Hujan turun tipis di atas kubah-kubah putih Istana Solmaria, membasahi batu kapur yang memantulkan cahaya lampu seperti tulang tua. Dari halaman dalam, suara lonceng pergantian jaga terdengar tiga kali, lalu lenyap ditelan dinding-dinding tebal. Malam membuat istana terasa lebih besar daripada siang hari—lorong-lorongnya memanjang dalam bayangan, sementara lambang matahari Helia yang terukir di setiap pilar tampak seperti mata yang terus terbuka.
Di ruang audiensi kecil sebelah timur, Rachlar berdiri di hadapan sebuah meja panjang.
Di atas meja itu terdapat tiga lembar dokumen.
Tidak lebih.
Tidak ada peta besar. Tidak ada laporan penemuan lengkap. Tidak ada gambar relief yang baru ditemukan di bawah Telmora. Hanya tiga lembar kertas yang telah diperiksa, disalin, dan diberi segel kerajaan.
Haween berdiri di sisi lain meja dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Anda benar-benar akan mengirimkannya malam ini?"
Rachlar tidak segera menjawab.
Ia membaca kembali kalimat pembuka pada dokumen itu.
Kerajaan Solmaria dengan hormat meminta klarifikasi kepada pemerintahan Umbra Veil mengenai keberadaan jaringan struktur bawah tanah yang berdasarkan pemetaan terbaru memiliki jalur yang mengarah melampaui wilayah administratif Solmaria dan berdekatan dengan wilayah yang berada di bawah yurisdiksi Umbra Veil.
Rachlar mengetukkan ujung jarinya sekali pada meja.
"Ya."
"Tanpa menunggu seluruh pemetaan selesai?"
"Kalau kita menunggu seluruhnya selesai, kita mungkin sudah terlambat."
Haween menarik napas pelan.
"Dan kalau mereka menganggap ini sebagai tuduhan?"
"Kalimatnya tidak menuduh."
"Mereka bisa menganggap apa pun sebagai tuduhan."
"Itu sebabnya kita tidak memberi mereka alasan untuk mengatakan bahwa kita menuduh."
Haween menatap dokumen itu lagi.
Bahasanya sangat hati-hati. Tidak ada kata invasi. Tidak ada kata pelanggaran wilayah. Bahkan tidak ada kata ancaman. Semua istilah yang dapat memicu kemarahan diplomatik telah dibuang.
Namun justru karena itulah dokumen tersebut terasa lebih tajam.
Sebuah kerajaan yang mengajukan pertanyaan secara resmi tidak dapat dengan mudah diperintah untuk diam.
"Anda ingin mereka menjawab sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak ketahui," kata Haween.
Rachlar mengangkat pandangan.
"Itulah maksudnya."
Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.
Hubungan Solmaria dan Umbra Veil telah dibangun selama beberapa generasi di atas sesuatu yang lebih kuat daripada perjanjian politik. Pedagang melewati jalur-jalur mereka. Barang-barang dari wilayah Umbra Veil masuk ke pasar Solmaria. Para imam dan peziarah bergerak di antara kuil-kuil kedua kerajaan. Bahkan doa-doa tertentu dibacakan dengan liturgi yang memiliki akar yang sama.
Hubungan seperti itu tidak dapat diputus hanya karena sebuah lorong ditemukan di bawah tanah.
Dan Rachlar tidak berniat memutuskannya.
Belum.
"Jika kita mengirim pasukan," katanya, "mereka akan melihat ancaman. Jika kita mengirim penyelidik tanpa pemberitahuan, mereka akan melihat pelanggaran. Jika kita diam, mereka akan melihat kelemahan."
Haween memandang wajah rajanya.
"Lalu kita mengirim surat."
"Surat kerajaan."
"Untuk meminta jawaban."
"Untuk meminta mereka menyadari bahwa kita sudah mulai bertanya."
Rachlar mengambil pena dan membubuhkan tanda terakhir pada dokumen.
Lilin di dekat tangannya bergetar diterpa angin dari celah jendela.
"Ini bukan perang," katanya.
Haween mengangguk.
"Belum."
Rachlar menatapnya sebentar.
"Jangan gunakan kata itu di depan utusan."
"Saya tahu."
"Dan jangan biarkan siapa pun di dewan menyebutnya demikian."
"Saya akan mengingatkan mereka."
Rachlar menyerahkan dokumen tersebut.
Haween menerimanya dengan kedua tangan.
Segel matahari Solmaria menutup bagian bawah surat, merah tua di atas lilin yang masih hangat.
"Utusan sudah menunggu," kata Haween.
"Kalau begitu jangan biarkan dia menunggu lebih lama."
--o--
Kereta diplomatik meninggalkan gerbang istana sebelum tengah malam.
Dua ekor kuda putih menarik kereta berlapis lambang Solmaria, sementara empat prajurit kerajaan mengawal dari belakang. Di dalam kereta, seorang utusan muda duduk tegak dengan dokumen kerajaan tersimpan dalam tabung kulit hitam.
Ia tidak membawa pedang.
Itu disengaja.
Hanya belati upacara yang tergantung di pinggangnya, terlalu pendek untuk digunakan dalam pertempuran tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tetap membawa kehormatan kerajaan.
Gerbang kota terbuka.
Roda kereta menggilas batu basah.
Dari balik jendela istana, Rachlar melihat cahaya lentera mereka semakin kecil sampai akhirnya menghilang di balik kabut malam.
Haween berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Pesannya sederhana," katanya.
Rachlar tidak menoleh.
"Semoga mereka membacanya dengan cara yang kita inginkan."
"Dan kalau tidak?"
"Berarti kita belajar sesuatu."
Ia berbalik.
"Yang penting, kita tidak lagi menunggu."
--o--
Tiga hari kemudian, surat itu tiba di Umbra Veil.
Istana kerajaan di sana berdiri di bawah langit kelabu yang nyaris tanpa warna. Menara-menara hitam menjulang seperti tombak batu, sementara kaca-kaca jendela tinggi memantulkan cahaya pucat dari kuil utama Dewi Helia.
Utusan Solmaria tidak langsung dibawa ke hadapan raja.
Ia melewati tiga pemeriksaan.
Segel kerajaan diperiksa oleh pejabat administrasi.
Tabung dokumen diperiksa oleh pengawal.
Dan sebelum memasuki ruang penerimaan diplomatik, surat itu diperiksa oleh seorang pejabat dari Dewan Tinggi.
Tidak ada satu pun segel yang rusak.
Tidak ada satu pun tanda pemalsuan.
Namun ketika surat itu akhirnya diletakkan di atas meja dewan, ruangan menjadi jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Seorang pejabat senior membaca kalimat pertama.
Kemudian kalimat kedua.
Lalu berhenti.
"Ini mengenai terowongan."
Tidak ada yang menjawab.
Ia membaca lagi.
Kali ini lebih perlahan.
"Solmaria meminta klarifikasi mengenai jaringan struktur bawah tanah yang jalurnya mengarah ke wilayah yang berhubungan dengan Umbra Veil."
Salah satu anggota dewan mengangkat kepala.
"Menuduh kita?"
"Tidak."
"Meminta kita mengakui sesuatu?"