Langit di atas Solmaria berwarna kelabu pucat ketika lonceng istana berbunyi tiga kali.
Bunyinya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat para penjaga di halaman dalam berdiri lebih tegak. Embun pagi masih melekat pada batu-batu putih yang menyusun jalan menuju aula penerimaan, sementara udara membawa bau logam dari gerbang luar yang baru dibuka. Di sepanjang koridor, lambang matahari Solmaria tergantung berdampingan dengan panji-panji kerajaan yang selama beberapa pekan terakhir lebih sering menjadi latar bagi rapat tertutup daripada upacara terbuka.
Hari itu tidak berbeda.
Tidak ada kerumunan rakyat.
Tidak ada musik penyambutan.
Tidak ada barisan prajurit kehormatan dalam jumlah besar.
Hanya dua baris penjaga dan sebuah pintu aula yang sengaja dibiarkan terbuka.
Di ujung lorong, Rachlar Rioviani berdiri tanpa mahkota upacara.
Ia mengenakan jubah kerajaan berwarna gelap dengan garis emas tipis pada kerahnya. Haween berdiri beberapa langkah di belakang, membawa map dokumen yang diikat tali merah. Beberapa pejabat Solmaria menunggu di sisi lain, wajah mereka tegang oleh kesadaran bahwa pagi itu bukan sekadar pertemuan diplomatik.
Delegasi Umbra Veil akhirnya datang.
Suara roda kereta terdengar dari luar.
Rachlar tidak bergerak.
Pintu utama terbuka.
Empat orang memasuki aula. Mereka mengenakan pakaian resmi Umbra Veil, hitam dengan lambang kerajaan yang dijahit pada dada. Seorang pejabat senior berjalan paling depan, diikuti dua pendamping dan seorang sekretaris yang membawa peti kecil berisi dokumen dengan segel kerajaan.
Mereka berhenti beberapa langkah dari Rachlar.
Pejabat itu menundukkan kepala.
"Yang Mulia Raja Rachlar."
Rachlar hanya membalas dengan anggukan pendek.
Tidak ada pelukan diplomatik. Tidak ada kata-kata mengenai persahabatan lama. Bahkan tidak ada basa-basi tentang perjalanan.
Pejabat Umbra Veil sempat mengangkat pandangan.
Ia pasti menyadarinya.
Dahulu, utusan Umbra Veil tidak perlu berdiri menunggu di hadapan raja Solmaria dengan jarak seperti itu. Hubungan kedua kerajaan telah berlangsung terlalu lama untuk membutuhkan formalitas semacam ini. Ketergantungan perdagangan, jalur energi, dan hubungan dengan Kuil Helia membuat keseimbangan di antara keduanya selalu memiliki arah yang tidak sepenuhnya setara.
Namun pagi itu Rachlar tidak memperlakukan mereka sebagai pihak yang datang dari kerajaan yang lebih kuat.
Ia memperlakukan mereka sebagai pihak yang datang untuk berunding.
"Selamat datang di Solmaria," katanya.
Nada suaranya datar.
"Semoga perjalanan kalian tidak terlalu melelahkan."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Rachlar berbalik.
"Kalau begitu, kita bisa mulai."
Haween mengikuti di belakangnya.
Ketika pintu aula rapat tertutup, suara lonceng dari kejauhan kembali terdengar sekali.
Seolah-olah Solmaria baru saja mengunci sesuatu di dalam ruangan itu.
--o--
Meja perundingan berada di tengah ruang yang panjang dengan jendela-jendela tinggi menghadap halaman istana. Cahaya pagi masuk dalam garis pucat, jatuh di atas permukaan kayu hitam yang telah dipoles sampai mengilap.
Di atas meja terdapat dua lambang.
Matahari Solmaria.
Dan segel Umbra Veil.
Tidak ada senjata.
Tidak ada peta militer.
Hanya dokumen, tinta, dan beberapa kristal mana kecil yang digunakan untuk menjaga ruang tetap terang.
Rachlar duduk di ujung meja. Haween berada di sisi kanannya. Delegasi Umbra Veil mengambil tempat di seberang.
Pejabat senior itu membuka dokumen pertama.
"Kami datang sebagai tanggapan atas komunikasi resmi Yang Mulia mengenai jaringan terowongan yang ditemukan di bawah Telmora."
Rachlar menyandarkan punggungnya.
"Saya tahu."
"Kami memahami bahwa penyelidikan Solmaria menunjukkan beberapa jalur bergerak menuju wilayah yang berhubungan dengan perbatasan Umbra Veil."
"Benar."
"Umbra Veil bersedia membuka pembicaraan mengenai temuan tersebut."
Rachlar diam beberapa saat.
Kemudian ia berkata, "Jawaban yang terlambat tetap berguna."
Salah satu pejabat Umbra Veil mengeraskan rahang.
Haween tidak bereaksi. Ia hanya membuka map di hadapannya.
Rachlar melanjutkan.
"Namun saya kira kita tidak perlu kembali menghabiskan waktu untuk memperdebatkan apakah jalur itu ada."
"Kami tidak bermaksud—"
"Karena itu bukan lagi pertanyaannya."
Rachlar mengangkat satu lembar dokumen.
"Pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan setelah mengetahuinya."
Delegasi Umbra Veil saling bertukar pandang.
Haween kemudian mendorong satu berkas ke tengah meja.
"Solmaria tetap mempertahankan permintaan akses terbatas untuk pemeriksaan jalur bawah tanah yang telah dipastikan mengarah mendekati wilayah Umbra Veil."
Pejabat Umbra Veil membuka mulut, tetapi Rachlar mengangkat satu tangan.
"Bukan itu saja."
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Rachlar meletakkan dokumen pertama.
"Saya ingin mengusulkan sebuah perjanjian."
Kali ini tidak ada yang langsung menjawab.
"Perjanjian keamanan."
Haween menoleh sedikit. Meskipun ia telah mengetahui rancangan itu sebelumnya, mendengar Rachlar mengucapkannya di hadapan delegasi Umbra Veil membuat maknanya menjadi berbeda.
Rachlar tidak sedang meminta bantuan.
Ia sedang menawar ulang hubungan kedua kerajaan.
"Solmaria dan Umbra Veil telah terlalu lama berdiri di atas hubungan yang bergantung pada kebiasaan lama," katanya. "Perdagangan, jalur energi, hubungan keagamaan, dan kepentingan perbatasan telah membuat kedua kerajaan saling membutuhkan."
Pejabat Umbra Veil menjawab hati-hati.
"Itu memang dasar hubungan kita."
"Justru karena itu."
Rachlar menatapnya.
"Hubungan yang saling membutuhkan seharusnya memiliki bentuk yang jelas."
Ia memberi isyarat kepada Haween.
Haween membuka map kedua.
"Usulan pertama adalah pembentukan kerangka keamanan bersama untuk jalur perbatasan dan wilayah yang memiliki kepentingan strategis bersama."
Pejabat Umbra Veil membaca lembar tersebut.
Wajahnya berubah sedikit.
"Ini lebih luas daripada permintaan sebelumnya."