Hujan belum turun di Solmaria malam itu, tetapi langit telah menghitam seperti besi yang lama ditempa di dalam tungku. Di balik jendela-jendela tinggi istana, cahaya lampu minyak memantul pada kaca dan membuat halaman luar tampak seperti dunia yang jauh, dingin, dan tidak tersentuh.
Rachlar berdiri di depan meja panjang yang dipenuhi peta.
Di atas permukaan kayu tua itu terbentang salinan jalur terowongan yang ditemukan para peneliti kerajaan. Garis-garis tinta hitam menjalar dari bawah Telmora, berbelok melewati lapisan batu, turun menuju ruang-ruang yang bahkan belum sepenuhnya dipetakan. Salah satu cabangnya berhenti tidak jauh dari wilayah yang berbatasan dengan Umbra Veil.
Tidak ada garis yang mengatakan siapa pembuatnya.
Tidak ada lambang kerajaan.
Tidak ada segel lama yang cukup utuh untuk memberi jawaban.
Justru karena itulah Rachlar merasa lebih terganggu.
"Yang Mulia."
Haween berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kedua tangannya terlipat di depan tubuh, sementara jubah kerjanya masih menyimpan bau tanah lembap dari ruang bawah tanah.
"Utusan sudah siap."
Rachlar tidak segera menjawab.
Jarinya bergerak perlahan di atas peta, berhenti pada ujung jalur yang mengarah ke timur.
"Berapa jauh?"
"Jalur yang sudah dipastikan mencapai wilayah dekat Umbra Veil?" Haween bertanya.
Rachlar mengangguk.
"Kurang dari yang kita inginkan untuk disebut aman. Lebih dari cukup untuk disebut kebetulan."
Haween menatap peta.
"Dan tuntutan kedua ini?"
"Harus dikirim malam ini."
Haween menarik napas pendek.
"Jika Dewan Tinggi menganggap ini sebagai tuduhan—"
"Maka mereka akan mengatakan kita menuduh mereka."
"Dan?"
"Dan aku akan menyangkalnya."
Haween mengangkat mata.
Rachlar akhirnya berbalik.
"Kita tidak menuduh Umbra Veil membangun terowongan itu."
Ia mengambil lembar dokumen yang telah disiapkan para juru tulis kerajaan. Kertas tebal dengan lambang Solmaria tercetak di bagian atasnya. Tinta biru tua masih tampak basah.
"Kita tidak menuduh mereka menggunakannya."
Ia melipat dokumen itu sekali.
"Kita bahkan tidak menuduh mereka mengetahui keberadaannya."
Rachlar menyerahkan dokumen tersebut kepada Haween.
"Kita hanya meminta akses."
Haween membaca bagian pembuka.
Bahasanya sengaja kaku. Tidak ada kata seperti pelanggaran, infiltrasi, atau ancaman. Tidak ada tuduhan tersembunyi di balik kalimat yang dapat dipelintir menjadi alasan perang.
Hanya permintaan resmi.
Pihak Solmaria meminta izin untuk mengirim tim terbatas ke wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Umbra Veil guna memeriksa kesinambungan jaringan bawah tanah yang ditemukan di wilayah kerajaan.
Dengan pengawalan terbatas.
Tanpa pasukan.
Tanpa pendudukan.
Tanpa klaim wilayah.
Haween membaca sampai akhir.
Lalu ia berhenti.
"Yang Mulia."
"Ya?"
"Bagian imbalannya."
Rachlar tidak tersenyum.
"Sudah kau baca?"
"Ya."
"Menurutmu terlalu besar?"
Haween menatap lembar itu cukup lama.
"Justru itu yang membuat saya khawatir."
Rachlar kembali menatap peta.
"Bagus."
"Bagus?"
"Kalau aku menawarkan terlalu sedikit, mereka bisa menganggap kita sekadar ingin masuk."
Ia menggeser sebuah keping batu di atas peta.
"Kalau aku menawarkan sesuatu yang terlalu besar, mereka harus memikirkan mengapa aku begitu menginginkan jawaban."
Haween mengerti.
Tawaran itu bukan sekadar pembayaran.
Itu umpan.
Rachlar tidak ingin membeli pintu.
Ia ingin melihat siapa yang panik ketika pintu itu diketuk.
"Jadi kita menawarkan kerja sama dagang?" tanya Haween.
"Sebagian."
"Dan akses pelabuhan?"
"Terbatas."
"Preferensi distribusi?"
"Untuk beberapa komoditas."
Haween mengangkat pandangan.
"Yang Mulia, itu dapat menguntungkan Umbra Veil cukup besar."
"Memang."
"Jika mereka menerima—"
"Solmaria juga memperoleh sesuatu."
"Akses."
"Pengakuan."
Haween terdiam.
Rachlar menyentuh lambang Solmaria pada bagian atas dokumen.
"Selama ini hubungan kita dengan Umbra Veil membuat banyak keputusan kerajaan harus dipertimbangkan melalui bayangan mereka. Kita bergantung pada perdagangan mereka. Kita masih memiliki hubungan religius yang kuat dengan kuil-kuil Helia. Kita tidak bisa bertindak seolah hubungan itu tidak ada."
Ia menatap Haween.
"Tapi kerja sama bukan berarti tunduk."
Tidak ada kemarahan dalam suaranya.
Justru ketenangan itulah yang membuat kalimat tersebut terasa berat.
"Kirim."
Haween membungkuk.
"Baik, Yang Mulia."
Rachlar memandang punggung penasihatnya yang meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, ia kembali sendirian bersama peta.
Di bawah cahaya lampu minyak, jaringan terowongan itu tampak seperti urat hitam yang menyebar di bawah tubuh kerajaan.
Dan salah satu urat itu mengarah ke negeri yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai sekutu, pelindung, dan pusat kekuatan yang terlalu besar untuk dipertanyakan.
Rachlar menurunkan pandangan.
"Kalau memang tidak ada apa-apa," gumamnya, "mengapa begitu sulit menjawabnya?"
--o--
Perjalanan utusan Solmaria berlangsung tanpa pengawalan militer.
Dua kereta diplomatik meninggalkan gerbang kerajaan sebelum tengah malam. Lambang Solmaria berkibar di bawah cahaya obor, cukup jelas untuk menunjukkan bahwa rombongan tersebut datang secara resmi, tetapi tidak cukup besar untuk dianggap sebagai demonstrasi kekuatan.
Dokumen kedua disimpan dalam peti kayu hitam.
Dikunci.
Disegel.
Dan dijaga oleh tiga orang yang lebih takut pada kegagalan diplomatik daripada pedang musuh.
Pesan itu akhirnya menyeberangi jalur pemerintahan yang biasa.
Dari kantor perbatasan.
Ke pejabat luar negeri.
Ke tangan pejabat kerajaan Umbra Veil.
Baru kemudian mencapai istana.