Veilbound: Beyond the Ashen Treaty

Diva Amane
Chapter #44

Sebelum Gerbang Dibuka

Malam turun di Umbra Veil bersama kabut yang lebih tebal dari biasanya.

Dari menara-menara pengawas, cahaya obor hanya mampu menembus beberapa puluh langkah sebelum lenyap di antara putih kelabu yang menggantung rendah. Udara berbau batu basah, minyak lampu, dan besi yang baru diasah. Di kejauhan, lonceng pergantian jaga berbunyi sekali, lalu disusul suara rantai yang bergeser pada gerbang dalam.

Tidak ada alarm.

Tidak ada seruan perang.

Namun di bawah kabut itu, sesuatu telah mulai bergerak.

Valrick berdiri di sebuah ruangan sempit yang dindingnya dipenuhi peta militer. Beberapa lilin dibiarkan menyala rendah. Tidak ada lambang kerajaan di atas meja. Hanya peta Umbra Veil, tanda-tanda kecil dari kayu hitam, dan sejumlah surat yang telah dibakar setelah dibaca.

Enam perwira berdiri di hadapannya.

Tidak satu pun mengenakan perlengkapan lengkap.

Mereka datang secara terpisah, melalui jalur berbeda, dengan alasan yang berbeda. Sebagian mengatakan hendak memeriksa gudang. Sebagian mengaku mendapat tugas malam. Tidak ada yang datang bersama.

Itulah satu-satunya cara perintah seperti ini bisa bertahan.

Valrick mengambil selembar kertas.

"Unit kalian bergerak malam ini."

Tidak ada yang bertanya kenapa.

Mereka sudah tahu bahwa malam ini berbeda.

"Tujuan?"

"Lapangan utara."

Salah satu perwira mengangkat mata.

"Itu terlalu dekat dengan jalur menuju pusat."

"Belum cukup dekat untuk dianggap serangan."

Valrick menunjuk peta.

"Kalian bergerak sebagai latihan rotasi. Bawa persediaan lengkap. Jangan pasang panji perang. Jangan keluarkan senjata kecuali diperintahkan."

Perwira itu mengangguk.

"Kalau penjaga kerajaan bertanya?"

"Katakan bahwa kalian menerima perintah latihan."

"Perintah dari siapa?"

Valrick menatapnya.

"Perintah resmi."

Tidak ada kebohongan yang lebih aman daripada sesuatu yang hampir benar.

Beberapa unit memang menerima jadwal latihan malam. Tidak ada yang aneh bagi militer Umbra Veil. Setelah beberapa bulan penuh tekanan politik dan perubahan hubungan dengan Solmaria, latihan tambahan bahkan dapat dijelaskan sebagai upaya meningkatkan kesiapan pasukan.

Valrick memberikan surat berikutnya.

"Unit kedua bergerak ke barat."

Lalu satu lagi.

"Unit ketiga menunggu sampai lonceng kedua."

Ia tidak pernah memberikan seluruh gambaran kepada satu orang.

Setiap perwira hanya mengetahui bagian yang perlu diketahuinya.

Gerbang mana yang akan dibuka.

Jalur mana yang harus ditempuh.

Jumlah pasukan yang dibawa.

Siapa yang harus mereka dengarkan.

Dan kapan mereka harus berhenti.

Tidak seorang pun mengetahui seluruh jaringan.

Bahkan mereka yang paling dekat dengannya tidak mengetahui semuanya.

Valrick telah belajar satu hal dari perang.

Kekuatan yang terlalu banyak diketahui oleh satu orang akan mati bersama orang itu.

Ia menatap keenam perwira tersebut.

"Kalau ada perubahan perintah, jangan bergerak."

Salah satu dari mereka mengerutkan dahi.

"Bagaimana jika perintah itu datang dari pusat?"

"Pastikan segelnya."

"Kalau segelnya sah?"

Valrick terdiam sesaat.

"Periksa dua kali."

Perwira itu mengangguk.

"Baik."

Mereka mulai pergi.

Satu demi satu.

Tidak ada salam.

Tidak ada kata-kata yang dapat dianggap sebagai sumpah pemberontakan.

Ketika pintu terakhir tertutup, Valrick berdiri sendirian.

