Hujan turun tipis di atas Istana Solmaria, mengubah halaman marmer menjadi cermin kelabu yang memantulkan menara-menara pucat di bawah langit tertutup awan. Air merayap dari ujung atap dan jatuh berulang kali ke talang batu, menciptakan irama monoton yang justru membuat ruang perundingan terasa semakin sunyi. Di dalam aula, puluhan kristal cahaya tergantung di antara pilar, tetapi tidak satu pun mampu menghangatkan udara.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja panjang dari batu putih.
Di atasnya terletak dua gulungan perjanjian.
Yang pertama adalah rancangan yang telah dibawa delegasi Umbra Veil.
Yang kedua baru saja ditulis oleh pejabat Solmaria.
Tidak ada satu pun dari keduanya yang akan kembali ke kerajaan masing-masing dalam bentuk yang sama.
Rachlar berdiri di ujung meja dengan kedua tangan bertumpu di permukaan batu. Jubah kerajaannya tidak bergerak meski angin dingin menyusup dari jendela-jendela tinggi. Di hadapannya, tiga anggota delegasi Umbra Veil duduk dalam diam. Segel kerajaan mereka masih terpasang pada lencana hitam di dada.
Salah seorang delegasi mengangkat lembar terakhir.
"Klausul ini tidak dapat diterima."
Rachlar tidak mengubah ekspresinya.
"Klausul yang mana?"
"Pasal mengenai akses energi Kuil Helia."
Suara delegasi itu tetap tenang, tetapi ujung jarinya menekan kertas sedikit terlalu kuat.
"Solmaria meminta hak bagi pejabat dan prajurit tertentu untuk mengakses energi yang selama ini berada dalam lingkar pengawasan Umbra Veil. Itu bukan sekadar kerja sama."
"Benar."
"Itu perubahan hubungan."
Rachlar mengangkat pandangan.
"Memang."
Jawaban singkat itu membuat beberapa pejabat Solmaria di sisi ruangan saling melirik.
Delegasi tersebut menarik napas.
"Lord Rachlar, Kuil Helia bukan fasilitas militer biasa. Sumber energinya memiliki hubungan dengan struktur keagamaan dan keamanan Umbra Veil. Memberikan akses kepada prajurit kerajaan lain dapat menciptakan preseden yang tidak dapat kami pertanggungjawabkan."
Rachlar mengambil gulungan pertama.
Ia membuka beberapa halaman.
"Selama bertahun-tahun, Solmaria tidak pernah meminta hak tersebut."
"Karena tidak diperlukan."
"Atau karena tidak mungkin?"
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali diam.
Delegasi itu menatapnya.
Rachlar tidak tersenyum.
Ia hanya mendorong sebuah dokumen ke tengah meja.
"Peta terowongan."
Beberapa garis merah terlihat pada lembar tersebut. Jalur bawah tanah yang ditemukan di bawah Telmora telah digambar ulang oleh para peneliti kerajaan. Sebagian berakhir di wilayah yang belum diketahui. Sebagian lainnya bergerak menuju arah yang secara geografis mendekati perbatasan Umbra Veil.
"Ini tidak dibuat oleh kami," kata delegasi Umbra Veil.
"Saya tidak mengatakan itu."
"Kalau begitu mengapa menjadikannya dasar perjanjian?"
"Karena sekarang pertanyaan itu sudah ada."
Rachlar menggeser jarinya sepanjang garis peta.
"Siapa yang membuat terowongan ini? Mengapa jaringan itu ada? Seberapa jauh membentang? Apa yang berada di ujungnya?"
Ia berhenti pada bagian peta yang belum terpetakan.
"Dulu Solmaria dapat memilih untuk tidak bertanya."
Tatapannya beralih kepada para delegasi.
"Sekarang kami sudah melihat pintunya."
Tidak ada tuduhan dalam suaranya.
Justru itulah yang membuat kata-kata tersebut lebih sulit dibantah.
"Dan selama kami belum mengetahui apa yang ada di baliknya," lanjut Rachlar, "kami tidak akan kembali pada hubungan lama seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
Salah seorang pejabat Umbra Veil menyandarkan tubuh.
"Apakah ini ancaman?"
"Jika saya mengancam," jawab Rachlar, "pasukan sudah bergerak."
Tidak ada yang membalas.
Di sudut aula, Haween berdiri dengan tangan terlipat di depan tubuh. Ia telah mendengar kalimat semacam itu berkali-kali selama perundingan. Rachlar tidak pernah mengucapkan sesuatu yang lebih keras daripada yang diperlukan.
Namun ia juga tidak pernah memberikan ruang bagi lawannya untuk salah memahami maksudnya.
Haween maju selangkah.
"Perjanjian ini bukan permintaan untuk mengambil alih Kuil Helia."
Ia menunjuk klausul tersebut.
"Akses dibatasi. Hanya pejabat dan prajurit yang ditunjuk kerajaan. Jumlahnya tercatat. Waktu penggunaannya tercatat. Energi yang diambil tercatat."
Delegasi Umbra Veil menatapnya.
"Dan pengawasan?"
"Gabungan."
"Berarti pengaruh kami tetap ada."
Haween menggeleng.
"Sebagian."
Kata itu jatuh lebih berat daripada seharusnya.
Sebagian.
Bukan seluruhnya.
Tetapi juga tidak lagi seperti sebelumnya.
"Selama ini," kata Haween, "akses energi tersebut membuat Solmaria bergantung pada keputusan Umbra Veil. Kami tidak menyebutnya ketergantungan karena hubungan kedua kerajaan berjalan baik. Tetapi secara praktis, ketergantungan itu ada."
Seorang pejabat Solmaria menundukkan kepala.
Tidak ada yang membantah.
Haween melanjutkan, "Perjanjian ini mengembalikan sebagian kedaulatan kami."
Delegasi Umbra Veil mengepalkan tangan di bawah meja.
"Kedaulatan."
Ia mengucapkan kata itu seperti sedang menguji rasa pahitnya.
"Anda menyebut pengurangan pengaruh kami sebagai kedaulatan."
"Jika pengaruh itu tidak dikurangi," jawab Haween, "maka kata kedaulatan hanya menjadi hiasan dalam dokumen kerajaan."
Rachlar membiarkannya.
Ia tidak perlu mengambil alih argumen.
Haween memahami apa yang ingin ia katakan.
Di hadapan mereka, perjanjian bukan lagi tentang terowongan semata.
Terowongan hanyalah retakan pertama pada hubungan yang selama ini tampak kokoh.
--o--
Perundingan dihentikan selama satu jam.
Delegasi Umbra Veil dipersilakan menuju ruang tunggu di sisi timur istana. Pintu kayu tebal tertutup di belakang mereka.
Begitu pintu tertutup, salah seorang delegasi langsung berdiri.
"Mereka meminta terlalu banyak."
Yang lain berjalan menuju jendela.
Di luar, hujan semakin deras.