Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #40

Persembahan Matahari

Pagi di Solmaria lahir dari balik kabut emas.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika lonceng-lonceng kuil mulai berbunyi dari berbagai penjuru kota. Nadanya tidak tergesa, tidak pula seperti panggilan perang. Satu dentang panjang disusul jeda, kemudian dua dentang pendek, lalu hening sebelum suara berikutnya menyebar di antara atap rumah, menara perdagangan, dan jalan-jalan batu yang mulai dipenuhi manusia.

Di udara terdapat bau roti yang baru dipanggang, minyak bunga, lilin, dan dupa tipis yang dibawa angin dari halaman-halaman kuil. Pita-pita berwarna keemasan digantung di atas jalan. Kain putih dibentangkan dari balkon ke balkon, bergerak perlahan ketika angin pagi menyentuhnya. Di beberapa pintu rumah, mangkuk kecil berisi air jernih diletakkan bersama bunga-bunga kuning.

Hari Persembahan Matahari telah tiba.

Dan Solmaria tidak menunggunya dalam diam.

Sejak fajar, kota telah bergerak.

Para pedagang menutup sebagian kios mereka dan membuka bagian depan untuk membagikan makanan. Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka. Para penjaga kerajaan mengganti jubah tugas dengan seragam upacara berlapis kain putih dan lambang matahari di dada. Dari arah kuil-kuil kecil, para pelayan membawa baki berisi buah, gandum, minyak, dan lilin menuju pusat perayaan.

Tidak ada pasukan Umbra Veil di jalan.

Tidak ada pengawal asing yang berjalan di antara kerumunan.

Tidak ada lambang hitam yang biasanya berdiri di dekat rombongan keagamaan.

Bagi sebagian besar masyarakat, mungkin tidak ada yang terasa berbeda.

Bagi mereka yang memahami politik, perbedaannya sangat jelas.

Hari itu adalah festival pertama setelah perjanjian baru berlaku.

Dan untuk pertama kalinya, Solmaria menjalankan persembahan kepada Helia dengan batas yang tidak lagi ditentukan sepenuhnya oleh kerajaan tetangganya.

--o--

Kael berdiri di tengah kerumunan sambil memandangi sebuah lentera matahari yang digantung di atas jalan.

Lentera itu tidak memiliki api.

Di dalamnya terdapat pecahan kristal bening yang menangkap cahaya pagi, membuat permukaannya memantulkan warna keemasan ke wajah orang-orang yang lewat.

"Jangan berdiri terlalu dekat."

Suara Kylia datang dari samping.

Kael menoleh.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Kau menatapnya seperti hendak menyerang."

Kael mengerutkan dahi.

"Aku cuma melihat."

"Justru itu yang membuatku khawatir."

Arden yang berdiri di sisi lain terkekeh pelan sambil menopang tubuhnya dengan tongkat.

"Biarkan saja. Dia sedang belajar bahwa tidak semua benda perlu ditebas."

Kael menatapnya.

"Aku sudah belajar."

"Benarkah?"

"Benar."

Kylia melirik senjata baru yang dibawa Kael di punggung. Gagang panjang dengan dua bilah yang ditempa Arelith itu masih terlihat asing jika dibandingkan dengan dua kapak lamanya.

"Belum."

Kael mendengus.

Namun ia tidak membantah lagi.

Mereka terus berjalan.

Telmora bukan pusat utama perayaan Solmaria, tetapi keramaian tetap memenuhi jalan. Kael tidak terbiasa melihat kota seperti itu. Selama beberapa bulan terakhir, ia lebih sering melihat Telmora dari atas kereta pos, dari sisi jalan ketika mengantar surat, atau dari halaman rumah saat berlatih.

Hari itu berbeda.

Semua orang keluar.

Tidak untuk bekerja.

Tidak untuk berdagang.

Mereka datang untuk melihat matahari.

Seorang perempuan tua menaburkan bunga kuning di depan pintunya. Dua anak kecil berlari membawa pita yang terlalu panjang hingga hampir terseret di tanah. Para pemuda membawa tiang kayu dengan kain putih yang berkibar.

Kael memperhatikan semuanya dengan wajah serius.

"Kenapa mereka menaruh air di depan rumah?"

Liora, yang berjalan beberapa langkah di depan mereka, menoleh.

"Karena air dianggap sebagai sesuatu yang menyimpan cahaya pertama."

Kael melihat mangkuk kecil di depan rumah.

"Air bisa menyimpan cahaya?"

"Kalau kau membiarkannya diam, permukaannya memantulkan matahari."

"Jadi bukan benar-benar menyimpan."

Liora tersenyum tipis.

"Kael."

"Apa?"

"Festival tidak selalu harus masuk akal seperti perhitunganmu."

Arden tertawa kecil.

Kylia hanya menggeleng.

Liora kemudian menunjuk pita putih yang menggantung di atas jalan.

"Itu biasanya dipasang sebelum matahari muncul. Saat cahaya pertama melewati pita, orang-orang menganggapnya sebagai tanda bahwa tahun yang baru akan dimulai dengan baik."

"Ini tahun baru?"

"Bukan."

"Kalau begitu?"

"Awal yang baru."

Kael diam.

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun ia melihat orang-orang di sekelilingnya.

Mereka tersenyum, berbicara, membawa makanan, menyapa tetangga yang mungkin tidak mereka temui selama berbulan-bulan.

Tidak ada yang tampak sedang memikirkan perjanjian kerajaan.

Tetapi mungkin memang seperti itu cara perubahan bekerja.

Tidak selalu datang dengan pedang.

Kadang-kadang ia muncul sebagai sesuatu yang sangat biasa.

Sebuah jalan yang dipenuhi manusia.

Sebuah kuil yang tetap membuka pintunya.

Dan tidak adanya pasukan asing di antara mereka.

--o--

Ketika matahari mulai naik, kerumunan bergerak menuju alun-alun utama.

Di sana berdiri altar batu rendah dengan bentuk lingkaran. Tidak megah. Tidak dikelilingi tembok tinggi. Hanya sebuah bidang batu putih yang di tengahnya terdapat cekungan kecil untuk minyak dan bunga.

Para pelayan kuil berdiri dalam barisan.

Mereka tidak membawa senjata.

Jubah mereka putih dengan garis emas tipis di bagian lengan.

Seorang imam mengangkat kedua tangannya.

Kerumunan perlahan diam.

Kael ikut terdiam.

Ia mendengar angin.

Suara kain.

Suara burung di atap.

Lalu cahaya matahari menyentuh puncak altar.

Satu demi satu, orang-orang maju membawa persembahan kecil.

Tidak ada yang tampak seperti upeti kerajaan.

Seorang petani membawa gandum.

Seorang pedagang membawa minyak.

Seorang ibu membawa bunga.

Seorang anak membawa roti yang dibungkus kain.

Kael memperhatikan.

"Jadi ini Persembahan Matahari?"

Liora mengangguk.

"Orang-orang memberikan sesuatu yang mereka anggap berasal dari kerja mereka."

Lihat selengkapnya