Tangannya menyentuh peta.

Titik-titik hitam yang sebelumnya tersebar kini mulai membentuk garis.

Belum sempurna.

Belum aman.

Tetapi cukup untuk membuat sebuah kerajaan mulai kehilangan kendali atas tentaranya sendiri.

--o--

Di barak selatan, para prajurit menerima perintah beberapa menit kemudian.

"Bangun."

Suara kopral mengguncang ruangan.

Prajurit-prajurit yang sedang tidur bangkit dengan wajah kusut. Beberapa masih mengenakan pakaian dalam. Yang lain langsung meraih zirah ringan yang tergantung di sisi ranjang.

"Latihan malam?"

"Sepertinya."

"Jam segini?"

"Jangan banyak bicara."

Tidak ada yang curiga.

Mereka sudah terbiasa dengan perubahan jadwal.

Seorang prajurit tua memasang sabuk senjata.

"Katanya ada latihan formasi baru."

"Siapa yang bilang?"

"Instruktur."

"Kalau begitu bergerak."

Mereka keluar.

Di halaman, beberapa puluh prajurit telah berkumpul.

Mereka membawa tombak, pedang, perisai, dan perlengkapan perjalanan. Gerobak persediaan disiapkan di sisi bangunan.

Tidak ada panji.

Tidak ada terompet perang.

Seorang penjaga kerajaan yang sedang bertugas hanya melihat daftar dan membiarkan mereka lewat.

"Latihan sampai pagi?"

"Begitu perintahnya."

Penjaga mengangguk.

Gerbang kecil dibuka.

Barisan bergerak.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu bahwa mereka sedang meninggalkan tempat yang biasanya mereka sebut markas untuk menuju posisi yang telah ditentukan oleh seorang lelaki yang tidak lagi memiliki pangkat Captain.

Sebagian masih loyal kepada Zareth.

Sebagian bahkan membenci Valrick.

Mereka hanya mengikuti perintah yang tampak sah.

Dan justru itulah yang membuat semuanya berbahaya.

Di menara, seorang penjaga memperhatikan barisan itu menghilang ke dalam kabut.

"Latihan besar?"

Temannya mengangkat bahu.

"Mungkin."

"Kenapa malam?"

"Umbra Veil sedang banyak masalah."

Mereka kembali memandang jalan.

Tidak ada yang tahu masalah sebenarnya sudah berada di bawah kaki mereka.

--o--

Valrick meninggalkan markas ketika lonceng kedua berbunyi.

Kaki barunya masih terasa sedikit kaku. Ia belum sepenuhnya terbiasa dengan jaringan yang tumbuh secara paksa melalui Eternal Light, tetapi kini ia telah cukup mampu berjalan tanpa terlihat pincang.

Malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikannya.

Ia mengenakan pelindung ringan.

Pedang berada di pinggang.

Mantel hitam menggantung di belakang tubuhnya.

Beberapa prajurit loyalis telah berkumpul di lapangan kecil sebelah barat.

Jumlahnya tidak besar.

Tetapi mereka bukan sekadar pengawal.

Mereka adalah orang-orang yang telah memilih untuk berdiri di belakangnya sebelum mengetahui bagaimana akhir dari semua ini.

Valrick berhenti di hadapan mereka.

Tidak ada panggung.

Tidak ada bendera.

Hanya tanah basah dan cahaya obor.

Salah satu perwira menundukkan kepala.

"Semua siap."

Valrick melihat mereka.

Kemudian melihat jalan yang mengarah ke pusat kerajaan.

Selama berminggu-minggu ia berbicara dalam potongan kalimat.

Tentang Dornhart.

Tentang Solmaria.

Tentang Rachlar.

Tentang perjanjian.

Tentang keputusan-keputusan yang membuat para prajurit bertanya-tanya apakah mereka masih memiliki kerajaan yang sama seperti sebelumnya.

Malam ini ia berhenti bersembunyi di balik pertanyaan.

"Kalian tahu kenapa aku meminta kalian datang."

Tidak ada yang menjawab.

"Selama ini aku mengatakan bahwa kita hanya perlu melihat."

Valrick menarik napas.

"Kita sudah melihat."

Lihat selengkapnya