Langit Umbra Veil menggantung rendah di atas benteng utama seperti lembaran besi yang belum ditempa sempurna. Tidak ada hujan, tetapi udara dipenuhi kelembapan dingin yang menempel pada dinding batu dan membuat lorong-lorong markas militer berbau tanah basah, minyak lampu, dan logam tua. Dari menara pengawas, bunyi lonceng pergantian jaga terdengar tiga kali, lalu menghilang di antara bangunan-bangunan hitam yang berdiri rapat di bawah kabut.
Valrick berdiri di depan jendela sempit ruang rapat perwira ketika pintu di belakangnya terbuka.
"Perjanjian itu sudah disahkan."
Suara seorang perwira terdengar datar.
Valrick tidak langsung menoleh.
"Perjanjian yang mana?"
"Solmaria."
Barulah ia memalingkan kepala.
Perwira itu masuk sambil membawa gulungan dokumen yang masih terikat tali hitam. Dua orang lain mengikuti dari belakang. Mereka tidak membawa lambang kerajaan secara mencolok, tetapi cara mereka memegang dokumen itu menunjukkan bahwa isinya bukan laporan biasa.
Valrick menatap gulungan tersebut.
"Jelaskan."
Perwira itu membuka segel salinan laporan.
"Umbra Veil mengakui akses terbatas bagi pejabat dan prajurit tertentu dari Solmaria terhadap energi inkarnasi bayangan yang berasal dari Kuil Helia. Sebagai gantinya, Solmaria menerima ketentuan keamanan dan beberapa batasan terhadap aktivitas pasukan kita."
Valrick diam.
"Dan?"
"Pasukan Umbra Veil tidak diperbolehkan memasuki wilayah Solmaria tanpa izin."
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Bahkan suara langkah para prajurit di koridor terasa menjauh.
Valrick mengambil dokumen itu.
Ia membaca beberapa baris pertama.
Kemudian beberapa baris berikutnya.
Tidak ada kesalahan penyalinan. Tidak ada bahasa yang bisa ditafsirkan ulang dengan mudah. Ketentuan itu memang tertulis demikian.
Ia mengangkat pandangan.
"Siapa yang menyetujui?"
"Raja Zareth."
Jawaban itu terlalu cepat.
Valrick menurunkan dokumen.
"Atas persetujuan Dewan Tinggi?"
Perwira tersebut berhenti sejenak.
"Prinsip dasarnya diterima setelah perundingan."
Bukan jawaban yang ia cari.
Tetapi cukup.
Valrick tersenyum tipis. Tidak ada kegembiraan di sana.
"Jadi sekarang kita meminta izin untuk memasuki wilayah yang selama ini kita anggap berada dalam lingkaran pengaruh kita."
Tak seorang pun menjawab.
"Dan sebagai bagian dari perjanjian itu, kita memberikan akses terhadap sesuatu yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan politik kita."
"Solmaria menemukan jaringan terowongan itu."
"Aku tahu."
"Mereka memiliki alasan untuk bertanya."
"Aku tahu."
Valrick melipat kembali dokumen tersebut dengan hati-hati.
"Aku juga tahu mereka tidak mendapatkan semua yang mereka minta."
Perwira itu mengangguk.
"Benar."
"Jangan membuatnya terdengar seperti kemenangan."
Tatapan Valrick berpindah dari satu wajah ke wajah lain.
"Kalau sebuah kerajaan harus memberikan sesuatu setiap kali ditekan, maka yang perlu kita hitung bukan berapa banyak yang masih tersisa. Yang perlu dihitung adalah berapa lama sebelum pihak lain menyadari bahwa kita selalu mundur."
Tidak ada yang menyahut.
Valrick menyerahkan dokumen itu kembali.
"Keluar."
Ketiga perwira memberi hormat dan meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Valrick tetap berdiri.
Untuk pertama kalinya, kemarahannya tidak datang seperti api.
Ia datang seperti sesuatu yang lebih dingin.
Sesuatu yang dapat dihitung.
--o--
Markas militer Umbra Veil tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan pada malam hari, lorong-lorongnya masih dipenuhi suara sepatu bot, bunyi logam dari ruang persenjataan, serta perintah pendek dari para penjaga yang bergantian berjaga. Namun malam itu Valrick merasakan sesuatu yang berbeda.
Prajurit masih bekerja.
Perwira masih menjalankan tugas.
Lambang kerajaan masih tergantung di dinding.
Tidak ada kekacauan.
Justru karena itulah kegelisahan terasa lebih jelas.
Ia berjalan melewati halaman latihan ketika dua kelompok prajurit sedang membubarkan formasi. Api obor memantul pada pelindung dada mereka. Beberapa menundukkan kepala ketika melihat Valrick. Sebagian lain memberi hormat.
