Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #42

Darah yang Memaksa Tumbuh

Malam di Umbra Veil turun tanpa hujan, tetapi udara di luar kediaman Valrick basah oleh kabut yang merayap dari lembah. Cahaya bulan hanya muncul sebagai noda pucat di balik awan, sementara lampu-lampu minyak di lorong kediaman militer memantulkan bayangan panjang pada lantai batu. Bau logam, ramuan pahit, dan sesuatu yang lebih tajam memenuhi sebuah ruangan yang biasanya digunakan Valrick untuk menyimpan senjata.

Malam itu tidak ada pedang di atas meja.

Yang ada adalah enam artefak berbentuk kepingan kristal, masing-masing ditempatkan di dalam wadah logam dengan ukiran lingkaran Helia. Cahaya keemasan berdenyut di dalamnya seperti bara yang belum mati. Setiap denyutan meninggalkan kilatan tipis pada dinding, lalu kembali tenggelam ke dalam kristal.

Valrick berdiri di hadapannya dengan satu tangan bertumpu pada meja.

"Semua?"

Tabib yang berdiri di sisi lain meja menghitung kembali.

"Enam artefak aktif. Dua memiliki kapasitas tinggi. Empat lainnya lebih kecil."

"Dan yang rusak?"

"Masih bisa digunakan, tetapi tidak aman."

Valrick mengangguk.

"Bagus."

Tabib itu menatapnya.

"Yang Mulia—"

"Jangan panggil aku begitu."

"Valrick."

Ia menatap kristal-kristal itu.

"Jelaskan sekali lagi."

Tabib mengembuskan napas perlahan. Lelaki tua itu mengenakan jubah kerja hitam dengan lapisan kulit pada bagian lengan agar tidak mudah terbakar oleh paparan energi. Di depannya terdapat beberapa jarum logam, selang tipis dari bahan transparan, dan sebuah cincin pengatur aliran yang diukir dengan simbol Helia.

"Prosedur normal menggunakan Cahaya Abadi secara bertahap. Energi dialirkan ke jaringan otot yang masih hidup. Jumlahnya dibatasi berdasarkan kemampuan tubuh menerima dan menguraikannya."

"Untuk pemulihan luka."

"Untuk pemulihan jaringan."

Valrick meliriknya.

"Ada perbedaan?"

"Ada."

Tabib menunjuk salah satu diagram yang terbuka di atas meja.

"Jaringan otot yang masih hidup dapat menerima energi. Pembuluh darah membawa sebagian energi ke sekitar area tersebut. Tubuh kemudian menggunakannya untuk mempercepat regenerasi."

"Dan kalau jaringan yang hilang?"

Tabib diam.

Valrick sudah tahu jawabannya.

"Itu bukan regenerasi," katanya.

"Bukan."

"Pertumbuhan."

Tabib mengangguk.

"Jika jaringan sudah tidak ada, tubuh tidak memiliki struktur yang dapat dijadikan acuan. Cahaya Abadi hanya memberikan dorongan. Ia tidak menjamin hasil."

Valrick melihat diagram itu.

Paha kirinya berhenti beberapa sentimeter di bawah pangkal. Sisa luka lama telah tertutup, tetapi bentuk tubuh yang terputus itu masih menjadi pengingat setiap kali ia berdiri, berjalan, atau mengenakan pelindung.

"Sejarah mencatat percobaan semacam ini."

Tabib memandangnya.

"Anda membaca arsip."

"Aku membaca semuanya."

Ia menarik sebuah buku tua dari bawah meja.

Sampulnya hitam, sudut-sudutnya telah mengelupas. Lambang Helia pada bagian depan nyaris hilang karena usia. Beberapa halaman di dalamnya ditandai dengan potongan kain.

Valrick membukanya.

"Percobaan pemulihan anggota tubuh."

Jarinya berhenti pada satu paragraf.

"Subjek pertama mengalami pertumbuhan jaringan berlebih."

Halaman berikutnya.

"Subjek kedua mengalami pengerasan tulang."

Halaman berikutnya.

"Subjek ketiga mengalami perubahan warna kulit dan struktur permukaan."

Tabib menatap buku itu.

"Dan tidak ada catatan tentang keberhasilan jangka panjang."

"Aku tidak membutuhkan jangka panjang."

Suara Valrick datar.

"Aku hanya membutuhkan satu keberhasilan."

Pengawal pribadinya berdiri di dekat pintu. Dua orang bersenjata lengkap, diam sejak awal percakapan. Salah satunya membawa tas panjang yang diselimuti kain gelap.

