Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #39

Hari Ketika Umbra Veil Menandatangani

Pagi datang tanpa matahari.

Awan tebal menggantung rendah di atas Istana Solmaria, menekan menara-menara batu putih hingga tampak lebih pendek dari biasanya. Sisa hujan malam masih menempel pada pagar besi dan anak tangga marmer. Air menetes dari ujung patung-patung kerajaan, jatuh ke kolam halaman dengan suara kecil yang berulang, sementara kabut tipis bergerak di antara tiang-tiang gerbang.

Hari itu tidak membawa pasukan.

Tidak ada genderang perang.

Tidak ada panji yang dibakar di jalan.

Namun para penjaga di dalam istana mengenakan zirah lengkap.

Bukan karena mereka mengharapkan pertempuran.

Karena hari ini, untuk pertama kalinya, dua kerajaan akan duduk di hadapan satu sama lain bukan sebagai pihak yang mempertahankan hubungan lama, melainkan sebagai pihak yang harus menentukan batas baru.

Di aula utama, dua lambang kerajaan tergantung di dinding yang berseberangan.

Matahari Helia milik Solmaria berada di sebelah timur.

Lambang gelap Umbra Veil berada di sebelah barat.

Di tengah keduanya berdiri meja batu panjang dengan satu dokumen diletakkan di atasnya.

Dokumen itu memiliki tujuh lembar.

Tujuh lembar yang telah melalui berhari-hari perdebatan.

Tujuh lembar yang memuat lebih banyak perubahan daripada panjangnya.

Haween berdiri di samping meja.

Ia melihat pintu aula terbuka.

Delegasi Umbra Veil masuk.

Jubah hitam mereka bergerak pelan di atas lantai marmer. Tidak seorang pun berbicara. Tidak seorang pun tersenyum.

Di sisi lain, delegasi Solmaria sudah menunggu.

Rachlar berdiri di depan mereka.

Ketika mata kedua kelompok bertemu, tidak ada salam panjang.

Hanya anggukan.

Cukup.

Hari itu bukan tentang keramahan.

--o--

Juru baca kerajaan maju ke tengah aula.

Ia membawa salinan dokumen yang sama dengan yang terletak di atas meja.

"Atas nama Kerajaan Solmaria dan Kerajaan Umbra Veil, pembacaan perjanjian akan dimulai."

Suara pria itu menggema di antara pilar.

"Pasal pertama. Kedua kerajaan mengakui keberadaan dan kepentingan masing-masing dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan serta jaringan hubungan perdagangan dan energi yang telah berlangsung di antara keduanya."

Tidak ada keberatan.

"Pasal kedua. Kerajaan Solmaria memperoleh hak akses terbatas terhadap sumber energi yang berada dalam lingkar pengaruh Kuil Helia, sebagaimana diatur dalam daftar penerima, batas penggunaan, dan mekanisme pengawasan bersama."

Seorang delegasi Umbra Veil menurunkan pandangan.

Kalimat itu tetap terdengar tenang.

Namun maknanya tidak ringan.

Akses yang sebelumnya berada dalam lingkar pengaruh Umbra Veil kini secara resmi diberikan kepada pihak Solmaria.

Bukan sebagai kemurahan hati.

Sebagai hak yang ditulis dalam perjanjian.

Juru baca melanjutkan.

"Penggunaan energi hanya diperbolehkan bagi pejabat dan prajurit yang telah ditetapkan oleh Kerajaan Solmaria dan disetujui berdasarkan mekanisme yang disepakati kedua pihak."

Lembar berikutnya dibuka.

"Pasal ketiga. Setiap penolakan terhadap akses sebagaimana dimaksud pada pasal sebelumnya wajib disertai alasan tertulis dan dapat diajukan untuk peninjauan bersama."

Haween tidak bergerak.

Tetapi ia melihat salah satu pejabat Umbra Veil menarik napas melalui hidung.

Mereka telah kehilangan sesuatu.

Bukan Kuil Helia.

Bukan sumber energinya.

Yang hilang adalah kemampuan untuk menentukan sendiri siapa yang boleh mendekat.

Juru baca mengangkat lembar berikutnya.

"Pasal keempat. Pasukan Kerajaan Umbra Veil tidak diperkenankan memasuki wilayah Kerajaan Solmaria tanpa izin resmi dari otoritas yang berwenang."

Kali ini sunyi terasa lebih panjang.

Beberapa prajurit Solmaria yang berdiri di sisi aula menegakkan punggung.

Kalimat itu sederhana.

Namun selama bertahun-tahun, hubungan antara kedua kerajaan telah membuat batas tersebut menjadi kabur. Pasukan Umbra Veil dapat melintas dengan alasan keamanan, bantuan, pengawalan, atau kerja sama tertentu.

Mulai hari itu, semua alasan tersebut membutuhkan izin.

Juru baca meneruskan.

"Ketentuan keadaan darurat diatur melalui jalur komunikasi resmi kedua kerajaan dan tidak menghapus kewajiban untuk memberikan pemberitahuan serta memperoleh pengesahan sebagaimana ditentukan dalam lampiran."

Delegasi Umbra Veil tetap diam.

"Pasal kelima. Kedua kerajaan membentuk jalur komunikasi resmi untuk urusan keamanan, energi, dan permasalahan yang berkaitan dengan jaringan terowongan bawah tanah yang ditemukan di wilayah Telmora."

Beberapa kepala terangkat.

Terowongan.

Itulah batu pertama yang menggerakkan seluruh perjanjian.

Tidak ada satu pun dari kedua kerajaan yang dapat lagi berpura-pura bahwa penemuan itu tidak pernah terjadi.

"Pasal keenam. Tidak satu pun pihak akan menganggap keberadaan jaringan terowongan sebagai bukti tindakan bermusuhan sebelum pemeriksaan dan penelitian bersama menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan."

Rachlar memandang delegasi Umbra Veil.

Mereka membalas tatapannya.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada pengakuan.

Hanya kesadaran bahwa sesuatu masih berada di bawah tanah, menunggu untuk dipahami.

Juru baca membuka lembar terakhir.

"Pasal ketujuh. Perjanjian ini berlaku sejak seluruh pihak yang berwenang menandatangani dokumen dan memberikan segel resmi kerajaan."

Ia menurunkan dokumen.

"Demikian isi perjanjian."

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorak.

Hanya suara kain jubah yang bergeser ketika para delegasi mengubah posisi.

Haween menatap Rachlar.

Rachlar mengangguk kecil.

Sudah waktunya.

--o--

Dokumen pertama diletakkan di hadapan Rachlar.

Sebuah pena dengan gagang hitam dan ujung logam emas disediakan di sampingnya.

Rachlar mengambilnya.

Tidak ada pidato.

Lihat selengkapnya