Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #34

Tekanan dari Dua Arah

Malam di Umbra Veil turun tanpa suara.

Kabut tipis menggantung di antara menara-menara hitam istana, menelan cahaya obor sampai nyalanya tampak seperti bara yang terperangkap di balik kain kelabu. Dari kejauhan, lonceng penjaga malam berdentang tiga kali, berat dan panjang, lalu kembali tenggelam ke dalam kesunyian. Di halaman dalam, para prajurit berjubah gelap berdiri pada pos masing-masing dengan tombak tegak di sisi tubuh. Tak seorang pun berbicara.

Namun di balik dinding batu yang tebal, sebuah ruangan sedang dipenuhi suara.

"Jika kita menolak, Solmaria akan menganggap penolakan itu sebagai jawaban."

Suara salah seorang anggota Dewan Tinggi memantul di langit-langit ruang sidang.

"Dan jika kita menerima?"

"Kalau kita menerima, mereka akan masuk."

"Mereka meminta akses terbatas."

"Terowongan itu bukan gudang tua yang dapat diperiksa sesuka hati."

Beberapa tangan bergerak di atas meja panjang. Dokumen-dokumen diplomatik terbuka, sebagian masih membawa segel merah Solmaria. Di atas lembar paling atas terdapat lambang kerajaan itu: matahari bermahkota yang dikelilingi lingkaran cahaya.

Lambang yang seharusnya menjadi simbol hubungan lama.

Malam itu, lambang tersebut terasa seperti mata yang sedang mengawasi mereka.

Zareth duduk di ujung meja.

Ia tidak ikut menyela.

Jubah hitamnya jatuh lurus dari bahu, tanpa ornamen berlebihan selain lambang Umbra Veil yang tersemat di dada. Wajahnya tenang, tetapi kedua tangannya terlipat di atas meja. Tidak ada gerakan yang sia-sia.

Ia membiarkan mereka berbicara.

Itu lebih berguna daripada memaksa mereka diam.

"Solmaria tidak akan mengirim pasukan," kata seorang pejabat kerajaan. "Rachlar sudah menyatakan itu secara tertulis."

"Untuk saat ini."

"Apakah kau menyarankan kita menuduhnya berbohong?"

"Aku menyarankan kita tidak bersikap naif."

"Dan apa pilihanmu?"

Pejabat itu terdiam.

Zareth memperhatikan jeda tersebut.

Itulah masalahnya.

Semua orang di ruangan ini memiliki keberatan. Tak seorang pun memiliki jawaban.

Ia mengangkat pandangan perlahan.

"Teruskan."

Percakapan kembali berjalan.

Dewan membicarakan kemungkinan menolak permintaan itu. Jika Umbra Veil mengatakan bahwa terowongan tersebut bukan urusan Solmaria, Rachlar masih dapat mempertanyakan mengapa jalur bawah tanah itu mendekati wilayah yang berada dalam lingkup pengaruh Umbra Veil.

Jika mereka mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan mengenai keberadaan jalur tersebut, mereka harus bersiap menghadapi pertanyaan berikutnya.

Jika mereka memberikan akses, mereka mempertaruhkan sesuatu yang bahkan belum mereka pahami.

"Bagaimana dengan hubungan kita dengan Kuil Helia?" tanya seorang anggota dewan yang lebih tua.

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Nama itu tidak perlu dijelaskan.

Kuil Helia bukan sekadar tempat ibadah bagi Solmaria. Jaringan keagamaannya melintasi perbatasan, membawa imam, pedagang, pengikut, dan utusan dari satu wilayah ke wilayah lain. Banyak perjanjian lama berdiri bukan karena pasukan, melainkan karena doa yang diucapkan pada altar yang sama.

Umbra Veil memiliki hubungan sendiri dengan jaringan tersebut.

Hubungan yang tidak bisa diputus begitu saja tanpa harga.

"Jika persoalan ini berkembang," lanjut sang anggota dewan, "Kuil Helia akan diminta bersikap."

"Biarkan mereka."

"Dan jika mereka memihak Solmaria?"

Tak ada jawaban.

Zareth menatap dokumen di depannya.

Ia membaca kembali satu kalimat dari surat Rachlar.

Tidak ada tuntutan wilayah.

Tidak ada ancaman perang.

Tidak ada kata-kata yang dapat digunakan sebagai alasan untuk mengerahkan pasukan.

Hanya permintaan akses.

Itulah yang membuatnya berbahaya.

Pedang dapat ditahan dengan pedang.

Pertanyaan jauh lebih sulit.

"Yang Mulia."

Zareth mengangkat mata.

Seorang pejabat berdiri di sisi meja.

"Solmaria masih bergantung pada kita dalam beberapa jalur perdagangan dan hubungan keagamaan. Jika mereka terus menekan, mereka sendiri yang akan kehilangan."

"Belum tentu."

Jawaban Zareth pendek.

Pejabat itu menunduk.

"Yang Mulia?"

"Ketergantungan bukan berarti kelemahan yang tidak dapat diubah."

Zareth bangkit.

Jubahnya bergeser pelan saat ia berjalan menuju jendela tinggi di belakang kursinya. Dari sana, Umbra Veil terlihat seperti lautan batu gelap. Lampu-lampu rumah menyala dalam garis-garis kecil di bawah kabut.

"Jika kita memaksa Solmaria memilih antara diam dan hubungan lama mereka dengan kita," katanya, "kita hanya mengajari mereka cara hidup tanpa kita."

Tak seorang pun menjawab.

"Dan itu," lanjut Zareth, "lebih berbahaya daripada satu terowongan."

Ia berbalik.

"Untuk sekarang, tidak ada serangan."

Beberapa wajah menunjukkan kelegaan.

Beberapa lainnya justru tampak kecewa.

Zareth melihat keduanya.

"Kita akan menjawab tuntutan mereka."

"Jawaban apa, Yang Mulia?"

Zareth tidak segera menjawab.

Ia menatap lambang matahari di atas dokumen Solmaria.

"Kita belum tahu."

--o--

Valrick berdiri di belakang barisan pejabat.

Seragamnya masih sama-sama hitam, tetapi lambang di bahunya tidak lagi menunjukkan pangkat Kapten.

Letnan.

Satu tingkat lebih rendah.

Perubahan kecil bagi orang yang tidak mengenalnya. Bagi Valrick, beratnya terasa setiap kali kain seragam itu menyentuh kulit.

Namun malam itu ia tidak memikirkan pangkatnya.

Ia memperhatikan para anggota dewan.

Seorang bangsawan terus mengulang bahwa Solmaria membutuhkan Umbra Veil. Pejabat lain mengatakan bahwa terowongan tersebut tidak mungkin menjadi ancaman. Yang ketiga meminta penjelasan lebih keras, tetapi tidak menawarkan cara untuk mendapatkannya.

Valrick mengenal medan perang.

Di medan perang, seseorang dapat mengetahui pasukan sedang kalah sebelum panji mereka jatuh.

Bukan dari jumlah mayat.

Dari cara para komandan mulai saling melihat ketika keadaan memburuk.

Ia melihatnya sekarang.

Bukan kepanikan.

Belum.

Tetapi keraguan.

Valrick menatap Zareth yang berdiri di depan jendela.

Raja itu belum kehilangan kendali. Bahkan sebaliknya. Ia masih mampu membuat seluruh ruangan diam hanya dengan beberapa kata.

Tetapi wibawa dan jawaban adalah dua hal berbeda.

Valrick menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa dingin.

Lihat selengkapnya