Valrick menoleh.

"Bawa masuk."

Pengawal membuka pintu.

Dua prajurit lain masuk membawa peti kecil.

Peti itu diletakkan di lantai.

Ketika tutupnya dibuka, cahaya keemasan langsung menyembur keluar.

Tiga artefak lagi.

Tabib mundur setengah langkah.

"Ini dari mana?"

Valrick tidak menjawab.

Salah satu pengawal menundukkan kepala.

"Karavan Solmaria."

Tabib memandang Valrick.

"Artefak itu—"

"Dicuri."

Kata itu jatuh tanpa penyesalan.

"Karavan yang membawa suplai untuk wilayah perbatasan. Kami mengambil beberapa."

"Beberapa?"

"Sebanyak yang bisa dibawa tanpa menarik perhatian."

Valrick menatap peti tersebut.

"Bagaimana kalian membawanya masuk?"

"Melalui jalur dagang lama."

Pengawal berhenti sejenak.

"Penjaga tidak tahu."

Valrick mengangguk.

"Bagus."

Tabib menutup matanya sesaat.

"Kita baru saja menandatangani perjanjian dengan Solmaria."

"Aku tahu."

"Jika mereka mengetahui artefak ini berada di sini—"

"Solmaria tidak perlu tahu."

"Dan kalau ketahuan?"

Valrick menatapnya.

"Kalau prosedur ini gagal, masalah itu tidak akan menjadi masalah terbesar kita."

Tabib tidak menjawab.

Valrick kembali menatap kristal.

Cahaya Helia berdenyut di dalamnya.

Hangat.

Bersih.

Hampir suci.

Ironisnya, benda yang sekarang berada di ruang pribadinya adalah salah satu simbol baru dari perubahan kekuasaan antara Solmaria dan Umbra Veil.

Dulu energi itu mengalir melalui hubungan yang lebih luas.

Kini Solmaria mendapatkan aksesnya melalui perjanjian.

Dan Valrick mengambil sebagian dari energi itu secara diam-diam untuk dirinya sendiri.

Ia tidak merasa bersalah.

Belum.

--o--

Prosedur dimulai setelah tengah malam.

Semua jendela ditutup.

Kain hitam dipasang di celah pintu agar cahaya dari ruangan tidak terlihat dari luar. Empat lampu minyak dinyalakan, tetapi cahayanya dibuat rendah. Di tengah ruangan, Valrick duduk di atas kursi kayu dengan punggung tegak.

Kaki yang tersisa menapak lantai.

Sisi tubuhnya yang kehilangan anggota gerak dibaringkan di atas meja pendek.

Tabib memasang cincin pengatur di sekitar paha.

"Ini akan terasa panas."

Valrick mengangguk.

"Berapa banyak?"

"Awalnya sedikit."

"Setelah itu?"

"Jika tubuh menerima, kita naikkan."

"Dan kalau tidak?"

"Kita berhenti."

Valrick menatapnya.

"Jangan berhenti."

Tabib mengeraskan rahangnya.

"Kalau jaringan mulai rusak—"

"Teruskan."

"Kalau pembuluh darah pecah?"

"Teruskan."

"Kalau jantung Anda tidak sanggup?"

Valrick menatap lurus ke matanya.

"Kalau jantungku berhenti, kau tidak perlu melanjutkan."

Ruangan menjadi sunyi.

Tabib tidak menyukai jawaban itu.

Tetapi ia mulai bekerja.

Salah satu artefak ditempatkan pada dudukan logam. Tabib memutar cincin pengatur.

Cahaya emas keluar dari kristal dalam bentuk garis tipis.

Ia masuk ke saluran transparan.

Kemudian menuju jarum.

Valrick merasakan tusukan pertama.

Tidak terlalu sakit.

Hanya hangat.

Energi masuk melalui pembuluh darah di sekitar paha yang terluka. Tubuhnya langsung bereaksi. Otot di sekitar luka menegang.

"Bagaimana?"

"Belum ada penolakan."

"Naikkan."

Tabib menaikkan aliran.

Rasa hangat berubah menjadi panas.

Valrick menggenggam sisi kursi.

Napasnya menjadi lebih dalam.

Cahaya bergerak di bawah kulit.

Tidak terlihat seperti api.

Lebih seperti urat cahaya yang bergerak mengikuti jaringan tubuh.

Tabib memperhatikan indikator pada cincin.

"Stabil."

Lihat selengkapnya