Malam turun di atas Umbra Veil seperti kain hitam yang dibasahi minyak. Cahaya bulan tertahan di balik awan tebal, sementara nyala api suci di sepanjang menara istana bergerak gelisah diterpa angin dari pegunungan utara. Dari kejauhan, lonceng Kuil Helia berdentang sembilan kali, suaranya menggulung di antara bangunan batu dan lorong-lorong istana sebelum mati di balik tembok.
Di dalam Ruang Dewan Tinggi, tidak ada angin.
Jendela-jendela tinggi telah ditutup rapat. Tirai hitam-emas menggantung tanpa bergerak. Puluhan lilin minyak matahari menyala di sepanjang dinding, masing-masing ditempatkan di dalam wadah berbentuk cakram dengan lambang Helia terukir di permukaannya. Cahaya kekuningannya jatuh ke meja bundar dari batu hitam, membuat wajah-wajah para anggota Dewan Tinggi tampak lebih tua daripada usia mereka.
Di tengah meja, sebuah gulungan dokumen terbuka.
Segel Solmaria masih utuh.
Namun isi suratnya telah dibaca berkali-kali.
“Ini bukan tuntutan yang pantas dijawab.”
Suara itu datang dari sisi kanan meja.
Seorang anggota Dewan dengan jubah putih berlapis benang emas mengetukkan jarinya pada permukaan batu.
“Mereka meminta penjelasan mengenai jaringan terowongan yang berada di bawah wilayah mereka dan mengarah menuju kawasan yang berhubungan dengan perbatasan kita. Tidak ada dasar bagi Solmaria untuk menuntut penjelasan kepada Umbra Veil.”
“Benar,” sahut anggota lain. “Kita dapat menyatakan bahwa terowongan tersebut bukan milik kita.”
“Dan jika mereka meminta bukti?”
“Beri mereka jawaban yang sama.”
“Jawaban bukan bukti.”
Ruangan kembali sunyi.
Zareth duduk di ujung meja, sedikit terpisah dari lingkaran para anggota Dewan. Mahkota tipis berwarna hitam bertengger di kepalanya, tetapi tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menganggap mahkota tersebut sebagai simbol kekuasaan mutlak.
Di Umbra Veil, raja adalah darah.
Dewan adalah kehendak.
Dan kehendak selalu memiliki cara untuk bertahan lebih lama daripada seorang raja.
Zareth tidak menyentuh dokumen di hadapannya.
Matanya hanya bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya.
“Apakah kita memiliki jawaban?” tanyanya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Satu orang membuka mulut, kemudian menutupnya kembali.
Yang lain menundukkan pandangan kepada dokumen.
Zareth menunggu.
Akhirnya seorang pejabat kerajaan yang duduk di belakang anggota Dewan berkata, “Belum, Yang Mulia.”
Satu kalimat.
Tetapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih dingin.
“Belum,” ulang Zareth pelan.
“Catatan mengenai terowongan di wilayah Solmaria tidak ditemukan dalam arsip kerajaan yang dapat diakses pejabat kami. Tidak ada catatan pembangunan. Tidak ada izin penggalian. Tidak ada laporan ekspedisi yang secara resmi mencantumkan jaringan tersebut.”
“Dan arsip keuskupan?”
“Tidak ada.”
“Arsip militer?”
“Tidak ada.”
“Abbysal Sovereign?”
Pejabat itu terdiam sejenak.
“Kami belum menerima tanggapan resmi.”
Zareth menghela napas pendek.
Jadi bahkan mereka tidak tahu.
Atau tidak mau menjawab.
Kedua kemungkinan itu sama-sama buruk.
--o--
“Solmaria tidak berada dalam posisi untuk menekan kita.”
Seorang anggota Dewan lain berdiri. Usianya lebih tua daripada Zareth, wajahnya kurus dan tulang pipinya menonjol. Lambang matahari Helia tersemat di kerahnya.
“Mereka bergantung pada kita.”
Ia menunjuk surat di meja.
“Perdagangan lintas wilayah. Jalur ziarah. Perlindungan keagamaan. Bahkan beberapa kebutuhan logistik mereka masih melalui jaringan yang berada di bawah pengaruh Umbra Veil. Jika kita membiarkan kerajaan kecil itu mempertanyakan kita setiap kali menemukan sesuatu yang tidak mereka pahami, apa yang tersisa dari kedudukan kita?”
“Wibawa,” sahut anggota lain.
“Wibawa tidak runtuh hanya karena satu surat.”
“Bukan suratnya yang berbahaya.”
Zareth akhirnya bicara.
Semua mata beralih kepadanya.
“Pertanyaannya.”
Ia menyentuh ujung dokumen dengan satu jari.
“Mereka tidak menuduh kita membangun terowongan itu.”
“Belum.”
“Justru itu.”
Zareth mengangkat pandangan.
“Mereka hanya bertanya mengapa jalur itu ada.”
Tidak seorang pun menjawab.
“Jika kita menyangkalnya, kita mengakui bahwa kita mengetahui sesuatu tentang terowongan itu.”
“Dan jika kita menjelaskannya?”
“Kita mungkin harus menjelaskan lebih banyak daripada yang mereka tanyakan.”
Seseorang mendecakkan lidah.
“Yang Mulia terlalu berhati-hati.”
“Dan Anda terlalu ingin memberi mereka alasan untuk bertanya lagi.”
Ketegangan tipis melintas di antara mereka.
Zareth tidak meninggikan suara.
Ia tidak perlu.
“Solmaria mungkin bergantung pada kita,” katanya. “Tetapi ketergantungan bukan berarti kebutaan.”
Ia mengambil surat itu.
Kertasnya tipis, tetapi terasa berat di tangannya.
“Selama bertahun-tahun, kita dapat mengatakan kepada mereka bahwa keamanan wilayah mereka bergantung pada hubungan dengan Umbra Veil. Kita dapat menentukan jalur perdagangan. Kita dapat memengaruhi siapa yang mendapat perlindungan kuil dan siapa yang tidak.”
Jarinya berhenti di atas segel Rachlar.
“Tetapi sekarang mereka memiliki sesuatu yang dapat mereka tunjuk.”
Seorang anggota Dewan menyipitkan mata.
“Terowongan.”
“Bukan.”
Zareth menatapnya.
“Bukti bahwa ada sesuatu yang tidak kita ketahui.”
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada tuduhan.
Para anggota Dewan saling bertukar pandangan.
Di luar, angin malam mengguncang menara.
Salah satu lilin hampir padam.