatnya kesulitan kini sudah jauh lebih tenang. Ia masih tidak mengangkatnya terlalu tinggi, masih menghindari gerakan yang menekan sendi secara berlebihan, tetapi langkahnya telah kembali ringan. Pedang itu bergerak pendek di samping tubuhnya, cukup untuk menjaga keseimbangan tanpa memaksa otot yang belum sepenuhnya pulih.

"Kita mulai," katanya.

Kael mengangguk.

Ia maju.

Kali ini tidak ada ayunan besar.

Kaki kirinya bergerak lebih dahulu, tubuhnya berputar mengikuti arah gagang, dan bilah di sisi kanan bergerak dalam lintasan rendah menuju bahu Kylia. Ketika Kylia mundur, Kael tidak mengejarnya dengan dorongan tubuh seperti yang biasa ia lakukan.

Ia berhenti.

Memutar gagang.

Bilah satunya bergerak menutup jalur keluar.

Kylia menggeser langkah ke samping.

Kael mengikuti.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tidak lebih.

Kemudian ia memutar senjata di antara kedua telapak tangannya dan mengubah sudut serangan tanpa mengubah posisi kakinya.

Kylia menangkis.

Dentang logam memecah udara pagi.

Kael segera menarik senjata kembali.

Dahulu, pada titik seperti itu, tubuhnya akan bergerak sendiri. Ia akan memanfaatkan momentum, memaksa lawan mundur, lalu menyelesaikan serangan dengan kekuatan yang sama. Namun tubuhnya sekarang tidak lagi mengenali rangkaian itu sebagai sesuatu yang alami.

Ia harus berpikir.

Dan justru karena itulah gerakannya tidak lagi kacau.

Kylia mengangkat alis tipis.

"Bagus."

Kael tidak menjawab.

Ia maju lagi.

Kali ini Kylia menyerang lebih dahulu.

Ujung arming sword mengarah ke sisi tubuh Kael. Ia memiringkan pinggang, membiarkan bilah itu lewat beberapa jari dari pakaiannya. Gagang panjang di tangannya segera digeser mendatar.

Kylia mundur.

Kael berhenti sebelum ujung senjatanya terlalu jauh.

Keduanya saling berhadapan.

Napas Kael terdengar berat.

Namun kakinya tetap di tempat.

Kylia menurunkan pedangnya sedikit.

"Kau mulai mengerti."

"Mengerti apa?"

"Bahwa senjata ini tidak perlu dipaksa."

Kael menatap dua bilah kapak di kedua ujung gagang.

"Masih terasa asing."

"Memang."

Kylia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangannya.

"Kau bukan sedang mengembalikan cara bertarungmu."

Kael diam.

Kylia menatapnya lebih lama.

"Kau sedang membuat yang baru."

Kael kembali mengambil posisi.

"Aku tahu."

Kylia tersenyum tipis.

"Kalau begitu, serang."

Kael bergerak.

Dan untuk pertama kalinya sejak senjata itu dibuat, ia tidak merasa sedang mencoba menjadi Kael yang dulu.

Ia hanya mencoba menjadi Kael yang mampu berdiri sekarang.

--o--

Beberapa jam kemudian, jauh di bawah tanah Telmora, cahaya matahari tidak lagi berarti.

Lampu-lampu mana berwarna pucat menerangi dinding batu yang lembap. Tali penanda membentang sepanjang lorong, diikat pada paku-paku besi yang ditanam oleh tim pemetaan kerajaan. Setiap beberapa langkah terdapat simbol kecil yang mencatat arah, jarak, dan perubahan struktur batu.

Para peneliti Solmaria telah berhenti menghitung berapa kali mereka menemukan cabang baru.

Terowongan itu tidak lagi dapat disebut sebagai satu jalur.

Ia telah menjadi jaringan.

Dan pagi itu, mereka menemukan sesuatu yang berbeda.

"Yang ini tidak sama."

Seorang peneliti berlutut di depan dinding.

Jarinya menyentuh permukaan batu yang tertutup debu tua.

Relief yang sebelumnya mereka temukan memiliki pola berulang—garis melingkar, bentuk menyerupai cincin, serta guratan-guratan geometris yang tidak berhasil mereka hubungkan dengan bahasa mana pun yang dikenal oleh para ahli kerajaan.

Namun relief di hadapannya berbeda.

Bentuknya lebih sempit.

Lebih tajam.

Tidak membentuk lingkaran sempurna.

Seorang prajurit Solmaria mengangkat lampu mana lebih dekat.

Bayangan relief bergerak di dinding.

"Apakah ini tulisan?"

"Tidak tahu."

"Simbol?"

"Mungkin."

"Kalau begitu apa artinya?"

Peneliti itu tidak segera menjawab.

Ia menelusuri garis terakhir dengan mata.

"Entah."

Jawaban sederhana itu justru membuat lorong terasa semakin sunyi.

Mereka telah menemukan cukup banyak tanda untuk mengetahui bahwa seseorang membangun tempat ini dengan tujuan tertentu.

Tetapi mereka belum menemukan siapa yang membangunnya.

Belum menemukan kapan.

Dan sekarang, jalur yang mereka ikuti mulai bergerak menuju arah yang seharusnya tidak mungkin.

Seorang pemeta membuka lembaran kulit yang telah dipenuhi garis.

Ia membandingkan arah lorong dengan peta permukaan.

Wajahnya berubah.

"Ulangi perhitungannya."

"Sudah tiga kali."

"Ulangi."

Peneliti di sampingnya menarik napas.

"Jika koordinat ini benar, lorong ini tidak lagi menuju pusat Telmora."

Ia menunjuk garis pada peta.

"Jalur ini menuju perbatasan."

Tidak ada yang berbicara.

Lalu ia menambahkan dengan suara lebih rendah.

"Dan kalau terus mengikuti arah ini..."

Jarinya berhenti di luar garis wilayah yang mereka tandai sebagai kekuasaan Solmaria.

"...jalan ini akan keluar dari wilayah kerajaan."

Seorang prajurit menatap kegelapan di hadapan mereka.

Untuk pertama kalinya sejak ekspedisi dimulai, tidak seorang pun bergerak maju.

Bukan karena takut.

Karena mereka sadar bahwa setiap langkah berikutnya dapat menjadi keputusan politik.

--o--

Sore menjelang ketika laporan itu sampai di istana.

Rachlar Rioviani membaca lembar pertama dalam diam.

Laporan itu tidak panjang. Sebagian besar berisi angka, koordinat, ukuran lorong, serta catatan teknis. Tidak ada kata-kata dramatis. Tidak ada dugaan liar.

Justru itu yang membuatnya berat.

Ia membalik halaman.

"Pastikan ini benar."

Pejabat yang berdiri di hadapannya menundukkan kepala.

"Tim pemetaan telah mengonfirmasi tiga kali, Yang Mulia."

Lihat selengkapnya