Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #29

Rumah yang Semakin Nyaman

Sore turun perlahan di Telmora, membawa cahaya keemasan yang menyapu atap-atap rumah dan dinding batu yang masih menyimpan bekas luka perang. Beberapa bangunan di ujung distrik belum selesai diperbaiki; rangka kayu menonjol dari dinding seperti tulang yang belum tertutup daging. Namun di jalan utama, kehidupan telah kembali memenuhi celah-celah yang ditinggalkan kehancuran. Pedagang meneriakkan harga, roda gerobak berderit di atas batu, anak-anak berlari membawa roti hangat, dan dari kejauhan terdengar bunyi palu seorang tukang besi yang memukul logam berulang-ulang.

Telmora tidak menjadi kota yang sama.

Tetapi setidaknya kota itu kembali menjadi kota.

Kylia berdiri di depan sebuah lapak sayuran sambil memeriksa dua ikat daun yang hampir serupa.

"Yang ini lebih segar."

Pedagang tua di depannya mengangkat alis.

"Yang kanan baru datang pagi."

"Yang kiri?"

"Kemarin."

Kylia menatap kedua ikat itu lagi.

"Kalau begitu kenapa harganya sama?"

Pedagang itu tertawa kecil.

"Kau mulai belajar."

Kylia mendengus pelan, lalu mengambil yang baru.

Tangannya masih belum kembali sepenuhnya seperti dulu. Bahu yang pernah mengalami cedera masih menyimpan kekakuan jika digunakan terlalu lama. Tetapi hari ini ia membawa keranjang dengan satu tangan tanpa meminta bantuan.

Gerakan kecil.

Tidak penting bagi orang lain.

Bagi Kylia, cukup penting untuk membuatnya berhenti sejenak.

Ia melanjutkan berbelanja.

Daging, umbi, tepung, sedikit garam, minyak, dua buah apel, dan beberapa rempah yang menurut penjual dapat membuat makanan sederhana terasa lebih layak disebut masakan.

Ketika ia menghitung uang di telapak tangannya, suara seseorang terdengar dari belakang.

"Kau membeli terlalu banyak."

Kylia menoleh.

Sariel berdiri beberapa langkah darinya, membawa kantong kain sendiri. Rambutnya sedikit berantakan karena angin sore.

"Kau selalu muncul saat aku sedang membayar."

"Itu karena kau selalu terlalu lama memilih."

"Aku sedang belajar."

"Memilih sayuran?"

"Menjadi orang normal."

Sariel terdiam sebentar.

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Kau cocok."

Kylia mengerutkan dahi.

"Cocok apa?"

"Menjadi normal."

Kylia memandangnya sejenak sebelum kembali memasukkan barang ke dalam keranjang.

"Aku anggap itu pujian."

"Memang."

Mereka berjalan beberapa langkah bersama.

Tidak ada pembicaraan mengenai perang.

Tidak ada pembicaraan tentang darah, pengejaran, atau orang-orang yang telah mereka kehilangan.

Hanya harga makanan dan apakah hujan akan turun malam nanti.

Kylia baru menyadari setelah beberapa saat bahwa ia menyukai pembicaraan semacam itu.

Hal-hal kecil yang tidak membutuhkan kewaspadaan.

Hal-hal yang tidak menuntut seseorang memegang senjata.

--o--

Kael tiba ketika matahari sudah menyentuh garis atap sebelah barat.

Kereta pos berhenti di depan kantor pengiriman, dan Kael turun sambil mengangkat satu kantong kain dari bagian belakang.

Kakinya terasa pegal.

Bukan karena pertempuran.

Bukan karena mengejar monster.

Hanya karena berjalan seharian dari satu ujung kota ke ujung lainnya.

Anehnya, rasa lelah itu tidak membuatnya kesal.

Ia justru merasa puas.

Seorang kusir tua melambaikan tangan.

"Besok lewat jalur utara lagi?"

"Kalau tidak ada perubahan."

"Jangan terlalu lama bicara dengan penerima surat."

Kael berhenti.

"Kenapa semua orang bilang begitu?"

Kusir itu tertawa.

"Karena kau memang begitu."

Kael menghela napas.

Ia mengambil kantongnya dan berjalan pulang.

Di dalamnya ada beberapa bahan makanan yang dibelinya dari pasar setelah pengiriman terakhir. Sedikit daging asap, roti, buah, dan dua potong kue yang dibungkus kertas.

Ketika pintu pondok terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya.

Hangat.

Sederhana.

Tidak mewah.

Namun cukup untuk membuat Kael berdiri sesaat di ambang pintu.

Kylia sedang berada di dekat tungku.

Arden duduk di meja sambil memperbaiki tali perlengkapan yang sudah aus.

"Jangan berdiri seperti orang yang baru menemukan rumah," kata Arden tanpa mengangkat kepala.

Kael mengangkat kantong.

"Aku membawa makanan."

"Kalau begitu masuk."

Kael menutup pintu.

Ia meletakkan bahan makanan di atas meja.

Kylia menoleh.

"Kau membeli kue?"

"Dua."

"Kita bertiga."

"Aku tahu."

Arden akhirnya mengangkat kepala.

"Jadi?"

Kael mengambil salah satu bungkusan.

"Yang satu untuk Kylia."

Kylia berkedip.

"Kenapa?"

"Karena aku mau."

"Yang satunya?"

"Untukku."

Arden menatapnya.

"Bagus. Aku memang tidak menginginkan apa-apa."

Kael menahan senyum.

Kylia justru mengambil bungkusan ketiga yang tersembunyi di dalam kantong.

Ada satu roti manis kecil.

Ia menatap Kael.

"Ini?"

Kael mengangkat bahu.

"Cadangan."

Arden menggeleng.

"Kau semakin buruk."

Lihat selengkapnya