Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #43

Mereka yang Berdiri di Belakangnya

Malam Umbra Veil tidak pernah benar-benar hitam. Di antara menara batu, selalu ada cahaya merah dari tungku pandai besi, nyala pucat dari lampu penjaga, dan garis keemasan tipis dari altar Helia yang tetap menyala di kejauhan. Namun malam itu kabut turun lebih tebal daripada biasanya, menelan sebagian besar halaman militer dan membuat suara langkah kaki terdengar lebih dekat daripada sumbernya.

Valrick berjalan sendirian melewati koridor belakang markas.

Mantelnya menutup tubuh hingga lutut.

Tidak ada lambang pangkat di dada.

Hanya pedang di pinggang dan sepasang sarung tangan hitam.

Kaki barunya masih terasa asing di bawah langkahnya. Jaringan yang tumbuh dari prosedur Eternal Light telah mulai mengeras, tetapi setiap kali ia menapak terlalu cepat, ada tarikan halus di sepanjang betis yang mengingatkannya bahwa tubuh itu belum sepenuhnya menjadi miliknya.

Ia tidak memperlambat langkah.

Malam ini bukan tentang tubuhnya.

Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tanpa lambang.

Mengetuk dua kali.

Berhenti.

Mengetuk sekali.

Kunci bergerak dari dalam.

Pintu terbuka.

"Masuk."

Valrick melangkah masuk.

Ruangan itu adalah gudang kecil yang sudah lama tidak digunakan. Rak-rak kayu kosong berdiri di sepanjang dinding. Hanya sebuah meja dan tiga kursi yang tersisa di tengah ruangan.

Seorang perwira telah menunggunya.

Kapten Rovan.

Rovan berdiri ketika Valrick masuk.

"Kau meminta pertemuan."

"Aku meminta percakapan."

Rovan menutup pintu.

"Bedanya?"

"Kalau pertemuan, ada tujuan."

Valrick duduk.

"Kalau percakapan, kita melihat ke mana arahnya."

Rovan tidak tersenyum.

Ia duduk di seberang.

"Kenapa di sini?"

"Karena tidak ada yang datang ke gudang."

Rovan menatapnya beberapa saat.

"Lalu?"

Valrick tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam mantel dan meletakkannya di atas meja.

Rovan membukanya.

Salinan ketentuan perjanjian dengan Solmaria.

Matanya bergerak cepat.

"Ini sudah ditandatangani."

"Ya."

"Pasukan kita tidak bisa masuk Solmaria tanpa izin."

"Ya."

"Dan mereka mendapatkan akses terhadap energi Kuil Helia."

"Terbatas."

Rovan mengangkat mata.

"Sejak kapan kita harus menerima bahwa apa yang mereka dapatkan disebut terbatas?"

Valrick tidak menjawab.

Rovan mengembalikan kertas itu.

"Kalau kau ingin aku mengeluh tentang perjanjian, aku sudah melakukannya."

"Aku tidak datang untuk mendengar keluhan."

"Jadi?"

Valrick menyandarkan tubuh.

"Dornhart mati."

Rovan terdiam.

"Jangan gunakan namanya untuk membuatku marah."

"Aku tidak sedang membuatmu marah."

Valrick menatapnya lurus.

"Aku ingin kau mengingat."

Ruangan itu hening.

"Dornhart pergi memimpin operasi. Ia tidak kembali. Jasadnya dikembalikan Solmaria dengan penghormatan. Kemudian Rachlar menggunakan situasi itu untuk menekan kita."

Rovan mengatupkan rahang.

"Kau tahu kenapa itu membuatku marah?"

Valrick menggeleng.

"Karena kita membiarkan kematian seorang jenderal menjadi awal dari sebuah perjanjian."

Valrick menatapnya.

"Bagus."

Rovan mengerutkan dahi.

"Apa?"

"Kau melihatnya."

Valrick berdiri.

"Bukan hanya kau."

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Itulah batas pertama.

Rovan tidak perlu tahu siapa yang lain.

Belum.

--o--

Pertemuan kedua berlangsung satu jam kemudian di barak timur.

Valrick tidak datang dengan pakaian perwira.

Ia datang sebagai seorang lelaki yang pernah memimpin pasukan dan masih memiliki orang-orang yang mengingatnya.

Perwira yang ditemuinya bernama Darel.

Mereka pernah bertempur bersama di perbatasan selama hampir dua tahun.

Darel tidak banyak bicara ketika Valrick menyampaikan maksudnya.

Ia hanya bertanya satu hal.

"Kalau kau tidak percaya pada Zareth, siapa yang kau percaya?"

Valrick menatapnya.

"Itu pertanyaan yang salah."

"Kenapa?"

"Karena aku belum meminta kau memilih raja."

Darel menyandarkan tubuh pada dinding.

"Lalu apa yang kau minta?"

"Penilaian."

"Penilaian tentang apa?"

"Seberapa lama kerajaan bisa terus menerima keputusan seperti ini."

Darel menatap lantai.

"Aku bersumpah kepada kerajaan."

"Bukan kepada seseorang."

Darel mengangkat kepala.

Valrick membiarkan kalimat itu berdiri di antara mereka.

"Aku tidak akan memintamu mengkhianati sumpah."

"Lalu?"

"Kalau suatu hari kerajaan membutuhkan pasukanmu, aku ingin tahu apakah pasukan itu masih bisa bergerak ketika perintah datang."

Darel menatapnya lama.

"Perintah dari siapa?"

Valrick tersenyum tipis.

"Pertanyaan itu belum waktunya dijawab."

Darel tidak setuju.

Tetapi ia juga tidak menolak.

Itu cukup.

Valrick pergi tanpa membawa nama atau janji.

Di lorong, seorang prajurit loyalis yang menunggu di ujung tangga mendekat.

"Bagaimana?"

"Dia tidak menolak."

"Berarti setuju?"

Valrick menatapnya.

"Jangan pernah samakan diam dengan persetujuan."

Prajurit itu langsung menunduk.

Valrick berjalan lagi.

"Kita hanya mencatat."

--o--

Pertemuan ketiga terjadi di ruang perawatan militer.

Bau ramuan dan kain pembalut memenuhi udara. Beberapa prajurit terluka tidur di ranjang kayu. Di luar, hujan tipis mulai turun dan memukul atap batu dengan suara teratur.

Lihat selengkapnya