Hujan turun sebelum matahari sempat benar-benar tenggelam, mula-mula sebagai titik-titik dingin yang menghantam tanah halaman pondok, lalu berubah menjadi tirai kelabu yang menelan pepohonan di sekelilingnya. Atap kayu berderak pelan diterpa air. Tanah yang kemarin keras kini berubah menjadi lumpur tipis, dan setiap pijakan meninggalkan bekas telapak kaki yang segera dipenuhi genangan.
Di tengah halaman, Kael berdiri dengan kedua tangan menggenggam kapak panjangnya.
Air mengalir dari rambut ke wajahnya.
Ia tidak menghapusnya.
Kapak itu terangkat.
Kael menarik napas.
Satu langkah.
Putaran pinggang.
Ayunan dari kanan.
Ujung mata kapak menyambar udara dengan suara berat.
Ia mengubah arah.
Terlambat.
Kaki kirinya tergelincir setengah telapak.
Kael memaksa tubuhnya kembali tegak dan meneruskan gerakan kedua.
Gagang panjang itu berputar di tangannya.
Terlalu cepat.
Ujung senjata kehilangan garis.
Kael memutar pergelangan untuk mengoreksinya, tetapi koreksi tersebut justru membuat bahunya tertarik ke belakang.
Kakinya kembali bergeser.
Ia berhenti.
Dada naik turun.
“Lagi.”
Suara Kylia terdengar dari bawah tepian atap.
Kael menoleh.
Kylia berdiri bersandar pada salah satu tiang kayu, satu tangan memegang arming-sword yang belum ditarik dari sarungnya. Bahunya yang sebelumnya terluka masih dibalut kain tipis di balik pakaian, tetapi gerakannya sudah jauh lebih bebas dibanding beberapa minggu lalu.
“Sudah tujuh kali,” katanya.
“Delapan.”
“Lebih buruk.”
Kael memandang kapaknya.
“Berarti masih kurang.”
Kylia mendengus pelan.
“Masalahmu bukan kurang latihan.”
Kael mengangkat alis.
“Lalu?”
“Kau masih berpikir seperti orang yang membawa dua senjata pendek.”
Hujan semakin deras.
Kael tidak menjawab.
Ia tahu Kylia benar.
Yang membuatnya kesal adalah tubuhnya juga tahu.
Bertahun-tahun menggunakan dua kapak telah meninggalkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebiasaan. Setiap kali ia ingin berpindah posisi, tubuhnya sudah memilih langkah sebelum pikirannya sempat menyusul. Setiap kali ia ingin menyerang dari sisi berbeda, pinggangnya bergerak dengan pola lama. Setiap kali sebuah celah muncul, tangannya ingin memanfaatkannya secepat mungkin.
Dua kapak dahulu membuatnya bisa memotong jarak.
Senjata ini menuntutnya memahami jarak.
Itu dua hal yang berbeda.
Kael mengangkat kapak panjangnya lagi.
“Sekali lagi.”
Kylia menghela napas.
“Baik. Tapi kali ini jangan menyerang.”
Kael menatapnya.
“Apa?”
“Jangan menyerang.”
“Latihan menggunakan kapak tanpa menyerang?”
“Ya.”
Kylia menunjuk tanah di depan Kael.
“Berdiri di sana.”
Kael menurut.
“Kaki kanan sedikit mundur.”
Ia menggeser kaki.
“Jangan terlalu jauh.”
Kael memperbaikinya.
“Sekarang angkat kapaknya.”
Kael mengangkat senjata itu dengan kedua tangan.
“Jangan pakai kekuatan.”
“Aku sedang memegang kapak.”
“Memegang bukan mengangkat untuk membunuh.”
Kael terdiam.
Kylia berjalan mendekat.
Hujan membasahi rambutnya ketika ia keluar dari bawah atap.
“Senjata panjang bukan sekadar kapak yang diperpanjang,” katanya.
Ia berdiri sekitar tiga langkah di depan Kael.
“Kalau kau terus menganggap begitu, tubuhmu akan selalu mencoba melakukan sesuatu yang tidak lagi cocok dengan senjatamu.”
Kael menatap ujung mata kapak.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Rasakan ujungnya.”
Kael mengerutkan kening.
Kylia tidak tersenyum.
“Bukan dengan matamu.”
Ia mengangkat tangannya.
“Dengan jarak.”
Kael menarik napas.
Ia tidak menyerang.
Hanya berdiri.
Untuk beberapa detik, suara hujan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
Kemudian Kylia melangkah mendekat.
Kael refleks mundur.
“Jangan.”
Kael berhenti.
Kylia melangkah lagi.
Kael kembali ingin mundur.
“Jangan.”
Kini Kylia sudah berada dalam jarak yang membuat ujung kapak Kael terlalu dekat untuk ayunan lebar.
“Kalau aku terus mendekat?”
Kael menggenggam gagang lebih erat.
“Kalau terlalu dekat, aku—”
“Tidak.”
Kylia memotong.
“Jangan pikirkan serangan.”
Kael mengembuskan napas.
Ia menurunkan sedikit ujung senjata.
Kylia maju lagi.
Kali ini Kael menggeser kaki, memutar badan, dan menggunakan panjang gagang untuk menjaga ruang di antara mereka.
Kylia berhenti.
“Nah.”
Kael memandang posisi tubuhnya.
Ia tidak mengayunkan kapak.
Tidak menyerang.
Hanya menggunakan panjang senjata sebagai batas.
“Lagi,” kata Kylia.
Kali ini Kael mulai mengerti.
Bukan tentang seberapa cepat ia bisa sampai ke lawan.
Tentang seberapa jauh ia bisa memaksa lawan berada darinya.
Ia melangkah ke samping.
Kylia mengikuti.
Kael memutar gagang sedikit.
Ujung kapak bergerak membentuk busur pendek.
Kylia mundur setengah langkah.
“Bagus.”
Kael mengulanginya.
Lebih lambat.
Lebih terkendali.
Namun begitu ia mencoba berpindah arah dua kali berturut-turut, kebiasaan lamanya muncul kembali.
Ia memutar terlalu cepat.