Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #26

Belajar Menjadi Lambat

Sore turun perlahan di atas Telmora, membawa cahaya keemasan yang tidak mampu sepenuhnya mengusir warna kelabu dari halaman pondok. Bekas luka perang masih tampak di kejauhan—dinding yang ditambal dengan batu berbeda warna, tiang kayu yang baru diganti, dan sebidang tanah yang belum kembali ditumbuhi rumput. Angin melewati pagar rendah, menggerakkan daun-daun kering dan membawa aroma tanah lembap dari kebun belakang.

Di tengah halaman, Kael berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu.

Senjata barunya berada di tangan.

Gagang panjang itu tampak hampir tidak wajar dibandingkan tubuhnya. Dua bilah kapak yang dahulu terpisah kini menyatu pada kedua ujung sebuah poros panjang, membentuk senjata yang menuntut ruang gerak jauh lebih besar daripada dua kapak lamanya.

Kael menarik napas.

Kemudian melangkah.

Satu langkah ke kiri.

Berhenti.

Satu langkah ke kanan.

Berhenti.

Tidak ada ayunan.

Tidak ada serangan.

Hanya langkah.

Keringat sudah membasahi tengkuknya meskipun matahari belum tenggelam.

Ia memutar pinggang perlahan, menjaga kedua telapak kakinya tetap menapak. Senjata itu bergerak mengikuti tubuhnya, bukan mendahului.

Satu putaran.

Kembali ke tengah.

Lalu perubahan arah.

Kaki belakang bergeser terlalu cepat.

Tubuhnya kehilangan garis keseimbangan.

Kael menghentakkan ujung senjata ke tanah sebelum terjatuh.

Bunyi logam menghantam tanah terdengar pendek.

Ia terdiam.

Dari beranda, Arden menurunkan cangkir yang sejak tadi dipegangnya.

"Bagus."

Kael melirik.

"Bagus?"

"Kau tidak jatuh."

Kael mendengus pelan.

"Standarnya rendah."

"Untuk hari ini, iya."

Kael kembali menatap senjatanya.

Ada sesuatu yang mengganggu dari benda itu.

Bukan beratnya.

Bukan panjangnya.

Ia sudah memahami bahwa senjata tersebut memiliki titik keseimbangan berbeda. Ia sudah mulai memahami bagaimana momentum berpindah dari satu ujung ke ujung lain. Ia bahkan telah berhasil melakukan beberapa pola dasar tanpa terjerembap seperti hari-hari pertama.

Masalahnya justru berada di dalam tubuhnya sendiri.

Tubuh itu tidak percaya pada senjata baru.

Setiap kali pikirannya memerintahkan satu gerakan, otot-ototnya seperti mengingat gerakan yang berbeda.

Bertahun-tahun.

Bukan berhari-hari.

Bukan berbulan-bulan.

Bertahun-tahun menggunakan dua kapak telah meninggalkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebiasaan.

Ia telah meninggalkan jalan di dalam tubuhnya.

Kael mengangkat senjata lagi.

"Ulang."

Arden mengangkat alis.

"Baru saja?"

"Ulang."

Arden tidak menjawab.

Kael memulai dari awal.

Kaki kiri.

Tarik napas.

Pindahkan berat badan.

Putar pinggang.

Berhenti.

Kaki kanan.

Berhenti.

Putar.

Berhenti.

Gerakan itu terasa menyiksa karena terlalu lambat.

Justru itulah masalahnya.

Ia ingin bergerak lebih cepat.

Tubuhnya terbiasa melakukannya.

Namun setiap kali ia mempercepat, ujung senjata bergerak terlalu jauh dan tubuhnya terlambat mengikuti.

Sekali lagi.

Langkah.

Putar.

Berhenti.

Perubahan arah.

Berhenti.

Kali ini tidak jatuh.

Kael menahan napas.

Kemudian menyadari sesuatu.

Tidak ada rasa puas.

Hanya kelelahan.

Namun untuk pertama kalinya, kelelahan itu terasa berbeda.

Ia tidak sedang bertarung melawan seseorang.

Ia sedang bertarung melawan dirinya sendiri.

--o--

Kylia berdiri di sisi lain halaman.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Arming sword berada di tangan kanannya, bilah sederhana yang memantulkan cahaya sore dengan kilau pucat. Bahu yang cedera masih belum mampu menerima beban seperti dahulu. Karena itu ia tidak memaksanya.

Satu tangan.

Satu langkah.

Tusukan pendek.

Tarik.

Putar pergelangan.

Kembali ke posisi awal.

Gerakannya jauh lebih sederhana daripada gaya bertarung yang mungkin pernah ia gunakan sebelumnya. Tidak ada ayunan lebar. Tidak ada tekanan berlebihan. Tidak ada gerakan yang mengharuskannya mengandalkan bahu yang belum pulih.

Kylia mengulanginya.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Kael melirik dari sudut mata.

Kylia menangkapnya.

"Jangan lihat aku."

"Aku tidak melihat."

"Kau melihat."

Kael kembali menatap ke depan.

"Sedikit."

"Latihanmu."

Kael menghela napas.

Ia memulai perubahan arah.

Kali ini terlalu cepat.

Kakinya menyilang.

Tubuhnya miring.

Ujung senjata kembali menyentuh tanah.

Kylia menghentikan gerakannya.

"Berhenti."

Kael mendongak.

"Apa?"

"Kau terlalu cepat."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa diulang?"

Lihat selengkapnya