Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #27

Raja yang Menunggu

Malam telah menelan menara-menara Solmaria ketika lonceng ketiga berbunyi dari jantung istana. Kabut tipis turun dari lereng selatan dan menggantung di antara atap-atap batu, membuat cahaya lentera di halaman tampak seperti bara yang terperangkap di balik kain kelabu. Dari koridor timur, bau lilin lebah bercampur dengan aroma kertas tua dan logam basah yang terbawa para penjaga dari luar.

Di ruang peta kerajaan, Rachlar Rioviani berdiri seorang diri di hadapan meja panjang.

Tidak ada mahkota di kepalanya.

Hanya jubah gelap yang disampirkan longgar di bahu dan sepasang sarung tangan kulit yang belum dilepas sejak ia menerima laporan sore tadi.

Di atas meja terbentang peta Telmora dan wilayah sekitarnya.

Satu garis merah memanjang dari bawah kota.

Kemudian bercabang.

Salah satunya berhenti sebelum wilayah perbatasan.

Yang lain terus ke selatan.

Menuju daerah yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Solmaria.

Rachlar menyentuh ujung garis itu dengan jarinya.

"Jadi kau benar-benar sampai sejauh ini."

Pintu terbuka.

Haween masuk dengan dua gulungan dokumen di tangannya. Ia menutup pintu kembali sebelum melangkah mendekati meja.

"Yang Mulia."

Rachlar tidak menoleh.

"Berapa orang yang tahu?"

"Tim penelitian, kepala pengawal bawah tanah, dua pejabat pemetaan."

"Di luar mereka?"

"Belum ada."

Rachlar akhirnya mengangkat kepala.

"Bagus."

Haween meletakkan dokumen di atas meja.

"Namun itu tidak akan bertahan lama."

"Tentu."

"Jika dewan mengetahui bahwa terowongan dari Telmora mengarah menuju wilayah yang berbatasan langsung dengan Umbra Veil, mereka akan meminta penjelasan."

"Mereka akan meminta lebih dari itu."

Haween diam.

Rachlar menarik kursi dan duduk.

Ia membuka salah satu gulungan.

"Militer?"

"Sudah mulai mendengar rumor. Belum ada pengerahan."

"Dan rakyat?"

"Belum tahu apa pun."

Rachlar mengangguk pelan.

Untuk sesaat ia hanya membaca.

Nama desa.

Nama sungai.

Nama benteng tua.

Jalur perdagangan yang telah berubah dalam dua puluh tahun terakhir.

Batas administratif yang beberapa kali bergeser setelah perang lama.

Semuanya tampak biasa.

Justru itu yang membuatnya mengganggu.

"Kalau kita umumkan sekarang," kata Haween, "apa yang akan kita katakan?"

Rachlar menatap peta.

"Kita tidak akan mengatakan apa-apa."

Haween menghela napas.

"Yang Mulia."

"Aku tahu apa yang kau pikirkan."

"Benarkah?"

"Kau akan mengatakan bahwa menyembunyikan penemuan semacam ini dari rakyat dapat menimbulkan masalah apabila informasi itu bocor dari sumber lain."

Haween tidak menyangkal.

"Dan?"

"Dan kau benar."

Rachlar menggulung kembali salah satu dokumen.

"Tetapi itu bukan masalah terbesar."

Haween menunggu.

"Masalah terbesar adalah kita belum tahu apa yang kita temukan."

Ia berdiri dan berjalan menuju rak arsip di dinding.

"Terowongan itu bisa merupakan jalur kuno. Bisa jalur perdagangan. Bisa sisa infrastruktur perang. Bisa pula sesuatu yang sengaja dibuat untuk mencapai tempat tertentu."

"Dan jika memang menuju Umbra Veil?"

"Kalau begitu, kita harus tahu mengapa."

Haween mengerutkan kening.

"Tanpa mendekati wilayah mereka?"

"Untuk sekarang."

--o--

Ruang arsip kerajaan berada tiga lantai di bawah aula utama.

Udara di dalamnya jauh lebih dingin.

Penjaga membuka pintu besi setelah melihat lambang kerajaan pada cincin Rachlar. Dua lentera dibawa masuk lebih dahulu. Cahaya kuning menyapu rak-rak kayu yang penuh gulungan, buku kulit, peta tua, dan kotak dokumen yang ditandai berdasarkan wilayah.

Rachlar berhenti di bagian selatan.

"Perbatasan dengan Umbra Veil."

Penjaga arsip segera bergerak.

"Bagian mana, Yang Mulia?"

"Semua."

Penjaga itu tampak ragu.

"Semua?"

"Semua yang berkaitan dengan perubahan perbatasan, jalur bawah tanah, reruntuhan, ekspedisi, dan wilayah yang dinyatakan tidak berpenghuni."

Haween menatapnya.

"Yang Mulia, itu bisa memakan waktu berjam-jam."

Rachlar mengambil sebuah lampu minyak.

"Kita punya malam."

Mereka bekerja dalam diam.

Satu demi satu dokumen dibuka.

Beberapa berasal dari masa pemerintahan raja sebelum Rachlar. Sebagian bahkan lebih tua. Peta-peta telah menguning. Tinta memudar menjadi cokelat. Beberapa segel lilin telah retak, tetapi tanda tangan pejabatnya masih terlihat.

Rachlar menemukan satu peta.

Ia membentangkannya.

"Di sini."

Haween mendekat.

Garis perbatasan lama berbeda dari yang sekarang.

Sebuah wilayah luas di selatan Telmora dahulu dicatat sebagai tanah kosong.

Tidak ada kota.

Lihat selengkapnya