Valrick membalas seperlunya.
Tidak ada yang berubah secara kasatmata.
Tetapi ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak ia pedulikan.
Seorang perwira muda berbicara terlalu lama dengan rekannya setelah menerima laporan.
Seorang kapten menatap papan pengumuman kerajaan sebelum pergi, lalu mengembuskan napas berat.
Dua prajurit senior berhenti berbicara ketika Valrick lewat.
Bukan karena takut.
Karena berhati-hati.
Valrick terus berjalan.
Ia tidak bertanya.
Belum.
Di ujung halaman terdapat lapangan yang sudah kosong. Tanahnya masih menyimpan bekas hujan beberapa hari lalu. Di sana, Valrick berhenti dan menatap garis-garis formasi yang dibuat para instruktur.
Dulu ia akan melihatnya sebagai pola.
Barisan.
Jarak.
Jumlah.
Kekuatan.
Sekarang pikirannya bergerak ke tempat lain.
Berapa banyak orang yang masih percaya?
Pertanyaan itu membuat rahangnya mengeras.
Ia teringat Dornhart.
Bukan pada saat jenderal tua itu mati.
Tetapi pada saat tubuhnya dikembalikan.
Solmaria telah mengembalikan jasad Dornhart dengan penghormatan besar. Seorang jenderal Umbra Veil yang mati di wilayah mereka tidak diperlakukan sebagai mayat musuh. Tubuhnya dijaga, dibersihkan, dibungkus dengan kain yang layak, lalu diserahkan dengan tata cara yang bahkan tidak bisa disebut penghinaan.
Valrick masih mengingat laporan itu.
Jenderal Dornhart telah gugur.
Kalimat sederhana.
Terlalu sederhana untuk seseorang seperti Dornhart.
Seorang veteran.
Seorang jenderal senior.
Seorang lelaki yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari tulang punggung doktrin militer Umbra Veil.
Dan kematiannya tidak terjadi dalam perang besar.
Ia mati di sebuah rumah.
Dalam operasi yang gagal.
Di tangan mereka yang seharusnya dibersihkan dari medan.
Valrick mengepalkan tangan.
Yang paling membuatnya marah bukan kematian Dornhart.
Kematian bisa terjadi kepada siapa saja.
Yang membuatnya marah adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Dornhart mati.
Solmaria membawa jasadnya.
Kemudian Solmaria menggunakan kekacauan setelah kejadian itu untuk memperkuat posisinya.
Lalu Rachlar menekan.
Lalu Umbra Veil bernegosiasi.
Lalu perjanjian ditandatangani.
Satu demi satu.
Tanpa satu pun pedang ditarik.
Valrick menatap telapak tangannya sendiri.
Ia pernah kehilangan pangkat Captain.
Sekarang hanya Lieutenant.
Dulu ia menganggap itu penghinaan pribadi.
Ia menyalahkan Dornhart.
Menyalahkan perintah.
Menyalahkan Kael.
Menyalahkan keadaan.
Kini semua itu terasa terlalu kecil.
Kalau ia hanya marah karena dirinya diturunkan pangkat, ia tidak berbeda dengan prajurit yang mengamuk karena jatahnya dipotong.
Masalahnya jauh lebih besar.
Zareth sedang kehilangan sesuatu.
Bukan wilayah.
Bukan pasukan.
Wibawa.
Dan wibawa yang hilang tidak selalu meninggalkan suara ketika runtuh.
Kadang-kadang ia hanya membuat orang mulai bertanya.
Valrick berbalik menuju gedung utama.
Pertanyaan itu sudah mulai muncul.
Ia mendengarnya.
Ia melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia ingin tahu berapa banyak orang yang memikirkannya.
--o--
Ruang makan perwira lebih tenang daripada biasanya.
Valrick duduk di ujung meja panjang dengan secangkir minuman pahit yang hampir tidak disentuh. Di seberangnya, empat perwira sedang makan malam. Mereka berbicara mengenai persediaan, jadwal patroli, dan rotasi penjaga.
Hal-hal biasa.
Sampai seorang perwira bernama Rovan meletakkan sendoknya.
"Perjanjian itu buruk."
Dua orang lain menoleh.
Valrick tetap diam.
Rovan menyadari tatapannya.
"Yang kumaksud adalah ketentuannya."
"Bukan berarti kau salah," kata perwira lain.
"Solmaria sekarang bisa mendapatkan energi dari Kuil Helia."
"Terbatas."
"Tetap saja."
"Dan kita tidak boleh masuk tanpa izin."
"Jadi?"
Rovan menyandarkan punggung.
"Jadi apa gunanya kekuasaan kita di perbatasan?"
Tidak ada jawaban.