Kabut turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Di wilayah iblis, kabut tidak selalu datang dari sungai atau tanah basah. Kadang-kadang ia keluar dari celah-celah batu tua, dari cerobong rumah yang membakar arang hitam, atau dari lembah tempat sihir kuno pernah merusak tanah. Kabut sore itu membawa bau besi, asap kayu, dan rempah pahit dari dapur-dapur rumah penduduk.
Vynn berjalan sendirian di jalan sempit yang dipenuhi lumpur.
Jubahnya dibuat sesederhana mungkin. Tidak ada lambang Abbysal Sovereign yang terlihat. Tidak ada senjata mencolok. Hanya pedang pendek di pinggang dan tas kulit berisi catatan, uang, serta beberapa lembar salinan dokumen lama.
Ia berhenti di depan sebuah rumah batu dengan atap rendah.
Tidak ada yang istimewa.
Justru itu masalahnya.
Vynn menatap rumah tersebut beberapa saat sebelum mengetuk.
Tiga kali.
Jeda.
Dua kali.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang perempuan tua dengan tanduk pendek dan rambut putih menatapnya dari balik celah.
"Siapa?"
"Namaku Vynn."
"Aku tidak kenal."
"Seharusnya begitu."
Mata perempuan itu menyipit.
Vynn mengeluarkan keping logam kecil dari sakunya. Bukan lambang guild. Hanya tanda yang pernah diberikan kepadanya oleh seorang informan lama.
Perempuan itu melihatnya.
Wajahnya berubah sedikit.
"Bukan di sini."
"Kalau begitu di mana?"
"Masuk."
Pintu dibuka.
Vynn masuk tanpa banyak bicara.
Ruangan itu kecil, hangat, dan berbau daun kering. Di atas meja terdapat tiga cangkir tanah liat. Dua di antaranya sudah kosong.
Perempuan tua itu duduk.
"Kau mencari orang yang salah."
"Aku mencari seseorang yang pernah dilihat orang lain."
"Lebih buruk."
Vynn duduk di seberangnya.
"Seorang penyihir?"
Perempuan itu tidak menjawab.
"Seorang iblis yang hidup sendirian?"
Masih diam.
"Seorang pria yang beberapa tahun lalu tinggal di desa sebelah, membeli garam setiap tujuh hari, tetapi tidak pernah menghadiri upacara musim panen?"
Tangan perempuan itu berhenti di atas cangkir.
Itu cukup.
Vynn tidak tersenyum.
"Namanya?"
"Aku tidak tahu."
"Deskripsinya?"
"Orang biasa."
Jawaban itu terlalu cepat.
Vynn menunggu.
Perempuan itu akhirnya berkata, "Itulah yang membuatnya sulit."
--o--
Mireth telah memberinya satu perintah.
Cari jejak Arcante.
Bukan orang yang mengenal Arcante.
Bukan tempat terakhir ia terlihat.
Jejak.
Satu-satunya petunjuk yang dipercaya Mireth masih memiliki nilai adalah peta kuno yang pernah dibawa pergi Arcante. Tidak ada yang tahu apakah peta itu masih ada. Tidak ada yang tahu apakah Arcante membawanya sampai akhir.
Tetapi seseorang pernah melihatnya.
Atau seseorang pernah melihat seseorang yang membawa sesuatu yang menyerupai peta itu.
Vynn memulai dari sana.
Selama hampir tiga minggu, ia berpindah dari satu permukiman ke permukiman lain.
Tidak pernah menanyakan nama Arcante secara langsung.
Nama itu terlalu berbahaya.
Ia bertanya tentang pedagang yang tidak berdagang.
Tentang penyihir yang tidak menggunakan sihir di depan umum.
Tentang pendatang yang membeli makanan dalam jumlah kecil tetapi selalu membayar dengan koin lama.
Tentang orang yang menyewa kamar selama beberapa bulan, lalu pergi sebelum musim berganti.
Sebagian besar jawaban tidak berguna.
Seorang lelaki mengatakan pernah melihat penyihir iblis di sebuah kedai.
Ternyata seorang petarung mabuk.
Seorang pedagang mengingat pria bertanduk hitam yang tinggal di rumah kosong.
Ternyata pengrajin tua.
Seorang anak mengaku pernah melihat seorang "penyihir yang bisa membuat bayangan bergerak".
Ternyata hanya kain yang tertiup angin di bawah cahaya lentera.
Vynn tidak kecewa.
Informasi buruk tetap memiliki satu kegunaan.
Ia membantu mempersempit kebohongan.
Malam itu, ia membuka catatan di sebuah penginapan kecil.
Lima nama desa.
Tiga pasar.
Empat rumah singgah.
Dua bengkel.
Satu gudang tua.
Ia menarik garis.
Kemudian berhenti.
Tidak ada pola jika dilihat satu per satu.
Tetapi ketika semua titik dipindahkan ke peta wilayah, sesuatu mulai muncul.
Bukan garis lurus.
Sebuah lingkaran yang terlalu lebar untuk disebut kebetulan.
Vynn mencondongkan tubuh.
Permukiman-permukiman itu berada di jalur yang sama.
Tidak berdekatan.
Tidak juga berada pada jalan perdagangan utama.
Namun semuanya memiliki satu kesamaan.
Mereka adalah tempat yang cukup kecil untuk membuat seseorang dikenal.
Tetapi cukup besar untuk membuat seseorang dilupakan.
Vynn mengambil arang.
Ia memberi tanda pada satu titik.
Lalu titik berikutnya.
Dan berikutnya.
Sebuah pola perjalanan.
Arcante tidak bergerak menuju tempat terpencil.
Ia bergerak melewati tempat-tempat biasa.
Vynn menatap peta cukup lama.
"Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia menutup buku.
Besok pagi ia akan bergerak lagi.
--o--
Permukiman berikutnya lebih ramai.
Vynn tiba menjelang siang ketika pasar sedang penuh.
Suara tawar-menawar bercampur dengan bunyi roda gerobak dan teriakan pedagang daging. Anak-anak berlari di antara kios. Para petani membawa karung hasil panen. Beberapa tentara bayaran duduk di depan kedai dengan senjata disandarkan pada dinding.
Vynn tidak menyukai tempat seperti ini.
Terlalu banyak mata.
Ia memilih kedai paling kecil di ujung pasar.
Pemiliknya seorang lelaki bertubuh besar dengan satu tanduk patah.
"Air."
"Bayar dulu."
Vynn meletakkan dua koin.
Lelaki itu memberikan cangkir.
Vynn meminumnya perlahan.
"Orang tua bernama Dareth masih tinggal di sini?"
Pemilik kedai berhenti mengelap meja.
"Kenapa?"
"Aku membawa pesan."
"Untuk siapa?"
"Dareth."
"Dia sudah mati."
Vynn mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Tiga tahun."