🕊️✨
26 Verdaen, 920 Velmora.
Velmora, negeri yang diukir oleh sungai-sungai biru dan dijaga oleh menara-menara batu putih, selalu menyimpan dua wajah yang bertolak belakang: kemilau cahaya di permukaan, dan labirin konspirasi yang tersembunyi di kedalamannya. Malam itu, Verdaen, ibukota yang dijuluki permata kerajaan, bersinar dengan gemerlap yang seolah menantang langit malam.
"Lihatlah, Lian," bisik Altheira, jarinya yang lentik menunjuk ke atas, "Bahkan bintang-bintang pun iri dengan cahaya Verdaen malam ini."
Aurelian hanya mengangguk, matanya menyipit menatap ribuan lentera kertas berlukiskan naga dan phoenix yang memenuhi angkasa. Cahaya oranye keemasan dari lentera-lentera itu memantul dari menara-menara marmer, menari-nari di jalanan yang dipadati manusia, menciptakan ilusi bayangan yang hidup.
Musim semi menyapa dengan aroma bunga ungu khas Velmora, memenuhi udara dengan keharuman yang memabukkan.
Seorang pedagang dengan suara serak menjajakan dagangannya, "Bunga Velmora, nona? Wanginya akan membuat malam Anda semakin indah." Aroma bunga itu berpadu dengan wangi arang dari panggangan daging yang mengepul di sudut jalan, roti hangat yang baru keluar dari tungku, dan rempah manis dari pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya dengan senyum ramah.
Anak-anak berlarian riang membawa lentera berbentuk ikan, tawa mereka berpadu dengan riuhnya suara pedagang yang sibuk menawar harga di sudut-sudut jalan, menciptakan simfoni kehidupan yang khas di malam lentera.
Namun, pesta termegah malam ini tidak berlangsung di jalanan yang ramai. Semua mata tertuju pada Aula Agung Velmora, jantung perayaan malam lentera. Di sanalah para bangsawan berkumpul: para pemilik tanah yang kaya raya, para saudagar yang berpengaruh, dan keluarga politisi yang haus kekuasaan. Dari kejauhan, cahaya ribuan lilin kristal di aula itu tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi, memancarkan aura kemewahan dan intrik.
✨🍁✨
Kereta-kereta berdatangan satu per satu di gerbang depan, masing-masing membawa penumpangnya menuju pusat kemegahan. Seorang kusir dengan seragam mewah berteriak lantang, "Keluarga Elmsworth tiba!"
Para tamu turun dengan anggun dari kereta, gaun sutra berkilauan dalam cahaya lentera, mantel beludru terasa lembut di kulit. Langkah mereka mantap di atas lantai batu yang dihiasi bunga segar, senyum mereka sopan dan ramah, namun setiap sorot mata menyimpan perhitungan yang tersembunyi. Di Velmora, setiap pesta adalah panggung, bukan sekadar hiburan; setiap senyum adalah topeng, bukan sekadar ekspresi.
Sebuah kereta hitam legam berhenti dengan suara derit yang memecah kesunyian malam. Dari dalamnya, seorang pemuda turun: Aurelian Ashbourne. Namanya saja sudah cukup membuat para pelayan menunduk hormat dan para bangsawan menajamkan pandangan mereka.
"Ashbourne," gumam seorang bangsawan tua dengan nada mencela, "Selalu datang dengan gaya yang khas."
Aurelian, pewaris keluarga Velmora, dikenal luas di seluruh negeri. Ia muda, tampan, namun bukan sekadar perhiasan bangsawan yang bisa dipamerkan. Sosoknya tegap dan berwibawa, sorot matanya tajam dan jarang memperlihatkan isi hatinya yang sebenarnya. Rambut hitamnya terikat rapi ke belakang, menonjolkan garis wajahnya yang dingin dan tak tersentuh.
Ia mengenakan mantel panjang kelam dengan bordir perak yang rumit di tepiannya, lambang keluarganya tersemat dengan bangga di dada kiri. Kesederhanaannya justru memancarkan wibawa yang tak tertandingi, sebuah pernyataan halus tentang kekuasaan yang tak perlu dipertontonkan.
Seorang wanita muda menyusul turun dari kereta, kehadirannya bagaikan sinar matahari di tengah kegelapan malam. Gaun merah muda lembut membalut tubuhnya dengan sempurna, dihiasi sulaman perak yang berkilauan dalam cahaya lentera. Rambut panjangnya ditata dengan sisir kristal, membentuk air terjun yang mempesona di punggungnya. Wajahnya cantik dengan senyum terlatih, senyum yang bisa memikat siapa saja, namun juga menegaskan kepemilikan dengan keanggunan yang dingin.
Beberapa tamu berbisik, kagum sekaligus iri dengan pemandangan yang mereka saksikan.
"Cantik sekali… siapa dia?"
"Lihat, ia berjalan begitu anggun di sisi pewaris Velmora."
"Pasangan yang sempurna," bisik seorang wanita dengan nada sinis.
Wanita itu menggandeng lengan Aurelian dengan erat, langkahnya mantap menapaki karpet marmer yang membentang menuju aula. Beberapa bangsawan berbisik lirih, nyaris bersamaan:
"Itu Altheira… putri keluarga Caerwyn."
Maka jelaslah bagi semua yang hadir: malam ini, pasangan itu akan menjadi pusat perhatian, objek kekaguman dan intrik yang tak terhindarkan.